Buruh Bawa Anak saat Demo May Day: Kenalkan Isu Agraria

1 hour ago 11

PIMPINAN Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Titi Suhada turut serta dalam massa aksi dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 yang digelar di depan Kompleks DPR/ MPR RI. Saat ditemui, ia tampak berteduh di bawah pohon rindang yang berada dekat lokasi untuk menghindari terik matahari.

Duduk di pangkuannya, anak perempuan berusia lima tahun yang tampak sibuk memainkan jemarinya. “Ini anak saya, sengaja saya ajak agar memahami situasi sebenarnya, bagaimana situasi petani, bagaimana situasi mahasiswa,” kata Titi pada Jumat, 1 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Titi mengaku tidak pernah menitipkan anak semata wayangnya itu ke tangan orang lain saat turun aksi atau sekadar memimpin diskusi-diskusi aliansi. Ia memilih mengajak putrinya, Lanin, untuk turun ke jalan.

Perempuan berhijab itu menginginkan putrinya tidak merasa asing dengan perjuangan yang dilakukan di lingkungan dan aliansi yang ia pimpin. AGRA sendiri merupakan organisasi massa yang aktif menyuarakan aspirasi rakyat, termasuk isu-isu perburuhan dan reforma agraria.

“Walaupun anak saya belum memahami secara keseluruhan, tapi, misalnya, dia mendengar yel-yel organisasi dia langsung tahu,” tutur Titi.

Titi mengatakan, keputusan mengajak putrinya turun aksi juga didukung oleh suaminya yang juga merupakan petinggi AGRA. Mereka ingin sang buah hati bisa menyaksikan secara langsung isu-isu yang ada dan merasa dekat dengan masyarakat yang terdampak.

“Ini loh orang-orang yang digusur, kayak gini loh perjuangannya. Ini loh petani-petani yang kehilangan tanahnya. Kayak gini loh perjuangannya,” ucapnya.

Meski begitu, ia mengatakan putrinya tetap selayaknya anak kecil usia lima tahun pada umumnya. Tidak jarang Lanin mengeluh lelah atau kepanasan saat ikut ibunya turun ke jalan menyuarakan aspirasi. “Kayak anak-anak pada umumnya. Banyak jajannya juga,” katanya diikuti tawa.

Pergerakan massa buruh pada peringatan May Day 2026 tidak hanya terkonsentrasi di kawasan Monumen Nasional (Monas) bersama Presiden Prabowo Subianto saja. Pada siang hari, ribuan buruh dari sejumlah elemen buruh juga menggelar unjuk rasa di depan gedung wakil rakyat DPR/ MPR RI di Senayan, Jakarta Pusat.

Dari pantauan Tempo di lapangan, terdapat beragam serikat buruh dan lembaga swadaya masyarakat yang turut merapat ke DPR menjelang pukul 14.00 WIB. Di antaranya, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Greenpeace Indonesia, sejumlah serikat petani, hingga Aliansi Jurnalis Independen atau AJI Jakarta.

Pagi harinya, Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR menerima sejumlah organisasi buruh yang tergabung di Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) pada peringatan May Day di Gedung Abdul Muis, Parlemen, Jakarta. 

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad memimpin pertemuan tersebut. Ketua Harian Partai Gerindra itu didampingi Wakil Ketua DPR Saan Mustopa, Ketua Komisi III DPR Habiburokhman, Wakil Ketua Komisi IX DPR Sari Putih, dan anggota Komisi IX DPR Obon Tabroni.

Pada May Day 2026 ini, Gebrak membawa 10 tuntutan bagi DPR dan pemerintah. Tuntutan itu antara lain:

  1. Segera wujudkan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang pro pekerja;
  2. Reformasi sistem pengupahan dan hilangkan disparitas upah: berlakukan upah layak nasional yang adil dan bermartabat bagi kaum buruh; 
  3. Jamin kepastian kerja dengan menghapus outsourcing, kerja kontrak, kemitraan palsu, dan pemagangan eksploitatif;
  4. Segera ratifikasi Konvensi ILO 188-190, jamin dan lindungi buruh perempuan hingga disabilitas; 
  5. Sejahterakan tenaga pendidik, dosen, pekerja platform, pekerja medis dan kesehatan;
  6. DPR dan pemerintah juga mesti menghentikan praktik PHK masal dan pemberangusan serikat buruh; 
  7. Wujudkan pendidikan gratis, kesehatan gratis dan berkualitas; 
  8. Tegakan supremasi sipil, jaga demokrasi, stop militerisme, stop kriminalisasi gerakan rakyat, serta bebaskan aktivis yang di tangkap.
  9. Jalankan reforma agraria sejati, hentikan penggusuran tanah rakyat; 
  10. Hentikan perang sebagai bentuk solidaritas untuk kedaulatan rakyat Palestina, Iran, Venezuela, Cuba, dan lainnya.
Novali Panji Nugroho dan Andi Adam Faturahman berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |