MANTAN Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, baru-baru ini mengalami teror dari orang tak dikenal. Dia diduga dikuntit menggunakan alat pelacak yang terpasang di mobilnya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Teror tersebut terjadi setelah ia mengikuti demonstrasi Gejayan Memanggil di Yogyakarta pada Sabtu, 13 Juni 2026. Perangkat pelacak PBX Finder itu ditemukan di bawah kerangka bodi mobil saudaranya yang ia pinjam.
Tiyo mengatakan teror yang dialaminya tak lazim. Dia menyorot rezim kekuasaan yang kerap merespons kritik masyarakat dengan ancaman. “Betapa berbahayanya menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsanya,” kata Tiyo dalam keterangannya pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Tiyo aktif menyuarakan aspirasi dan kritiknya kepada pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Tempo mencatat ia pernah menerima teror dan tindakan intimidasi lain. Berikut ini di antaranya.
Diteror karena Menolak Undang-Undang TNI
Pada 20 Maret 2025, ketika masih aktif sebagai Ketua BEM UGM, Tiyo mengatakan dia mendapat berbagai bentuk teror dan intimidasi setelah aksi menolak Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia. Dia mengatakan intimidasi tersebut menyerangnya secara psikis.
Salah satu bentuknya adalah spanduk yang dipasang di area parkir Abu Bakar Ali, lokasi berkumpulnya massa aksi menolak Undang-Undang TNI. Spanduk itu bertulisan “Awas Gerakan Mahasiswa Disusupi Antek Asing” dengan jenis huruf bernuansa darah.
Spanduk tersebut juga menampilkan gambar empat orang, salah satunya foto Tiyo Ardianto. Selain itu, Tiyo mengatakan dia menerima ancaman teror yang melibatkan orang tuanya.
Tiyo menuturkan, pesan peneror itu mengancam keselamatan orang tuanya jika dia terus menggelar aksi protes pengesahan Undang-Undang TNI. “Saya tidak akan gentar dan akan terus bergerak menentang kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat,” ujar Tiyo menyikapi teror tersebut.
Diteror Setelah Mengkritik Prabowo soal Insiden Siswa Bunuh Diri di NTT
Tiyo Ardianto juga pernah diteror lantaran mengkritik Presiden Prabowo Subianto dalam insiden bunuh diri seorang pelajar sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur akibat tak mampu membeli peralatan belajar. Tiyo mengaku menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor kode Inggris.
Pesan itu diterima Tiyo beberapa hari setelah BEM UGM mengkritik Presiden. Selain ancaman penculikan, Tiyo mendapat kiriman pesan yang menuduhnya sebagai agen asing dan mencari panggung.
Dia juga mengatakan pernah dikuntit dua orang saat berada di sebuah kedai. Penguntitan itu terjadi sehari setelah muncul ancaman pada gawainya. “Mereka memotret dan bergegas pergi,” kata Tiyo pada Kamis, 12 Februari 2026.
Ditawari Harta Diduga dari Penguasa
Tak hanya menerima teror yang mengancam keselamatannya, Tiyo juga pernah diintimidasi lewat penawaran iming-iming harta. Mahasiswa S-1 Filsafat UGM ini mengatakan tawaran tersebut diduga datang dari penguasa.
Tiyo menyebut pihak tersebut sebagai petinggi lembaga berbintang. Dia memilih tidak ingin menyampaikan kepada publik siapa orang dan lembaga yang dimaksudkan. “Tapi saya pertanggungjawabkan kesaksian ini,” ujar Tiyo ketika dihubungi pada Selasa, 9 Juni 2026.
Dalam kolase foto teks yang ia unggah di akun media sosialnya, Tiyo bercerita mulanya dia diajak bertemu oleh salah satu orang yang membawa pesan dari petinggi lembaga berbintang itu. Tiyo mengenal si perantara ini dan pernah berinteraksi meski terbatas.
Tiyo menuturkan, perantara ini menghubunginya untuk mengajak bersilaturahmi di Yogyakarta pada Ahad, 7 Juni 2026. “Dengan ringan saya iyakan ajakan itu karena luang waktu,” ucap Tiyo.
Perantara ini, kata Tiyo, menyampaikan bahwa petinggi lembaga berbintang tersebut ingin bertemu langsung. Dia berujar, petinggi itu mau memberikan apa pun yang diinginkannya.
Tiyo belum sempat merespons, tapi orang yang diutus petinggi tersebut melanjutkan ceritanya. Menurut kesaksian Tiyo, orang itu menyampaikan bahwa salah satu pemimpin organisasi gerakan nasional telah kebagian jatah dari lembaga berbintang ini.
Perantara itu bercerita kepada Tiyo bahwa jatah yang dimaksudkan dalam waktu dekat bakal menjadi bisnis warung yang identik dengan asal daerah si penerima. Nilainya disebut mencapai miliaran rupiah.
Tiyo memotong omongan si perantara tersebut. Dia menyatakan tidak membutuhkan kemewahan apa pun seperti yang ditawarkan petinggi lembaga berbintang itu.
Dia menduga tawaran dari kelompok kekuasaan itu merupakan upaya mengkooptasi masyarakat yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah. Apalagi Tiyo mendengar langsung pengakuan si perantara bahwa pihak lain yang sudah menerima tawaran itu diminta agar patuh dan loyal.
Tiyo menegaskan, tidak semua aktivis dapat dibeli dan ditundukkan dengan iming-iming harta. “Dunia ini masih menyimpan banyak orang yang mengusahakan kebaikan,” katanya.
Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan editor: Bisakah Akreditasi Biro Travel Mencegah Penipuan Umrah


















































