SUMAHYANA (48 tahun) menggunakan kamera ponselnya untuk merekam dan mendokumentasikan perubahan yang terjadi di kampungnya. Desa Sumahyana di Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, bertetangga dengan kawasan aktivitas tambang batu bara dan industri pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Debu yang datang beterbangan akibat lalu lintas kendaraan pengangkut batu bara, kondisi jalan desa yang kini rusak, kualitas air sungai memburuk, hingga persoalan air bersih menjadi bagian dari catatan yang ia kumpulkan. "Telepon genggam ini yang paling mudah kami gunakan untuk menyampaikan kondisi yang kami alami," kata Sumahyana kepada Tempo, Rabu, 15 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Bagi Sumahyana, menjadi jurnalis warga adalah cara untuk menyampaikan dampak aktivitas tambang yang dialami masyarakat yang hidup di sekitar tambang, termasuk dirinya. Ia tidak bekerja dari ruang redaksi, melainkan dari lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
Ia mengatakan, warga Muara Maung menghadapi berbagai perubahan sejak aktivitas pertambangan berkembang di wilayah tersebut. Salah satu yang paling dirasakan adalah debu dari mobilitas kendaraan pengangkut batu bara.
Dituturkannya, saat musim kemarau, debu beterbangan dan menempel di rumah warga. Atap, halaman, hingga perabotan rumah menjadi cepat kotor setiap hari. Ketika musim hujan, sejumlah ruas jalan mengalami genangan dan berlumpur. "Debu sudah menjadi bagian dari keseharian kami," ujarnya.
Sumahyana (48), warga Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, mendokumentasikan kondisi lingkungan sekitar yang terdampak aktivitas pertambangan batu bara. Dokumentasi swadaya ini menjadi salah satu medium bagi masyarakat untuk menyuarakan persoalan lingkungan serta sosial yang mereka hadapi di lapangan. Dok. Dokumentasi Sumahyana
Sumahyana juga menyoroti kondisi Sungai Kungkilan yang sebelumnya menjadi sumber air bersih bagi masyarakat. Menurut dia, perubahan kualitas air membuat warga tidak lagi dapat memanfaatkannya seperti dulu. "Sekarang kalau mau mendapatkan air bersih harus mengebor sumur atau membeli. Sungai sudah tidak bisa digunakan untuk kebutuhan dapur," katanya.
Jurnalisme Warga di Tengah Konsesi Tambang
Desa Muara Maung berada di Kecamatan Merapi Barat, salah satu wilayah dengan aktivitas pertambangan batu bara di Kabupaten Lahat. Di sekitar desa beroperasi sejumlah perusahaan tambang, di antaranya PT Mutiara Alam Sejahtera (MAS), PT Bara Alam Utama (BAU), PT Karya Kasih Agung (KKA), dan PT Bumi Merapi Energi (BME).
Kawasan tersebut juga menjadi bagian dari rantai industri ketenagalistrikan berbasis batu bara. Salah satunya melalui PLTU Lahat milik PT Priamanaya Energi dengan kapasitas 2 x 110 megawatt (MW).
Aktivitas tambang dan pembangkit listrik menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri tersebut, perubahan lingkungan menjadi beban yang terus tumbuh. Video debu kendaraan, foto kondisi sungai, dokumentasi banjir, hingga perubahan lingkungan menjadi arsip warga mengenai kehidupan sehari-hari di sekitar kawasan tambang.
Namun, menjadi jurnalis warga bukan tanpa risiko. Sumahyana mengungkapkan, masih banyak warga yang memilih tidak menyampaikan keluhan secara terbuka karena khawatir akan dampak sosial. "Kami tinggal di sini, jadi tentu ada kekhawatiran kalau dianggap mencari masalah," ujarnya.
Menurut dia, keberanian warga untuk bersuara masih menjadi tantangan. Sebagian masyarakat akhirnya memilih menyimpan dokumentasi yang mereka miliki tanpa menyebarkannya. Adapun sejauh ini, selain Sumahyana, terdapat 12 jurnalis warga lain di Desa Muara Maung yang ikut mendokumentasikan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar tambang.















































