Gigitan Ular Makan Korban di Batuwarno Wonogiri, Warga Diingatkan Kenali Kobra hingga Welang yang Bisa Berbahaya

1 hour ago 15
Gigitan ularPE kasus gigitan ular di Batuwarno Wonogiri. Dok. Pemkab Wonogiri

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kasus gigitan ular di Desa Batuwarno, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, membuat petugas Puskesmas bergerak melakukan penyelidikan epidemiologi (PE).

Kegiatan tersebut dilakukan Plt. Kepala Puskesmas Batuwarno bersama petugas surveilans/epidemiologi dan Forkompincam pada Kamis (10/9/2026).

Melansir laman resmi Pemkab Wonogiri, tim mendatangi rumah Sulhadi di Dusun Banaran yang menjadi lokasi kejadian gigitan ular. Petugas juga mendatangi rumah Rugiyem di Dusun Garon, Desa Batuwarno, yang merupakan ibunda almarhum Sobirin (60), korban dalam kasus tersebut.

Penyelidikan tidak berhenti pada lokasi kejadian. Petugas menelusuri kemungkinan sumber dan faktor risiko, termasuk kondisi lingkungan yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular.

Tumpukan kayu, semak, area gelap hingga lingkungan sekitar rumah menjadi bagian yang diperiksa. Warga juga diwawancarai untuk mendapatkan gambaran mengenai kejadian dan kondisi lingkungan di sekitar lokasi.

Plt. Kepala Puskesmas Batuwarno, Siti Murwani, mengatakan kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mencegah kejadian serupa.

“Kami mengimbau warga agar selalu waspada, terutama saat di kebun, sawah, atau malam hari. Bersihkan lingkungan, gunakan alas kaki dan senter. Jika terjadi gigitan ular segera ke Puskesmas, jangan ditunda,” pesan Siti.

Petugas Puskesmas sekaligus memberikan edukasi mengenai pertolongan awal apabila seseorang terkena gigitan ular. Prinsip terpenting adalah korban tidak panik dan bagian tubuh yang terkena gigitan dibuat seminimal mungkin bergerak.

✓ Tenangkan korban dan hindari aktivitas berlebihan.

✓ Kurangi pergerakan bagian tubuh yang terkena gigitan alias imobilisasi.

✓ Lepaskan cincin, gelang atau benda yang berpotensi menghambat jika terjadi pembengkakan.

✓ Segera bawa korban ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

✓ Jangan menunda pertolongan meski luka gigitan terlihat kecil.

Sebaliknya, warga diminta tidak melakukan tindakan tradisional yang justru berisiko memperparah kondisi korban.

✓ Jangan menyayat luka.

✓ Jangan mengisap atau menyedot bisa dari luka.

✓ Jangan mengikat anggota tubuh dengan tourniquet secara sembarangan.

✓ Jangan mengoleskan minyak, balsem atau ramuan ke luka.

✓ Jangan memberikan alkohol atau mencoba pengobatan sendiri yang dapat menunda korban mendapatkan pertolongan medis.

Kasus di Batuwarno juga menjadi warning bahwa wilayah pedesaan di Jawa Tengah memiliki sejumlah jenis ular berbisa. Tidak semuanya memiliki tingkat bahaya dan habitat yang sama, sehingga warga sebaiknya tidak mengandalkan warna atau bentuk saja ketika mencoba mengenali ular.

Beberapa jenis yang perlu dikenal antara lain:

✓ Kobra Jawa — Naja sputatrix
Jenis kobra yang tersebar luas di Jawa. Ular ini termasuk famili Elapidae dan memiliki bisa yang terutama menyerang sistem saraf, dengan komponen lain yang juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Selain mematuk, kobra ini dan kobra Sumatrana mampu menyemburkan bisa. Kobra Jawa dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk area pertanian dan lingkungan yang dekat dengan permukiman. BRIN mencatat spesies ini sebagai ular berbisa yang tersebar di Jawa, Bali, Madura dan Nusa Tenggara.

King Cobra — Ophiophagus bungarus
Ular berukuran besar dari famili Elapidae. Bisanya terutama bersifat neurotoksik yang dapat mengganggu sistem saraf dan pernapasan. Habitatnya berkaitan dengan kawasan hutan, semak dan area yang menyediakan mangsa seperti ular lain. Jenis ini juga termasuk daftar ular berbisa Indonesia yang disebut BRIN.

✓ Welang — Bungarus fasciatus
Ciri yang mudah dikenali adalah pola belang hitam-kuning pada tubuh. Welang termasuk kelompok krait dengan bisa neurotoksik yang dapat mengganggu sistem saraf. Jenis ini juga tercatat sebagai salah satu ular berbisa di Indonesia.

✓ Weling — Bungarus candidus
Masih satu kelompok dengan welang. Weling memiliki bisa neurotoksik dan aktif terutama pada malam hari. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika warga beraktivitas di luar rumah selepas malam hingga dini hari.

Ular tanah/gibuk — Calloselasma rhodostoma
Di sejumlah daerah dikenal dengan nama lokal berbeda, termasuk gibug atau gibuk. Ular ini berasal dari famili Viperidae dan memiliki bisa yang terutama bersifat hemotoksik/prokoagulan, sehingga gigitan dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, kerusakan jaringan dan gangguan pembekuan darah. Sumber BRIN memasukkan Calloselasma rhodostoma sebagai salah satu ular berbisa Indonesia.

Bandotan puspaDaboia siamensis
Termasuk kelompok viper dan memiliki bisa yang berpengaruh terhadap sistem pembekuan darah serta jaringan. Jenis ini dikenal di Pulau Jawa, tetapi penyebarannya tidak boleh disamaratakan untuk seluruh wilayah Jawa Tengah. Karena kemiripan pola dengan beberapa ular lain, identifikasi sebaiknya dilakukan oleh orang yang berkompeten dan tidak dengan cara mendekati ular.

✓ Ular viper hijau Jawa — Trimeresurus insularis
Kelompok viper hijau memiliki bisa yang dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan dan kerusakan jaringan. Ular viper tidak selalu mudah dibedakan hanya berdasarkan warna, sehingga warga sebaiknya tidak mencoba menangkap atau memegang ular yang ditemukan di sekitar rumah.

Yang perlu dipahami, tidak semua ular yang ditemukan di Wonogiri merupakan ular berbisa. Bahkan beberapa ular yang terlihat menakutkan justru tidak memiliki bisa. Karena itu, warga sebaiknya tidak membunuh atau menangkap ular dengan tangan kosong hanya untuk memastikan jenisnya.

Apabila menemukan ular di sekitar rumah, kebun atau sawah, langkah paling aman adalah menjaga jarak dan meminta bantuan pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa tersebut.

Khusus setelah terjadi gigitan, jangan menunggu munculnya gejala berat. Korban harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan agar dapat dinilai jenis paparan, gejala dan kebutuhan penanganan lebih lanjut, termasuk pemberian antibisa bila memang diperlukan.

Bagi masyarakat Batuwarno dan wilayah Wonogiri lainnya, pesan Puskesmas sederhana tetapi penting: lingkungan perlu dibersihkan, semak dan tumpukan barang yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular perlu dikendalikan, sementara aktivitas malam hari di kebun atau sawah sebaiknya menggunakan alas kaki dan penerangan yang memadai.

Kasus gigitan ular di Batuwarno akhirnya tidak hanya menjadi urusan korban dan keluarga. Penyelidikan epidemiologi yang dilakukan Puskesmas menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa mengenali risiko, menghindari kontak dan segera mencari pertolongan medis ketika terjadi gigitan ular berbisa. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |