Berawal dari Kegelisahan, Zaskia Adya Mecca Membangun Ekosistem Aksi Kemanusiaan

9 hours ago 27

CANTIKA.COMJakarta Bagi figur publik, Zaskia Adya Mecca, aksi kemanusiaan bukan sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Sejak kecil, ia sudah memiliki ketertarikan terhadap sosok relawan. Rompi atau jaket volunteer yang dikenakan seseorang bahkan pernah ia lihat sebagai simbol rasa aman seseorang yang bersedia hadir dan membantu ketika orang lain membutuhkan. Namun, baru dalam beberapa tahun terakhir ia menemukan bentuk nyata dari keinginan tersebut.

Perhatiannya terhadap isu kemanusiaan semakin kuat sejak 2023, ketika situasi Palestina membuatnya mempertanyakan bagaimana manusia bisa menyaksikan penderitaan begitu besar tanpa melakukan sesuatu. Dari sana, Zaskia tidak hanya menggunakan media sosial untuk menyuarakan isu, tetapi juga mulai turun langsung ke berbagai wilayah terdampak krisis, mulai dari Palestina, Suriah, Yordania, Aceh, Bekasi, hingga Nusa Tenggara Timur.

Kini, melalui Rangkul Foundation, Zaskia berupaya membuat gerakan kemanusiaan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Baginya, membantu bukan sekadar mengirimkan bantuan ketika bencana terjadi, melainkan memahami kebutuhan masyarakat, hadir mendengarkan, membangun fasilitas, mendampingi proses pemulihan, hingga memastikan masyarakat perlahan dapat kembali mandiri. 

Melalui Apresiasi Swara Cantika 2026 kategori Suara Kreatif bidang Ekosistem Aksi Kemanusiaan Zaskia Adya Mecca berbagi pandangannya mengenai arti menjadi relawan, kekuatan media sosial, pentingnya kolaborasi, hingga alasan pendidikan menjadi salah satu fokus aksi kemanusiaannya.

Secara khusus Zaskia Adya Mecca berbincang dengan Cantika melalui daring, Rabu, 2 September 2026

Apa yang secara personal membuat Kak Zaskia begitu terdorong untuk terlibat dalam aksi kemanusiaan?

Zaskia Adya Mecca: Karena aku Muslim, Rasulullah pernah bilang bahwa Muslim satu dan Muslim lainnya itu bagaikan satu tubuh. Ketika ada satu Muslim yang tersakiti, Muslim yang lain seharusnya ikut merasakan sakit yang sama. Kalau kita satu tubuh, kaki kita kena duri saja dari ujung kepala sampai kaki kita ikut merasakan sakit.

Aku benar-benar merasakan hal seperti itu. Awalnya yang membuka mataku adalah Palestina. Terus terang, mataku baru benar-benar terbuka pada 2023. Aku melihat bagaimana ada kegilaan yang bisa dipertontonkan kepada seluruh dunia, tetapi seperti tidak ada yang bisa menghentikannya.

Aku juga jadi teringat ayat Al-Qur'an tentang manusia yang membuat kerusakan di muka bumi, tetapi mereka tidak menyadarinya. Dari kecil aku memang suka berpikir, sebenarnya kerusakan seperti apa yang dimaksud? Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa Allah menciptakan dunia dengan begitu indah dan segala kemudahan, tetapi manusia sendiri yang kemudian membuat kerusakan. Sebenarnya Palestina itu hanya awal yang membuka mataku.

Zaskia Adya Mecca aktif melakukan aksi kemanusiaan di Syiria/Foto: Instagram/Zaskia Adya Mecca

Sejak kapan keinginan untuk menjadi relawan itu muncul?

Zaskia Adya Mecca: Dari kecil aku memang melihat orang yang memakai jaket volunteer itu keren. Aku merasa orang dengan jaket volunteer seperti safe place. Kalau ada seseorang memakai jaket itu, rasanya aku bisa datang dan minta tolong. Aku tahu orang itu akan dengan senang hati bertanya, “Apa yang bisa aku bantu?” 

Dari SD sampai SMP dan SMA, kalau ditanya cita-cita, aku selalu menulis ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Tapi kalau ditanya mau menjadi apa, aku tidak pernah bisa menjawab. Akhirnya lima tahun terakhir ini aku menemukan jawabannya. Oh, ternyata aku ingin menjadi relawan. Aku ingin hidupku bisa membantu banyak orang. 

Alhamdulillah, aku punya platform yang cukup besar di Instagram. Ternyata aku bisa mengumpulkan orang, menggalang dana, sekaligus meningkatkan awareness. Sejak 2023 aku berjanji kepada diri sendiri bahwa aku mau hidup untuk mengurus orang lain. Allah sudah memberikan begitu banyak kemudahan dalam hidupku. Rasanya semua sudah lebih dari cukup.

Buat aku, semua kemudahan itu bukan sekadar privilege yang harus aku nikmati bersama keluarga. Aku juga harus give back to community.

Apa yang kemudian melatarbelakangi pembentukan Rangkul Foundation?

Zaskia Adya Mecca: Aku pernah dikecewakan oleh salah satu NGO besar yang ternyata tidak amanah. Karena aku tahu suaraku di media sosial bisa memengaruhi banyak orang, aku merasa punya tanggung jawab ketika mengajak orang berdonasi.

Aku takut kalau aku bilang, “Yuk, kita galang dana di lembaga A, B, C,” kemudian ternyata lembaga tersebut tidak amanah. Aku merasa harus bertanggung jawab terhadap uang yang orang titipkan melalui suaraku.

Akhirnya aku membuat yayasan sendiri, namanya Rangkul Foundation. Bukan karena aku merasa paling bisa, tetapi karena aku tahu, aku yakin, dan aku siap mempertanggungjawabkan ke mana uang itu digunakan, baik di dunia maupun di akhirat.

Aku juga sengaja tidak menggunakan namaku karena uang yang terkumpul itu bukan uangku. Dulu ketika galang dana, namanya selalu Zaskia Adya Mecca. Ketika melihat nama sendiri ada di mana-mana, padahal itu uang yang dikumpulkan bersama-sama, hatiku kurang nyaman. Makanya aku ingin menghilangkan nama pribadi dan menggunakan nama yang lebih merepresentasikan gerakannya.

Selama terlibat dalam berbagai respons bencana, apa yang paling Kak Zaskia pelajari tentang kebutuhan masyarakat dalam situasi krisis?

Zaskia Adya Mecca: Aku sudah ke Suriah ketika masih perang, Palestina, Yordania, Bekasi, Aceh, NTT, dan beberapa tempat lainnya. Hal pertama yang selalu mereka sampaikan ketika aku datang ternyata bukan, “Kamu bawa apa?” atau “Berapa banyak bantuan yang kamu bawa?” Mereka justru bilang, “Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah checking on us. Kami jadi tahu bahwa kami diperhatikan dan kami tidak sendirian.”

Itu yang sangat membuka mataku. Kadang aku membawa bantuan banyak, lima truk misalnya. Tetapi ketika sampai di posko terakhir, bantuan yang tersisa sudah tidak sebanyak itu. Mereka tetap bilang tidak apa-apa. Mereka hanya ingin ada yang datang. Jadi ternyata kehadiran kita saja sudah memiliki arti yang besar.

Berarti kebutuhan masyarakat dalam situasi krisis bukan hanya bantuan materi?

Zaskia Adya Mecca: Betul. Kadang NGO atau orang datang membawa dua atau tiga truk bantuan ke satu titik, tetapi lupa bahwa ada orang-orang yang juga butuh didengarkan.Kalau aku datang ke suatu titik dan melihat ibu-ibu sedang tersenyum, kadang aku hanya melihat dia sebentar atau mengusap bahunya. Aku bisa bilang, “Aku tahu kamu sebenarnya capek. Kamu berusaha kuat untuk semua ini.” Biasanya mereka langsung menangis.

Kadang orang hanya butuh duduk dan ditanya, “Bagaimana rasanya? Apa yang kamu inginkan?” Mereka butuh didengar, butuh bercerita, bahkan kadang hanya butuh dipeluk.

Zaskia Adya Mecca membangun ekosistem bantuan kemanusiaan melalui Rangkul Foundation/Foto; Instagram/Zaskia Adya Mecca

Seberapa penting teknologi dan jejaring dalam membuat aksi kemanusiaan bisa bergerak cepat?

Zaskia Adya Mecca: Penting dan besar banget. Aku bahkan mengirim tim ke NTT satu hari setelah gempa. Tim yang aku berangkatkan juga biasanya orang-orang yang memahami media sosial. Karena berita bencana itu sering kali hanya ramai di awal. Padahal masa recovery panjang, tidak selesai dalam satu atau dua minggu.

Media sosial membantu kita menyebarkan awareness bahwa masalahnya masih ada. “Ini masih terjadi, mereka masih membutuhkan perhatian.”

Itu juga alasan aku terkadang memilih turun langsung, meskipun lokasinya tidak aman. Ketika aku turun langsung, value beritanya bisa lebih besar dibandingkan ketika tim yang tidak dikenal yang datang. Bukan karena aku ingin dipuji atau dilihat paling banyak bergerak, tetapi karena ketika aku datang, awareness-nya bisa menjadi lebih luas.

Misalnya Aceh. Orang bisa merasa Aceh sudah selesai karena pemberitaannya tidak lagi ramai. Padahal masih ada orang yang tidur di tenda, rumah belum selesai, sekolah belum dibangun. Tugas kita sebagai relawan adalah mengabarkan bahwa perjuangannya belum selesai.

Seberapa besar kekuatan platform digital dalam membangun gerakan kemanusiaan?

Zaskia Adya Mecca: Besar banget. Kita bisa melihat bagaimana gerakan melalui platform digital mampu mengumpulkan dana dalam waktu sangat cepat. Menurutku, gerakan relawan mandiri juga bisa memiliki efek yang cepat dan nyata. Pemerintah tidak perlu merasa tersaingi oleh lembaga-lembaga mandiri. Justru kami bisa saling melengkapi.

Kalau pemerintah punya strategi dan koordinasi yang besar, relawan mandiri bisa bergerak mencari titik masing-masing. Kami juga saling berkomunikasi. Misalnya tim A sudah berada di titik tertentu, berarti tim lain bisa bergerak ke titik yang berbeda.Jadi jejaring itu penting sekali.

Bagaimana memastikan bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan?

Zaskia Adya Mecca: Harus ada tim yang melakukan asesmen. Aku sendiri biasanya tidak berangkat sebagai tim pertama. Tim pertama melakukan asesmen terlebih dahulu untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan. Setelah itu aku datang untuk evaluasi sekaligus membawa bantuan lanjutan. Kemudian ada tim ketiga untuk memastikan keberlangsungannya.

Ketika kami mendirikan posko, kami tidak bisa datang sekali, menurunkan bantuan, kemudian pulang. Kalau kami sudah menyebut itu posko kami, berarti kami harus membina titik tersebut sampai mereka bisa mandiri lagi. Di Aceh misalnya, tim kami sampai enam bulan tidak meninggalkan posko.

Seberapa penting kolaborasi antarrelawan, organisasi, dan komunitas dalam aksi kemanusiaan?

Zaskia Adya Mecca: Sangat penting. Ini bukan pekerjaan one-man show. Ketika turun ke daerah bencana, kita harus tahu siapa yang punya keahlian di bidang tertentu. Ada yang fokus pada trauma healing, tim dokter, pendidikan, pembangunan hunian, dapur umum, dan sebagainya.

Aku juga belajar dari lapangan bahwa relawan tidak boleh terpecah karena persaingan antarlembaga. Kita harus solid dan membagi tugas. Jangan semua ingin mengerjakan semuanya. Justru kalau masing-masing punya fokus, hasilnya bisa lebih lengkap.

Zaskia Adya Mecca turut terlibat dalam aksi kemanusiaan di Takengon, Desember 2025/Foto: Instagram/Zaskia Adya Mecca

Bagaimana Kak Zaskia membedakan bantuan darurat dengan upaya membangun perubahan yang berkelanjutan?

Zaskia Adya Mecca: Kita tidak harus mengambil semua titik. Lebih baik mengambil satu titik dan benar-benar mendampinginya. Di awal memang ada tahap bantuan dasar. Setelah itu mulai masuk ke pembangunan infrastruktur. Misalnya membuat hunian sementara, sekolah darurat, kemudian fasilitas umum.

Biasanya yang pertama aku bangun adalah fasilitas umum seperti masjid. Di sana masyarakat bisa belajar, beribadah, mengambil bantuan, bahkan menjadi tempat dapur umum. Setelah itu baru berkembang ke fasilitas lain seperti MCK dan kebutuhan lainnya. Jadi ada tahapan. Kita tidak hanya datang ketika bencana terjadi, tetapi memastikan masyarakat bisa perlahan kembali mandiri.

Zaskia juga konsisten menyuarakan kondisi Palestina. Mengapa isu kemanusiaan global ini tetap penting untuk terus disuarakan?

Zaskia Adya Mecca: Kalau semua orang merasa itu bukan urusan mereka, siapa yang akan bergerak membantu mereka? Kalau semua orang takut untuk bergerak dan turun langsung, siapa yang akan menolong?

Aku sendiri merasa gelisah ketika melihat Palestina. Aku sudah bicara di media sosial, menaikkan berita, tetapi hati masih gelisah. Buat aku, ketika kegelisahan itu masih ada, berarti kita belum melakukan sesuatu secara maksimal. Akhirnya aku bisa turun langsung ke Palestina, Suriah, Yordania. Di situ aku merasa masih ada hal yang bisa aku lakukan.

Aku percaya membantu bukan sesuatu yang cukup dilakukan sekali. Kita harus memikirkan bagaimana orang yang kita bantu bisa keluar dari masalahnya dan kembali mandiri. Orang memberikan Rp5 ribu, Rp50 ribu, atau Rp1 juta mungkin mudah. Tetapi orang yang mau peduli dalam jangka panjang tidak banyak karena membutuhkan energi yang luar biasa.

Sebagai figur publik, bagaimana menjaga agar aksi kemanusiaan tidak berhenti sebagai respons sesaat?

Zaskia Adya Mecca: Aku paling suka membangun dan mendukung pendidikan. Karena ketika kita bicara pendidikan, kita sedang membangun generasi baru. Sejak awal aku bergerak memang banyak berkaitan dengan menyekolahkan anak dan mengurus sekolah. Karena yang akan menjalankan kehidupan dan negara ini nantinya adalah generasi di bawah kita.

Aku juga ingin mereka yang sudah mendapatkan pendidikan kemudian memberikan kembali apa yang mereka terima. Misalnya ada anak yang dulu belajar di sebuah sekolah dan dibantu kakak-kakak relawan. Setelah menyelesaikan pendidikan, dia melanjutkan kuliah tetapi tetap mengajar di tempat tersebut.

Jadi apa yang kita lakukan bisa terus berjalan. Nanti ketika adik-adiknya tumbuh dan selesai sekolah, mereka juga bisa kembali untuk mengajar. Itu yang aku maksud dengan regenerasi.  

Setelah melalui berbagai pengalaman tersebut, apakah cara pandang Zaskia terhadap arti “membantu” berubah?

Zaskia Adya Mecca: Banget. Sekarang aku merasa semua kenikmatan yang aku punya di dunia ini sudah cukup. Ketika melihat orang di tempat lain yang hidupnya hanya berjuang mencari rumah, rasa aman, dan makanan, aku baru sadar bahwa hal-hal yang kita dapatkan dengan mudah ternyata tidak dimiliki semua orang.

Aku jadi sangat bersyukur. Urusan duniawi dan materi juga menjadi tidak terlalu penting buatku. Dulu aku mungkin suka belanja baju atau membeli barang-barang lucu. Sekarang ketika mau membeli sesuatu, aku sering berpikir, “Aku membeli ini untuk apa? Apa manfaatnya?”

Cara aku menjalani hidup sejak masuk ke dunia volunteer benar-benar berubah. Aku juga sudah tidak terlalu mencari validasi manusia. Pujian atau omongan buruk orang lain tidak terlalu penting. Yang aku cari sekarang adalah bagaimana hubunganku dengan Allah dan hubungan baikku dengan manusia lain.

Aku ingin apa yang aku kerjakan dan apa yang aku dapatkan tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga untuk banyak orang.

Apa pesan Zaskia untuk generasi muda yang ingin terlibat dalam aksi kemanusiaan tetapi merasa belum punya cukup pengaruh atau sumber daya?

Zaskia Adya Mecca: Gerak saja. Banyak orang bilang, “Kak, aku mau jadi relawan. Aku mau ikut bergerak bersama Kakak.” Aku selalu bilang kepada mereka, kamu bisa bergerak tanpa harus menunggu aku.

Jangan bergerak karena orang lain dan jangan merasa harus bergabung dengan orang lain dulu. Jadilah penggerak di lingkunganmu sendiri. Lihat kanan-kiri di sekitar rumahmu. Kalau ada sesuatu yang bisa dibantu, mulai dari sana.

Gerak tidak harus menunggu orang lain. Tidak harus mengumpulkan orang. Ketika Allah memberikan keinginan untuk membantu, langsung lakukan. Dan ada satu hal yang aku pelajari: ketika kita membantu orang lain, sebenarnya bukan hanya mereka yang membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan mereka.

Karena ketika kita membantu, kita merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Melihat seseorang tersenyum karena kita bantu, mendengar mereka bilang terima kasih, rasa bahagianya justru kembali kepada kita. Jadi ketika kita menolong orang lain, sebenarnya kita juga sedang menolong diri sendiri.

Kalau suatu saat kamu merasa tidak berarti, merasa useless, coba turun ke lapangan dan lakukan sesuatu untuk orang lain. Ketika ada orang yang melihat kita datang saja sudah merasa bahagia dan berkata, “Terima kasih sudah datang,” kita akan merasa bahwa ternyata keberadaan kita berarti. Buatku, lapangan itu sekarang menjadi tempat aku refreshing. Tempat kebahagiaanku.

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |