REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Upaya Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina kembali berhadapan dengan persoalan yang sejak awal sulit dijembatani: wilayah. Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, mengatakan sebagian besar kerangka kesepakatan damai telah disusun, tetapi perselisihan mengenai wilayah yang harus dilepaskan Ukraina masih menghambat tercapainya persetujuan akhir.
Pernyataan itu disampaikan Kushner dalam pertemuan tahunan Yalta European Strategy (YES 2026) di Kyiv pada akhir pekan 11–12 September 2026. Forum tersebut berlangsung setelah Kushner bersama utusan AS lainnya, Steve Witkoff, menjalankan rangkaian diplomasi ke Moskow dan Kyiv untuk mencoba menghidupkan kembali proses perundingan yang sempat tersendat.
Kushner mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyampaikan kepada delegasi AS batas teritorial yang ingin dicapai Moskow. The Kyiv Independent mengutip Kushner mengatakan, “Presiden Putin telah menetapkan garis yang ingin ia capai.” Kushner kemudian mengatakan Ukraina saat ini belum bersedia menarik pasukannya hingga garis tersebut.
Namun, belum ada penjelasan publik yang terperinci mengenai koordinat atau peta dari apa yang disebut Kushner sebagai “garis” Putin. The Kyiv Independent menilai Kushner tampaknya merujuk pada tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan wilayah di Donbas yang masih dikuasai Kyiv. Karena itu, pernyataan bahwa sebuah kesepakatan tinggal menunggu konsesi wilayah Ukraina merupakan penilaian Kushner terhadap proses negosiasi, bukan kesepakatan yang telah diterima oleh Kyiv dan Moskow.
Interfax-Ukraine memberikan konteks lebih luas terhadap pernyataan tersebut. Menurut laporan kantor berita itu, Kushner mengakui delegasi AS belum menemukan kesamaan pandangan antara Rusia dan Ukraina mengenai bentuk akhir penyelesaian perang.
“Persoalan yang paling sulit, seperti sebelumnya, tetap persoalan wilayah,” kata Kushner seperti dikutip Interfax-Ukraine. Ia menilai perkembangan situasi di medan perang ikut memengaruhi perundingan karena kondisi militer terus berubah.
Isu itu menjadi sangat sensitif karena Moskow menuntut konsesi atas wilayah yang bahkan belum seluruhnya direbut pasukan Rusia melalui operasi militer. Donbas, yang terdiri atas wilayah Donetsk dan Luhansk, tetap menjadi pusat perbedaan posisi kedua pihak. Rusia menuntut Ukraina melepaskan wilayah tersebut, sedangkan Kyiv menolak menyerahkan wilayah yang masih berada di bawah kendalinya. Reuters pada 13 September juga melaporkan Moskow tetap menginginkan konsesi Ukraina di Donbas, sementara Kyiv menolak tuntutan tersebut.
Ukraina selama ini lebih memilih penghentian tembak-menembak berdasarkan posisi garis depan yang ada dan meminta jaminan keamanan dari negara-negara Barat untuk mencegah serangan Rusia kembali terjadi. The Kyiv Independent melaporkan pendekatan itu berbeda dengan posisi Kremlin yang meminta Kyiv menyerahkan wilayah Donbas yang belum seluruhnya dikuasai pasukan Rusia.
Situasi tersebut membuat diplomasi AS berada pada titik rumit. Menerima tuntutan Rusia dapat dipandang Kyiv sebagai pemberian wilayah kepada negara yang melakukan invasi, sedangkan menolak membicarakan perubahan teritorial berpotensi membuat Moskow mempertahankan tuntutannya dan melanjutkan perang.
AS Dorong Perundingan Tiga Pihak
Di tengah kebuntuan tersebut, Washington ingin mengembalikan Rusia dan Ukraina ke meja perundingan bersama AS. Kushner mengatakan pertemuan langsung tiga pihak dinilai lebih produktif dibandingkan diplomasi bolak-balik antara Moskow dan Kyiv.
“Kami berharap dalam waktu dekat dapat membahasnya dalam perundingan trilateral,” ujar Kushner, sebagaimana dilaporkan Interfax-Ukraine. Washington disebut sedang bekerja untuk mengatur format tersebut.
Upaya itu mendapatkan momentum setelah Witkoff dan Kushner melakukan perjalanan ke Moskow pada 5 September dan bertemu Putin, kemudian melanjutkan kunjungan ke Kyiv pada 6 September. Reuters melaporkan kedua utusan tersebut membawa sejumlah gagasan baru yang kemudian dibahas dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Zelenskyy sendiri tidak menolak seluruh gagasan yang dibawa Washington. Setelah pertemuan tersebut, ia mengatakan beberapa proposal AS cukup baik untuk dikaji lebih lanjut, tetapi belum dapat memastikan apakah gagasan itu dapat diwujudkan menjadi kesepakatan. Interfax-Ukraine melaporkan Kyiv berjanji mempelajari rincian paket perdamaian tersebut sebelum menyampaikan posisi akhirnya.
Belum adanya penolakan terhadap keseluruhan paket itu penting untuk membedakan dua persoalan. Ukraina masih bersedia menjalankan diplomasi dan membahas formula perdamaian, tetapi keberatan jika penyelesaian perang mensyaratkan penyerahan wilayah berdasarkan tuntutan Rusia.
Reuters melaporkan Kyiv bahkan tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan trilateral pada Oktober. Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina Kyrylo Budanov menyatakan persiapan sedang berlangsung, meski Kremlin belum memastikan jadwal maupun tempat pembicaraan berikutnya.

5 hours ago
23
















































