69 Persen Konsumen Yakin dengan Suplemen yang Dikonsumsinya

1 hour ago 5

STUDI terbaru Herbalife menyebutkan bahwa 92 persen masyarakat di kawasan Asia Pasifik sudah paham bahwa upaya preventif berperan penting bagi kesejahteraan secara keseluruhan. Menurut Director, Research Development and Scientific Affairs, Asia Pacific, Herbalife Alex Teo para responden dengan sadar memilih makanan yang lebih sehat, berolahraga, serta mengonsumsi suplemen kesehatan sebagai upaya preventif kesehatannya. "Saat ini, suplemen dipandang sebagai cara untuk mendukung kesehatan secara umum, meningkatkan imunitas, serta membantu individu mencapai tujuan kesehatannya. Tidak jarang dokter, ahli gizi, perusahaan layanan kesehatan, bahkan teman, merekomendasikan penggunaan suplemen,” kata Teo dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 30 April 2026.

Survei Herbalife terhadap 9 ribu konsumen di 11 pasar pada Mei 2025 menunjukkan bahwa hampir sembilan dari sepuluh atau sekitar 88 persen konsumen di Indonesia mengonsumsi suplemen secara rutin. Namun demikian, hanya 69 persen responden yang menyatakan yakin bahwa mereka telah mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam memilih suplemen.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pengambilan keputusan suplemen yang bertanggung jawab berarti memiliki pemahaman menyeluruh mengenai komposisi bahan dalam produk, kualitas produk, dosis yang direkomendasikan, batas konsumsi, serta potensi interaksi dengan suplemen atau obat lain. "Tanpa pengetahuan yang memadai, konsumen dapat mengalami kesulitan untuk memperoleh manfaat suplementasi yang aman dan efektif, sekaligus memperkuat upaya kesehatan preventif mereka,” tambah Teo.

Kesenjangan Pengetahuan Konsumen

Untuk mengatasi tantangan ini, penting untuk memahami di mana letak kesenjangan pengetahuan konsumen terkait suplemen. Di berbagai kelompok usia, studi Herbalife menemukan bahwa konsumen belum memahami secara jelas cara mengonsumsi suplemen dengan aman dan efektif. Hal yang mengkhawatirkan, mereka juga tidak mengetahui dosis yang tepat maupun batas maksimum konsumsi suplemen, terutama ketika mengonsumsi kombinasi beberapa suplemen sekaligus.

Menurut Teo, hasil studi menunjukkan bahwa setengah dari responden kelompok Boomer di Asia Pasifik mengonsumsi suplemen setiap hari, namun hanya 30 persen yang memperhatikan pentingnya pengambilan keputusan yang tepat, menjadikan mereka kelompok yang paling kurang peduli. Selain itu, tingkat kepercayaan diri mereka juga paling rendah, dengan hanya 42 persen yang merasa yakin terhadap keputusan penggunaan suplemen mereka dibandingkan kelompok usia lainnya. Sebaliknya, Gen Z merupakan kelompok yang paling percaya pada pentingnya pengambilan keputusan yang tepat (47 persen) dan paling percaya diri (58 persen) dalam kemampuan mereka memilih suplemen dengan baik.

Area lain yang menjadi perhatian adalah kurangnya pengetahuan konsumen mengenai interaksi antara suplemen dan obat yang dikonsumsi. Sebagai contoh, St. John’s Wort berpotensi menurunkan efektivitas obat-obatan seperti warfarin dan beberapa jenis statin. Contoh lain adalah konsumsi suplemen kalsium yang umum digunakan untuk membangun dan menjaga kekuatan tulang. Asupan yang berlebihan dapat menyebabkan hiperkalsemia, yaitu kondisi ketika kadar kalsium dalam darah terlalu tinggi, yang dapat mengakibatkan tulang melemah dan terbentuknya batu ginjal. Survei Herbalife menunjukkan bahwa 62 persen responden di Indonesia tidak mengetahui batas maksimum harian konsumsi kalsium, sementara 73 persen tidak memahami dampak dari konsumsi kalsium secara berlebihan.

Tanggung Jawab Bersama sebagai Kunci

Responden di Indonesia menyadari bahwa mereka memiliki peran penting, dengan 90 persen mengakui pentingnya mengambil keputusan yang tepat. Namun, isu ini bukan hanya menjadi tanggung jawab konsumen semata, melainkan juga melibatkan penyedia suplemen. “Walaupun saat ini konsumen memiliki akses informasi yang luas, pengambilan keputusan suplemen yang tepat tetap memerlukan upaya yang tidak sedikit. Konsumen perlu membaca label dengan cermat, melakukan riset mandiri, serta mencari panduan dari sumber yang kredibel,” ujar Teo.

Sejalan dengan itu, konsumen juga membutuhkan peran yang lebih proaktif dari para profesional terpercaya yang mengedepankan pendekatan berbasis ilmiah dalam suplementasi. Survei itu menyebutkan 63 persen konsumen di Indonesia 63 persen mengandalkan dokter atau ahli gizi dalam proses pengambilan keputusan terkait suplemen. Namun ternyata masih banyaj pula konsumen yang belum melakukannya.

Oleh karena itu, berbagai pihak memiliki peran penting. Konsumen perlu secara aktif mencari informasi dan saran yang tepat, tenaga kesehatan harus memberikan rekomendasi berbasis ilmiah, dan penyedia suplemen wajib menghadirkan pelabelan yang jelas serta komunikasi yang transparan terkait cara konsumsi yang aman. Untuk mendukung hal tersebut, pengendalian kualitas produk yang ketat, validasi, serta jaminan keamanan dan efektivitas harus menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap suplemen.

Berdasarkan studi Herbalife, konsumen meyakini bahwa suplementasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, yang menegaskan pentingnya memastikan bahwa suplemen yang tepat dikonsumsi dengan cara yang benar. Untuk mendorong hasil kesehatan yang lebih baik, Teo menilai penyedia suplemen perlu bekerja sama erat dengan konsumen dalam mendukung tujuan kesehatan mereka. Perusahaan nutrisi dapat memainkan peran yang lebih besar sebagai pemimpin pemikiran di bidang nutrisi, sementara edukasi kepada konsumen terkait suplemen perlu terus ditingkatkan agar mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik. "Upaya ini akan membuka jalan bagi penerapan suplementasi yang bertanggung jawab sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat di seluruh kawasan, sehingga membantu mereka menjaga kesehatan dalam jangka panjang,” kata Teo.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |