Keluarga Kehilangan Kontak dengan Aktivis Papua Yasinta Moiwend

3 hours ago 18

KELUARGA aktivis Papua Yasinta Moiwend mengaku kehilangan kontak dengan perempuan yang akrab disapa Mama Yasinta itu sejak Ahad, 24 Mei 2026. Salah satu anak Yasinta menduga ada pihak yang menekan ibunya setelah nama Mama Yasinta ramai diperbincangkan di media terkait film Pesta Babi.

“Kami dari keluarga Mama Yasinta mau klarifikasi. Mulai Minggu, 24 Mei 2026, kami kehilangan kontak dengan beliau,” kata salah satu anak Yasinta dalam keterangan video yang diterima Tempo, pada Sabtu, 30 Mei 2026. Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Arie Rompas membenarkan video tersebut dibikin oleh keluarga Mama Yasinta.

Menurut anak Mama Yasinta, keluarga terakhir berkomunikasi dengan Yasinta pada Sabtu, 23 Mei 2026. Setelah itu, keluarga tidak lagi dapat menghubungi ibunya. Ia menduga ada pihak yang telah membangun komunikasi dan perencanaan untuk membawa Yasinta keluar dari kampungnya di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, tanpa sepengetahuan keluarga.

Ia mengatakan Yasinta tidak pulang ke rumah pada Ahad malam dan justru bermalam di pos TNI di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke. Keesokan harinya, Senin, 25 Mei 2026, Yasinta diduga dibawa bersama aparat militer yang bertugas mengamankan proyek strategis nasional (PSN) di Kampung Wanam serta pejabat distrik. “Beliau dibawa tanpa sepengetahuan keluarga,” ujarnya.

Keluarga menduga Yasinta sempat diberangkatkan menggunakan kapal menuju Merauke. Namun, pada Senin, keluarga menerima informasi bahwa Yasinta akan menggunakan pesawat jet menuju Timika, Papua Tengah. Keluarga mengaku tidak mengetahui secara pasti keberadaan Yasinta hingga Jumat, 29 Mei 2026.

Menurut anak Yasinta, keluarga baru mengetahui perkembangan itu setelah sejumlah aparat militer dan pejabat distrik kembali dari Merauke ke Kampung Wanam menggunakan helikopter. Saat itu, kata dia, komunikasi dilakukan menggunakan telepon seluler milik salah seorang aparat militer untuk menghubungi Yasinta yang disebut berada di Jakarta.

Dalam percakapan tersebut, Yasinta disebut meminta keluarga mengirimkan dokumen identitas seperti kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK). Ia juga menyampaikan rencana pertemuan Mama Yasinta dengan Presiden Prabowo Subianto.

Di tengah polemik itu, Yasinta bersama kuasa hukumnya, Hamonangan Daulay, melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya terkait film Pesta Babi. Laporan itu teregister dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026. Yasinta melaporkan dugaan pelanggaran Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi.

Langkah itu mengejutkan keluarga karena selama ini Yasinta dikenal dekat dengan perjuangan masyarakat adat yang menolak proyek strategis nasional di Papua Selatan. Anak Yasinta mengatakan komunikasi dengan keluarganya juga terjadi setelah laporan ke Polda Metro Jaya dibuat. Keluarga menilai ada pihak-pihak tertentu yang sengaja membenturkan perjuangan masyarakat adat Papua dengan kepentingan proyek strategis nasional. “Ini sistem yang dibangun oleh oknum-oknum sehingga membenturkan perjuangan kami dalam memperjuangkan tanah adat di Papua,” kata dia.

Keluarga meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) ikut mengawal keberadaan Yasinta. Mereka juga meminta pihak-pihak yang membawa Yasinta segera memulangkannya kepada keluarga.

“Sampai sekarang kami tidak tahu kondisi mama. Apakah beliau baik-baik di Jakarta atau diintimidasi,” ujar anak Yasinta.

Mama Yasinta dikenal sebagai perempuan adat dari Merauke yang aktif menyuarakan penolakan terhadap proyek strategis nasional dan ekspansi industri pangan di Papua Selatan. Ia kerap menyampaikan kekhawatiran masyarakat adat atas dampak pembukaan hutan dan pengambilalihan tanah ulayat terhadap kehidupan warga di wilayah adat mereka.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |