Media di ASEAN Ingatkan Ancaman AI dan Perusahaan Teknologi

1 hour ago 8

SEJUMLAH media independen di Asia Tenggara membuat pernyataan bersama pada Hari Kebebasan Pers Sedunia, 3 Mei 2026. Dalam manifestonya, mereka menyoroti platform media sosial yang cenderung menyembunyikan karya jurnalistik sehingga menjauhkan khalayak dari berita yang terverifikasi.

Aliansi media ini juga mengkritik kendali monopolistik perusahaan teknologi besar terhadap lanskap digital dan data audiens yang berakibat pada rusaknya model ekonomi jurnalisme. Demikian halnya pengambilan konten jurnalistik oleh perusahaan berbasis akal imitasi (AI) tanpa memberikan kompensasi kepada media.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Manifesto ini juga mengajak masyarakat yang peduli pada kepentingan publik untuk bekerja sama dalam membangun ruang digital yang sehat dan adil, yang saat ini banyak dikendalikan oleh platform besar. Misalnya dengan mendorong perusahaan-perusahaan teknologi tersebut menerapkan algoritma yang transparan yang dirancang untuk melayani kebutuhan informasi publik.

Media yang membubuhkan tanda tangannya dalam manifesto ini berasal dari Filipina, Malaysia, Kamboja, Myanmar, dan Indonesia.

Berikut pernyataan lengkapnya:

Manifesto Hari Kebebasan Pers Sedunia: Mari membangun internet sebagai tempat manusia berkembang

Ketika krisis atau konflik terjadi, jurnalis dan ruang redaksi berada di garis depan untuk menyampaikan informasi yang dibutuhkan publik dalam mengambil keputusan penting.

Namun saat ini jurnalis dan organisasi media di seluruh dunia terjebak dalam krisis. Krisis ini berlangsung di depan mata kita, tapi senyap, di sela-sela berita tentang peristiwa lain.

Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia ini, kami, media independen, menyoroti perubahan besar di ruang digital yang menghambat arus informasi terverifikasi kepada publik dan menyebabkan kelangsungan hidup media semakin terancam.

Pertama, platform teknologi besar yang menjadi rujukan miliaran orang untuk mencari informasi dan fakta kini menerapkan algoritma yang menyembunyikan informasi dan fakta. Ketika Meta menurunkan prioritas konten berita di linimasa pengguna Facebook, hal ini menyebabkan masyarakat semakin sulit menemukan jurnalisme di platform tersebut. Kondisi ini membuat media terputus dengan pembacanya.

Kedua, model ekonomi jurnalisme telah dirusak oleh kendali monopolistik perusahaan teknologi besar atas lanskap digital dan data audiens. Sementara itu, pengorek data berbasis AI mengambil konten jurnalistik tanpa memberikan kompensasi kepada penerbit, dan perubahan algoritma media sosial serta mesin pencari secara signifikan menurunkan visibilitas dan trafik berita.

Hal ini meningkatkan biaya operasional ruang redaksi yang sudah rentan sekaligus mempercepat penurunan pendapatan secara drastis. Hingga April 2026, lebih dari 76 persen total belanja iklan digital global dikuasai oleh perusahaan teknologi besar, dengan perusahaan seperti Facebook dan Google menyerap sebagian besar belanja tersebut.

Ketiga, meningkatnya disinformasi di dunia maya, yang diperkuat oleh deepfake berbasis AI, telah menjadikan internet sebagai ruang yang tidak sehat. Ini juga berdampak buruk bagi media karena informasi yang tidak dapat dipercaya menutupi informasi kredibel dan berkualitas, serta membuat masyarakat meragukan segala hal yang mereka lihat secara daring. Kepercayaan di internet pun semakin hilang.

Berbagai tantangan ini, bersama faktor lainnya, telah menyebabkan gelombang pemutusan hubungan kerja di industri berita, mendorong jurnalis meninggalkan profesinya, hingga membuat sejumlah media tutup.

Kita membutuhkan ruang digital yang memperkuat tersiarnya fakta dan informasi berkualitas tinggi, bukan menyembunyikannya. Kita membutuhkan ruang bagi masyarakat untuk menemukan informasi tanpa dibanjiri konten AI yang tidak berkualitas ataupun gelombang disinformasi.

Kami menyerukan solusi yang memungkinkan media independen yang berpihak pada kepentingan publik untuk berkembang dan tetap tangguh di tengah persaingan monopolistik dari perusahaan teknologi besar serta tekanan otoritarian.

Kami mendorong terciptanya ruang dengan algoritma yang transparan dan dirancang untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat, bukan semata-mata untuk keuntungan perusahaan teknologi.

Kami mengajak masyarakat yang peduli pada kepentingan publik untuk bekerja bersama dalam membangun ruang digital yang terbebas dari berbagai masalah internet yang dibentuk oleh platform teknologi besar.

Kami juga mengajak organisasi berita lain, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil untuk mengadopsi “kolaborasi radikal.” Hanya dengan bekerja sama dan menyatukan kekuatan, kita dapat merebut kembali internet untuk mendukung kehidupan manusia.

Penanda tangan:Daily Guardian (Filipina), Davao Today (Filipina), Mabuhay (Filipina), Mindanews (Filipina), Mountain Beacon (Filipina), Palawan News (Filipina), PressOne.PH (Filipina), Rappler (Filipina), SunStar Cebu (Filipina), Kiripost (Kamboja), Malaysiakini (Malaysia), Mizzima Media (Myanmar), Tempo (Indonesia)

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |