
Oleh: Prof Basuki Supartono; Guru Besar Ortopedi FK UPN Veteran Jakarta Unsur Pengarah BNPB
REPUBLIKA.CO.ID, Sejak tahun 1996, setiap 8 September dunia memperingati Hari Fisioterapi Sedunia. Peringatan ini mengingatkan pentingnya peran fisioterapis. Peringatan tahun ini menyoroti kontribusi fisioterapi dalam pencegahan penyakit, rehabilitasi, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di berbagai negara di dunia. Termasuk di Palestina. Di Jalur Gaza, layanan ini menjadi penopang untuk mencegah kecacatan permanen ribuan korban genosida Israel.
Genosida menimbulkan bencana kesehatan sangat dahsyat. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan 5.000 kasus amputasi, 300 kasus cedera saraf dan medula spinalis. Terdapat 10.000 pasien tergantung layanan rehabilitasi intensif jangka panjang.
Penargetan fasilitas dan penutupan paksa pusat rehabilitasi kesehatan menyebabkan ribuan pasien dan korban luka menghadapi risiko komplikasi serius. Minimnya alat kesehatan, perangkat prostetik, dan anggota gerak memperburuk situasi ini. Pembatasan rujukan pengobatan ke luar Gaza semakin menambah derita warga Gaza.
Amputasi merupakan beban berat bagi pasien dan keluarganya. Beban medis, fisik, psikologis, dan sosial. Pasien harus beradaptasi dan menjalani hidup dalam kondisi tubuh yang berbeda. Cedera medula spinalis berat menimbulkan kelumpuhan. Pasien mengalami ketidakmampuan berjalan dan melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Setiap cedera anggota gerak menghilangkan kesempatan pasien untuk mencari nafkah, bekerja, bersekolah, mengurus keluarga, dan hidup mandiri.
Tugas pelayanan kesehatan tidak berhenti saat nyawa pasien tertolong. Ada tugas lanjutan untuk memulihkan pasien agar mandiri. Pasien juga mempunyai hak untuk pulih. Pasien masih membutuhkan penyembuhan luka, pencegahan komplikasi, dan latihan gerak. Pemberian prostesis bukan akhir pengobatan. Pasien masih membutuhkan adaptasi, latihan, dan rehabilitasi berkelanjutan. Semua itu membutuhkan tenaga kesehatan, fasilitas, peralatan, dan waktu yang tidak sedikit. Kemandirian membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di Gaza, kebutuhan rehabilitasi medis terus meningkat justru ketika banyak fasilitas kesehatan tidak lagi berfungsi. Peralatan medis, alat bantu, dan prostesis sangat terbatas. Fisioterapis pun bekerja dengan sumber daya seadanya. Kegigihan para fisioterapis Gaza untuk terus bekerja di tengah situasi sulit, di tengah ancaman bom, penjara, pengungsian, dan kematian, layak mendapat penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
14
















































