Kapal Perang Belum Jadi, Jerman Sudah Boncos Rp46 Triliun

2 hours ago 18

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Jerman membatalkan proyek kapal perang terbesar sejak Perang Dunia II setelah menggelontorkan dana sekitar 2,3 miliar euro atau setara Rp46,9 triliun. Padahal, kapal fregat generasi baru F126 yang menjadi andalan program tersebut belum seluruhnya selesai dibangun.

Keputusan Berlin itu langsung mengguncang pasar. Saham perusahaan pertahanan Rheinmetall anjlok hingga 13 persen setelah pemerintah menghentikan program enam fregat F126 yang selama ini diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung kekuatan laut Jerman.

Majalah Der Spiegel melaporkan proyek bernilai miliaran euro tersebut dibatalkan karena penundaan yang berkepanjangan, risiko teknis, dan potensi pembengkakan biaya yang semakin besar. Kementerian Pertahanan Jerman menilai melanjutkan proyek justru dapat membuat beban anggaran membengkak jauh di atas perencanaan awal.

Menurut laporan Die Welt yang mengutip Kementerian Pertahanan, program F126 telah menyerap sekitar 2,3 miliar euro sebelum akhirnya dihentikan. Dana tersebut digunakan untuk desain kapal, pengembangan perangkat lunak, pekerjaan konstruksi, serta pembayaran kepada berbagai kontraktor yang terlibat dalam proyek.

Yang membuat Berlin semakin khawatir, total biaya program diperkirakan dapat melonjak hingga lebih dari 18 miliar euro atau sekitar Rp367 triliun. Angka itu jauh di atas nilai awal proyek yang diperkirakan sekitar 10 miliar euro untuk enam kapal fregat.

Alih-alih melanjutkan F126, Menteri Pertahanan Boris Pistorius memilih mengalihkan fokus ke kapal fregat yang lebih kecil. Pemerintah kini berencana menambah pesanan fregat kelas MEKO A-200 dari perusahaan TKMS, melanjutkan kontrak empat kapal yang telah disetujui pada Maret 2026.

Keputusan tersebut justru menguntungkan TKMS. Saham perusahaan itu melonjak sekitar 10 persen pada perdagangan awal setelah pasar melihat peluang kontrak baru dari pemerintah Jerman.

Program F126 sendiri memiliki sejarah panjang. Proyek ini pertama kali digagas ketika Ursula von der Leyen masih menjabat Menteri Pertahanan Jerman. Kapal perang raksasa itu dirancang memiliki panjang sekitar 166 meter dengan bobot 10.500 ton, menjadikannya salah satu fregat terbesar yang pernah direncanakan Eropa.

Namun berbagai kendala membuat jadwal proyek terus bergeser. Galangan kapal Jerman Lürssen Naval Vessels yang kemudian diakuisisi Rheinmetall pada Maret 2026 akhirnya ditunjuk untuk mengambil alih pengelolaan proyek yang bermasalah tersebut.

Sementara itu, fregat MEKO A-200 yang kini menjadi pilihan Berlin berukuran jauh lebih kecil, dengan panjang sekitar 120 meter dan bobot sekitar 4.200 ton. Meski demikian, petinggi Angkatan Laut Jerman dilaporkan mendukung langkah Pistorius untuk merevisi program kapal perang tersebut.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |