SEMBILAN gol dalam 90 menit pertandingan. Paris Saint-Germain (PSG) mengalahkan Bayern Munchen dengan skor 5-4 dalam leg pertama semifinal Liga Champions di Parc des Princes, Selasa, 29 April 2025. Kemenangan itu menempatkan PSG selangkah lebih dekat ke laga final di Budapest. Meski begitu, dengan keunggulan tipis satu gol, segala kemungkinan di leg kedua di Allianz Arena masih terbuka.
Laga berlangsung liar sejak peluit pertama. Khvicha Kvaratskhelia mencetak dua gol memukau untuk PSG, sementara Ousmane Dembele, peraih Ballon d'Or, juga menyumbang dua gol meski melewatkan sejumlah peluang emas. Di kubu Bayern, Harry Kane menambah koleksi golnya musim ini menjadi 54 lewat penalti, Michael Olise mencetak gol spektakuler, dan Luis Díaz menutup laga dengan gol yang memangkas ketertinggalan menjadi 5-4.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ini menjadi pertandingan dengan gol terbanyak dalam 90 menit sepanjang sejarah Liga Champions, kecuali kemenangan Bayern 8-2 atas Barcelona di perempat final 2019-20 yang dimainkan tanpa penonton di Lisbon akibat pandemi. Pelatih Bayern Vincent Kompany menyaksikan laga dari tribun akibat larangan mendampingi tim di pinggir lapangan.
Meski timnya kebobolan lima gol tandang, Kompany tidak melihat itu sebagai bencana. "Biasanya setelah kebobolan lima gol tandang di Liga Champions, kamu sudah tersingkir," kata Kompany seusai pertandingan, dikutip dari laman resmi Bayern Munchen. "Tapi kami menciptakan begitu banyak peluang sehingga seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol."
Kompany menegaskan Bayern Munchen akan mengeluarkan performa terbaik di leg kedua. "Kamu bisa tetap menyerang habis-habisan atau mundur ketika tertekan, tapi cara kedua tidak akan berhasil melawan pemain-pemain sekelas ini. Jadi kamu harus terus maju," ucap dia.
Pertandingan antara Paris Saint-Germain dan Bayern Munchen memperlihatkan benturan dua pendekatan yang berbeda. PSG tampil lebih agresif dengan 13 tembakan, namun Bayern justru menunjukkan efisiensi lebih tinggi lewat tujuh tembakan tepat sasaran serta keunggulan dalam penguasaan bola (54 persen) dan jumlah umpan (491 berbanding 390), menandakan kontrol permainan yang lebih rapi.
Meski demikian, akurasi umpan kedua tim relatif seimbang (86 persen berbanding 85 persen). Itu artinya perbedaan utama tidak terletak pada kualitas distribusi, melainkan pada ritme dan efektivitas serangan. PSG mengandalkan permainan cepat dan langsung untuk menciptakan tekanan, sementara Bayern lebih sabar membangun serangan dan memaksimalkan peluang yang ada.
Di balik tontonan memukau itu, pertanyaan serius mengemuka soal soliditas pertahanan kedua tim. Legenda AC Milan Clarence Seedorf, yang tampil sebagai analis TNT Sports, mengingatkan bahwa gelar tidak bisa diraih hanya dengan menyerang. Menurut dia, harus ada keseimbangan antara menyerang dan bertahan.
"Dulu bertahan adalah sebuah seni dan harus menjadi bagian dari permainan. PSG mencetak lima gol ke gawang salah satu tim terbaik dunia, tapi ketika final tiba, mereka bisa jadi hanya menonton dari rumah karena memberikan terlalu banyak menciptakan peluang," ujar pemenang Liga Champions empat kali bersama Ajax, Real Madrid, dan AC Milan itu. Tetapi, apa pun itu, PSG dan Bayern memainkan sepak bola ala para dewa di Parc des Princes.
Bayern Munchen. Shutterstock
Bagi Harry Kane, malam itu menjadi bukti karakter permainan dan mentalitas Bayern Munchen. "Ada sembilan gol hari ini, tapi selisihnya hanya satu gol dan kami sekarang pergi ke Allianz," kata pernyerang Bayern Munchen kepada TNT Sports. "Ada banyak kebanggaan bisa kembali ke 5-4, karena kami berjuang, berjuang, dan terus berjuang."
Sementara itu, pelatih PSG Luis Enrique tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya seusai timnya menundukkan Bayern Munchen. "Ini luar biasa, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Saya pikir itu adalah pertandingan terbaik yang pernah saya alami sebagai pelatih," kata Enrique, dikutip dari ESPN.
Enrique menekankan bahwa kemenangan itu tidak datang kebetulan. Ia mengingatkan bahwa Bayern hanya kalah tiga kali dari 50 pertandingan musim ini. "Itu menunjukkan betapa baiknya penampilan kami," ujarnya.
Kapten PSG Marquinhos meminta timnya tidak terlena. "Kami harus pergi ke sana dengan mentalitas dan karakter yang sama agar bisa menyelesaikan pekerjaan luar biasa ini," kata Marquinhos. "Ini gila, dua tim yang bermain serupa, agresif dan intens."
Adapun Ousmane Dembele menegaskan PSG tidak akan mengubah pendekatan permainannya pada leg kedua. "Kami tidak akan mengubah filosofi kami. Kamu juga harus bisa menderita dalam semifinal Liga Champions dan itulah yang akan kami persiapkan untuk leg kedua," kata dia. Leg kedua semifinal digelar di Allianz Arena, Munchen, Rabu, 7 Mei 2025.
















































