Genap Berusia 50 Tahun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Banjir Ucapan dari Para Sopir Truk Tebu di Sragen

14 hours ago 20
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, merayakan ulang tahunnya yang ke-50 pada Jumat (7/8/2026). Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, merayakan ulang tahunnya yang ke-50 pada Jumat (7/8/2026).

Momentum separuh abad ini disambut hangat oleh jajaran pengurus partai, tokoh masyarakat, hingga kader Partai Golkar di berbagai daerah. ​Berbagai ucapan selamat dan doa mengalir bagi pria kelahiran 7 Agustus 1976 tersebut.

​Terpisah, ucapan berbeda justru datang dari para sopir truk muatan tebu di Sragen. Di hari ulang tahun Menteri Bahlil justru banjir curhatan soal kelangkaan dan rumitnya distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di wilayah Solo Raya bikin para sopir truk menjerit.

Sering terlihat armada truk terpaksa parkir di SPBU. Bukan untuk sekadar melepas lelah, melainkan memburu literan solar yang makin hari makin sulit didapat.

Keluhan itu disampaikan Andi atau sering dipanggil Doko sopir truk asal Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen. Ia menyampaikan untuk mendapatkan solar harus menunggu waktu yang tepat, bahkan jika lewat jam tertentu tidak mendapatkan solar.

“Kalau di sragen sulit harus angon jam, kalau gak nunggu jam kita ngak dapat solar. Biasanya jam 12 sampai jam 3 sore belum ada, kalau malam jam 9 sampai 10 malam kadang juga ngak ada, Sragen banyak tidak ada sampai ke arah mantingan,” Kata Andi Doko pada JOGLOSEMARNEWS.COM Jumat (7/8/2026).

Keluhan senada juga disampaikan oleh Eko (35) seorang sopir truk angkut tebu asal Grompol, Masaran, Sragen. Menurutnya, penderitaan memburu solar ini sudah berlangsung cukup lama dan tak kunjung mendapat solusi konkret.

​”Sudah hampir sembilan bulan lebih solar susah didapat. Antrean paling cepat itu bisa sejam, itu pun kalau stoknya ada,” ujar Eko saat ditemui di sela-sela aktivitas antrian setor tebu di PG Mojo Sragen beberapa waktu lalu.

​Eko menceritakan, kelangkaan solar merata di hampir seluruh kawasan Solo Raya mulai dari Sragen, Karanganyar, Solo, hingga Klaten. Kondisi makin parah ketika memasuki sore hari. Mayoritas SPBU sudah memasang papan pengumuman bahwa stok solar telah ludes.

​Di Sragen sendiri, solar biasanya hanya tersedia di beberapa SPBU besar seperti SPBU Ngangon dan SPBU Paldaplang. Namun, pasokannya kerap tak sebanding dengan membludaknya antrean kendaraan logistik dan angkutan tebu yang sedang memasuki puncak musim giling.

​”Kalau pas jam sore, biasanya sudah habis semua di tiap pom. padahal untuk sekali jalan rute Sragen ke Jogja, setidaknya butuh solar sekitar Rp350 ribu,” tambahnya.

​Masalah tak berhenti pada kelangkaan fisik solar semata. Mekanisme pembelian menggunakan sistem barcode (QR Code) serta adanya pembatasan kuota pembelian harian kian menyulitkan pergerakan armada angkutan.

​Eko menyebut, pembatasan nominal pembelian berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp240 ribu per armada membuat para sopir tak bisa mengisi tangki hingga penuh untuk perjalanan jarak jauh. Akibatnya, efisiensi kerja merosot tajam.

Dalam sehari, para sopir rata-rata hanya sanggup menyelesaikan satu kali pengiriman (rit) dari lokasi perkebunan menuju pabrik gula atau titik distribusi. ​Kondisi ini memukul perekonomian para pekerja sektor transportasi bawah yang menggantungkan hidup harian dari kelancaran arus barang.

Melihat kondisi distribusi yang kian ruwet dan menyulitkan orang kecil, Eko pun melayangkan pesan terbuka yang menohok kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

​”Pak Bahlil, permudahkanlah solar! Biar rakyat dan sopir-sopir yang cari makan di jalan ini mudah dapat solar. Biar kami bisa cari makan dengan tenang,” tegas Eko menumpahkan kekecewaannya.

Dia menegaskan para sopir berharap pemerintah dan Pertamina segera menata ulang rantai distribusi solar subsidi, khususnya di kawasan sentra pertanian dan industri saat musim giling berlangsung, agar roda perekonomian wong kecil tetap berlangsung.

Sementara itu, Cosmas Edwi Yunanto Kepala Dinas Koperasi, UMKM Perindustrian dan Perdagangan Sragen menyampaikan saat ini kuota ditentukan.

“Sekarang kuota yang mengatur pertamina, masing masing SPBU yang mengatur kuota pertamina. Detqilnyq nanti saya cek lagi masing masing kuota tiap SPBU,” ujarnya. Huri Yanto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |