PARA astronom untuk pertama kalinya mendeteksi atmosfer yang menyelimuti sebuah planet berbatu di zona layak huni bintang lain. Penemuan ini menjadi bukti terkuat sejauh ini bahwa planet berbatu di luar tata surya dapat mempertahankan atmosfer selama miliaran tahun, salah satu syarat penting bagi kehidupan seperti yang dikenal di Bumi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 16 Juli itu berfokus pada eksoplanet LHS 1140 b, sebuah super-Bumi yang berjarak sekitar 48 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini mengorbit bintang katai merah dan berada di zona laik huni, yaitu wilayah di sekitar bintang dengan suhu yang memungkinkan air tetap berada dalam bentuk cair di permukaan planet.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Tim peneliti mendeteksi gas helium yang lolos dari atmosfer LHS 1140 b. Temuan itu menjadi indikasi kuat bahwa planet tersebut berhasil mempertahankan atmosfernya selama miliaran tahun meski terus dihantam radiasi dari bintang induknya.
“Kita semakin dekat untuk mempelajari atmosfer dunia-dunia yang berpotensi menjadi tempat kehidupan, dengan bukti kehidupan tersebut yang tertanam dalam spektrum yang dapat kita amati,” kata Edward Schwieterman, profesor madya astrobiologi di University of California, Riverside, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, dikutip dari laporan Live Science, 20 Juli 2026.
LHS 1140 b memiliki massa sekitar 5,6 kali massa Bumi sehingga dikategorikan sebagai super-bumi, yakni planet berbatu yang lebih besar dari Bumi tetapi jauh lebih kecil dibandingkan planet raksasa gas seperti Neptunus. Planet tersebut menerima kurang dari setengah intensitas cahaya yang diterima Bumi, sehingga diperkirakan memiliki suhu permukaan sekitar minus 47 derajat Celsius jika belum memperhitungkan keberadaan atmosfer. Meski demikian, kondisi tersebut masih berada dalam rentang yang dinilai berpotensi mendukung kelayakhunian.
Untuk mendeteksi atmosfer, peneliti tidak mencarinya secara langsung. Sebaliknya, mereka mengamati jejak helium yang bocor ke luar angkasa menggunakan spektrograf WINERED di Teleskop Magellan Clay, Cile. Saat LHS 1140 b melintas di depan bintangnya, sebagian cahaya bintang melewati atmosfer planet sebelum mencapai Bumi. Dari pengamatan itu, tim mendeteksi penurunan cahaya pada panjang gelombang inframerah yang diserap helium, yang menjadi tanda adanya gas yang keluar dari atmosfer planet.
Pada September 2024, peneliti juga mengamati planet tetangga LHS 1140 c yang melintas di depan bintang yang sama. Meski mengorbit lebih dekat ke bintangnya dan menerima radiasi sekitar lima kali lebih besar, LHS 1140 c tidak menunjukkan sinyal helium.
Perbedaan tersebut menunjukkan atmosfer LHS 1140 c kemungkinan telah lama hilang akibat paparan radiasi, sedangkan LHS 1140 b yang berada lebih jauh dari bintangnya berhasil mempertahankan atmosfernya.
“Dua puluh tahun lalu kita masih bertanya-tanya apakah planet berbatu seperti Bumi benar-benar ada,” kata Robin Wordsworth, profesor ilmu kebumian dan ilmu planet di Harvard sekaligus salah satu penulis studi.
“Kemudian kita mengetahui bahwa planet-planet seperti itu ternyata umum ditemukan, dan beberapa berada di zona laik huni. Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada di antaranya yang berhasil mempertahankan atmosfer. Sekarang kita tahu setidaknya ada satu.”
Menurut Wordsworth, bintang induk LHS 1140 diperkirakan telah berusia sedikitnya 3,1 miliar tahun. Hal itu menunjukkan atmosfer LHS 1140 b kemungkinan mampu bertahan selama miliaran tahun meski terus dibombardir radiasi berenergi tinggi dari bintang katai merah tersebut.
Meski begitu, Wordsworth menegaskan bahwa keberadaan helium belum membuktikan planet tersebut dihuni atau benar-benar layak huni. Pengamatan saat ini baru mengungkap lapisan atas atmosfer, sehingga komposisi gas lain seperti oksigen, karbon dioksida, maupun uap air masih belum diketahui.
Ke depan, para astronom akan melakukan pengamatan lanjutan untuk mengungkap komposisi atmosfer LHS 1140 b secara lebih rinci. Mereka juga akan menyelidiki kemungkinan keberadaan samudra atau karakteristik lain yang berkaitan dengan potensi kelayakhunian planet tersebut.
















































