MONUMEN patung pemain sepakbola di Jalan Tamblong, Kota Bandung, menyimpan sejarah kemenangan tim Persib sebagai juara kompetisi. Monumen yang diresmikan Wali Kota Bandung Ateng Wahyudi pada 8 Mei 1990 itu merupakan karya pematung kondang Nyoman Nuarta. Rute konvoi pada Ahad, 24 Maret 2026 ikut melintasi monumen itu setelah Persib kembali menjadi juara dalam kompetisi Super League.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Patung yang dikenal juga sebagai patung Persib itu, menurut Nuarta, aslinya tidak diberi judul atau nama. Dia membuatnya setelah diminta Wali Kota Bandung Ateng Wahyudi yang saat itu juga menjadi Ketua Umum Persib. Pada 1990, Persib meraih juara kompetisi perserikatan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) setelah mempecundangi tim Persebaya Surabaya di babak final yang berlangsung di Stadion Utama Senayan Jakarta dengan skor 2-0.
“Monumen patung itu menggambarkan semangat sepakbola yang terus menggebu-gebu di Bandung, seperti sekarang ini,” kata Nuarta pada Jumat, 22 Mei 2026.
Wujud patung itu berupa seorang pemain yang tengah berlari menggiring bola. Dari laman pemerintah Kota Bandung, banyak yang beranggapan soal siapa sosok pemain pada patung tersebut. Ada yang menyebutkan, patung itu merupakan sosok legenda Persib Bandung mulai dari Ajat Sudrajat, Robby Darwis, hingga Djadjang Nurdjaman, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai patung Persib atau monumen pemain tertentu.
“Kami dulu sepakat agar patung itu tidak mirip dengan siapa-siapa,” ujar Nuarta. Pertimbangannya antara lain karena juara bisa setiap tahun berganti, dan patung di tengah kota itu dapat menjadi milik bersama.
Sebelumnya, Nuarta menyodorkan sketsa pemain sepakbola itu disertai efek dinamis seperti pada karya patung sepeda berjudul Rush Hour. Namun Ateng Wahyudi tidak setuju rancangan itu karena kesan gerak dan bayangan dari sosok patung itu dianggap sebagai pemain musuh atau lawan yang sedang mengejar untuk merebut bola.
Patung yang didesain memanjang horisontal itu menurut Nuarta cocok dengan kondisi lokasi. “Akhirnya patungnya hanya satu itu dan kesannya seperti diam jadinya,” katanya.
Patung setinggai 2,5 kali tinggi manusia dewasa itu, menurut Nuarta, dibuat dari bahan tembaga yang mudah dibentuk. Kuningan ikut digunakan untuk memperkeras patung agar bentuknya tidak berubah. Karya patung itu kemudian diberi tekstur dengan bentuk bolong-bolong yang kalau terlihat dari jauh seperti mulus. “Fungsinya untuk menghindari pantulan cahaya yang bisa mengubah visual karya,” ujar Nuarta.
Selama ini menurutnya, patung sepakbola itu tidak mengalami kerusakan. Alasannya karena bahan logam yang digunakan tergolong kuat dan cocok untuk patung di luar ruangan. Dalam sejarahnya patung berbahan kuningan bisa tahan sampai ribuan tahun seperti pada temuan artefak dari kerajaan masa lalu.
Nuarta mengatakan sebenarnya patung sepakbola itu tidak harus dirawat secara khusus, kecuali bagian dasar monumen atau taman sekitarnya. “Patung paling cuma berdebu, kalau dibersihkan air atau kena hujan beres,” katanya.
Selain itu warna patung bisa berubah karena sifat bahan logam yang dipakai. Lapisan kuningan akan berubah warna, pertama biasanya kecoklatan, hingga selama 15 tahun menjadi kehijauan. “Karena dicampur tembaga patungnya akan berubah sekian puluh tahun warnanya menjadi hijau tosca,” ujar Nuarta.
Dia secara tegas melarang siapa pun untuk tidak mengecat patung Persib itu agar karakter warna dari logamnya muncul. Pengalaman di daerah lain, patungnya di ruang publik ada yang dicat hingga sebagian logamnya dicuri. Nuarta meminta pemerintah daerah dan warga Bandung menjaga bersama patung Persib agar tetap pada bentuk aslinya.
ANWAR SISWADI

















































