PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI mencatat sebanyak 24 korban insiden tabrakan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur masih dirawat di rumah sakit per Sabtu, 2 Mei 2026. Sedangkan, 76 korban telah kembali ke rumahnya masing-masing.
Vice President Corporate Communication PT KAI Anne Purba mengatakan pihaknya akan terus mendampingi para korban dan keluarganya selama masa pemulihan. “Kami memastikan kebutuhan selama perawatan terpenuhi, serta menghadirkan layanan trauma healing agar proses pemulihan dapat berjalan lebih tenang,” kata dia melalui keterangan pers, Sabtu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Anne mengatakan posko informasi yang disediakan PT KAI akan terus dibuka hingga 11 Mei 2026. Posko ini memberi pelayanan kesehatan lanjutan, koordinasi administrasi, hingga trauma healing bagi korban dan keluarganya. Posko itu, kata dia, juga melayani para penumpang yang merasa kehilangan barang dalam insiden itu.
Di sisi lain, polisi masih terus menyelidiki dugaan kelalaian dalam kasus kecelakaan antarkereta itu. Polisi juga mendalami peristiwa tabrakan antara KRL jurusan Kampung Bandan-Cikarang dengan taksi listrik Green SM yang diduga menjadi pemicu awal tabrakan kereta.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan pihaknya telah memeriksa tujuh saksi dari PT KAI untuk mendalami peristiwa yang menewaskan 16 orang itu.
Saksi itu telah menjalani pemeriksaan pada Kamis, 30 April 2026. Mereka yang diperiksa yakni pertama, Kepala Pusat Pengendalian; kedua, Pengatur Perjalanan Kereta Api atau PPKA; lalu, ketiga petugas sinyal.
Kemudian, keempat masinis KRL; kelima masinis Argo Bromo Anggrek; dan yang ketujuh pengendali. “Pemeriksaan tujuh petugas kereta api itu bertujuan untuk mendalami dugaan kelalaian manusia dalam peristiwa kecelakaan itu,” ujar Budi, Sabtu.
Selain memeriksa petugas kereta, polisi juga memeriksa sopir taksi Green SM berinisial RRP. Menurut Budi, saat insiden terjadi, sopir baru bekerja selama dua hari. Dia juga baru menerima pelatihan dasar soal pengenalan kendaraan listrik.
Adapun, tabrakan antarkereta terjadi di perlintasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 20.57 WIB. Saat itu, KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Insiden bermula ketika sebuah taksi online Green SM mengalami korsleting listrik di tengah perlintasan kereta, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Polri Komisaris Sandhi Wiedyanoe mengatakan peristiwa itu memicu tabrakan awal di jalur.
“Terjadilah tabrakan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan tersebut,” ujar Sandhi.
Akibat insiden itu, perjalanan KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Nahas, pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang di jalur yang sama. “Kecepatan 110 kilometer per jam,” kata Sandhi.
Badan KA Argo Bromo Anggrek menembus badan KRL hingga membelah gerbong khusus wanita. Puluhan penumpang yang berada di dalam gerbong itu menjadi korban setelah terhimpit badan kereta.
















































