Penantian Panjang Ade Govinda dan Gloria Jessica

12 hours ago 23

MUSISI sekaligus pencipta lagu, Ade Nurulianto atau yang sering disapa Ade Govinda, resmi menggandeng penyanyi jebolan The Voice Indonesia, Gloria Jessica, untuk merilis album kolaborasi penuh bertajuk Blue. Bukan sekadar proyek instan, album ini merupakan buah dari penantian panjang selama delapan tahun yang penuh dengan dinamika.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Perjalanan proyek kolaborasi ini sejatinya sudah dimulai sejak 2017. Ade Govinda mengaku terpikat dengan karakter suara Gloria Jessica saat sang penyanyi merilis lagu "Dia Tak Cinta Kamu". Bagi Ade, suara Gloria memiliki jiwa yang sangat istimewa dan langka di pasar musik Indonesia.

Ade langsung bergerak cepat menghubungi Gloria melalui pesan singkat untuk berkolaborasi. Bahkan lagu terbaru mereka yang berjudul "Terbelah Jadi Dua" sudah tercipta di kepala Ade sejak saat itu.

"Dari awal tahun 2017, aku chat Glojes, menurutku suara dia untuk pasar Indonesia istimewa banget ada penyanyi yang bernyanyi dengan soul yang mirip itu. Akhirnya aku bilang 'kita kolaborasi yuk'," ucap Ade kepada Tempo pada Jumat, 22 Mei 2026.

Namun, kesibukan masing-masing membuat rencana tersebut tertunda hingga mereka sempat kehilangan kontak. Komunikasi kembali terjalin pada 2021, namun tak lama berselang Gloria menikah dengan suaminya, Bian.

Pada 2023, Ade yang merupakan gitaris band Govinda, kembali menawarkan proyek ini. Lagi-lagi, takdir belum berpihak karena Gloria baru saja melahirkan anak pertamanya. Gloria memilih fokus belajar menjadi seorang ibu karena tidak ingin memberikan hasil yang kurang maksimal untuk kolaborasi ini. Setelah melewati berbagai fase hidup, ruang waktu itu akhirnya terbuka lebar pada 2025.

"Makanya akhirnya terjadi di tahun 2025 itu pun ada. Akhirnya kami janjian ketemuan. Akhirnya ketemuan, di situ kami ngobrol panjang lebar," ujar Gloria.

Penyanyi Gloria Jessica dan gitaris Govinda Ade Nurlianto berpose dalam sesi pemotretan di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 22 Mei 2026. Tempo/Jati Mahatmaji

Ketika waktu dan kesiapan mental akhirnya bertemu di 2025, Ade dan Gloria memutuskan untuk bersua secara langsung demi menguji keselarasan energi mereka. Pertemuan pertama itu menjadi momen krusial yang menyenangkan bagi Gloria, karena ia harus memastikan apakah selera musik dan kemistri mereka bisa menyatu.

Menariknya, proses pengenalan materi lagu tidak dilakukan melalui pemutar audio digital seperti format demo pada umumnya. Ade Govinda memilih langsung mengambil gitar dan menyanyikannya secara langsung di depan Gloria. Begitu umpan pertama mengalun, Gloria langsung jatuh cinta dan tahu bahwa ia harus mengambil proyek ini.

"Itu juga pengalaman pertama aku mendengarkan sebuah demo yang bukan di-play dari satu perangkat tapi langsung. Aku mainkan lagu itu, begitu dari notasi pertama itu dan liriknya 'Cinta memang misteri' itu aku udah 'ini sudah pasti dan harus terjadi'," ujar Gloria.

Menggali Luka Lama Sebagai Proses Penyembuhan

Setelah merilis single "Terbelah Jadi Dua", Ade dan Gloria juga akan melanjutkan kolaborasi ini dengan meluncurkan album. Sebagai dua orang yang sama-sama peka dan perasa, proses rekaman album Blue menjadi ruang yang emosional. Album ini menyajikan sepuluh perjalanan yang keseluruhannya bertema patah hati dengan berbagai sudut pandang mulai dari dikhianati, ditinggalkan, diduakan, hingga perpisahan baik-baik.

Ade Govinda mengakui bahwa 95 persen lagu yang ia ciptakan di album ini ditulis berdasarkan kisah nyata dari perjalanan hidupnya sendiri. "Pasti aku orang yang bikin lagu itu mostly 95 persen tentang perjalanan hidupku, jarang curhatan orang, bisa tapi enggak banyak," ucap Ade.

Bagi Gloria, menyanyikan lagu-lagu ini seperti membuka kembali folder-folder kenangan masa lalu yang emosional. Puncaknya terjadi saat proses syuting video musik "Terbelah Jadi Dua" yang disutradarai oleh Bagus Tresna. Gloria menceritakan bagaimana ia menangis hebat saat melihat aktris Yasamin Jasem memperagakan sebuah adegan berat di kamar mandi.

Penyanyi Gloria Jessica berpose dalam sesi pemotretan di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 22 Mei 2026. Tempo/Jati Mahatmaji

Adegan tersebut ternyata merefleksikan rasa sakit yang pernah dialami Gloria di dunia nyata. Namun alih-alih membuka luka lama, momen itu justru menjadi ruang penyembuhan. "Jadi melihat preview lagi hasil take-nya tadi, nangis karena langsung ke-recall bisa begini ya. Tapi entah kenapa nangisnya jadi semacam penutupan juga, akhirnya ada kelegaan," tutur Gloria.

Menjadi Teman Setia yang Tidak Pernah Menghakimi

Alasan mengapa seluruh isi album dikemas dengan nuansa melankolis, Ade Govinda menjelaskan bahwa masyarakat Asia Tenggara, khususnya Indonesia, memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat dengan lagu-lagu patah hati. Album Blue sengaja dirancang menyerupai ensiklopedia kesedihan agar pendengar dapat menemukan lagu yang spesifik sesuai dengan jenis patah hati yang sedang alami mereka.

"Kami mau menyajikan lagu-lagu yang memang patah hati berbagai macam tipe. Jadi kenapa enggak bikin album? Jadi biar orang-orang tau perasaan patah hati ini yang ditinggalkan, ini yang diduakan, ini yang kalau bukan jodoh kenapa," tutur Ade mengenai konsep albumnya.

Gloria menambahkan bahwa album duet penuh ini diharapkan dapat hadir sebagai siapa entitas "teman setia" bagi saja yang berada di titik terendah hasil asmara. Melalui harmoni suara mereka berdua, album Blue memposisikan diri sebagai ruang aman untuk menangis dan bernyanyi bersama tanpa perlu merasa dihakimi.

"Jadi aku merasa satu album ini bisa hadir sebagai teman juga Karena menurut aku musik itu benar-benar kita dengerkan. Jadi emang teman setia yang tidak pernah menghakimi, kita enggak kena pressure," ungkapnya.

ANDARA ANGESTI

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |