SETELAH meraup jutaan penonton lewat film pertamanya, sutradara sekaligus aktor Bayu Skak kembali menghadirkan kelanjutan kisah petualangan mistis nan jenaka dalam Sekawan Limo 2: Gunung Klawih. Mengambil momentum perilisan berdekatan dengan Hari Kebangkitan Nasional di bulan Mei, film ini tidak sekadar menjual kelucuan komedi dan horor yang mencekam, tetapi juga mengemas isu sosial dan refleksi sejarah bangsa yang mendalam.
Pilihan Editor: Rekomendasi Film: Star Wars Rasa Drama hingga Kylie Minogue
Evolusi Karakter dan Meluruskan Mitos Gunung Kawi
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Bayu Skak tidak menampik adanya ekspektasi tinggi dari masyarakat yang menjadi beban tersendiri bagi dirinya sebagai sutradara. Namun, beban itu ia jawab dengan menghadirkan ekskalasi cerita yang jauh lebih matang dibanding film pertama. Karakter-karakter ikonik seperti Bagas dan Lenni kini digambarkan ikut tumbuh dewasa seiring waktu.
"Ini kan beranjak dewasa ya, teman-teman ya. Jadi Sekawan Limo 2 ini bukan tipikal IP (Intellectual Property) yang ketika ada di sekuel, itu akan berbeda karakter-karakternya," kata Bayu di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026. Dia menambahkan bahwa konflik kali ini akan bergeser pada tanggung jawab kehidupan dewasa, termasuk menyentil fenomena masyarakat yang gemar mencari jalan pintas demi sukses.
Menariknya, eskalasi cerita ini juga menyentuh aspek latar tempat. Jika pada film pertama mereka menggunakan nama fiktik Gunung Madyopuro demi kenyamanan humor, kali ini sekuelnya berani meluruskan mitos seputar Gunung Kawi yang kerap diidentikkan dengan pesugihan.
"Intisari dari cerita ini meluruskan bahwa Gunung Klawi yang juga adalah Gunung Kawi itu tidak semuanya jelek," ujar Bayu. "Karena energinya besar, banyak orang yang menggunakan itu dengan ya itulah, jalan pintas instan-instan itu. Tapi yang tahu energi itu besar, menggunakannya untuk introspeksi diri, bertapa, refleksi diri, itu bagus gitu."
Aktor Indra Pramujito, Bayu Skak, Nadya Arina, Benedictus Siregar, dan Firza Valaza setelah menghadiri konferensi pers film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih di Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu, 20 Mei 2026. TEMPO/Imanda Zahwa
Suarakan Isu Rasial Sensitif dan Menolak Lupa Sejarah
Bobot sosial film ini semakin kental dengan diangkatnya isu rasial yang sensitif. Saat sesi diskusi, para pemain tampil kompak mengenakan busana cheongsam khat etnis Tionghoa, sebuah pemandangan yang disebut aktor Indra Pramujito sebagai bentuk toleransi dan solidaritas nyata di atas panggung.
Indra secara emosional mengaitkan momentum perilisan film ini dengan memori kolektif bangsa, tepat 28 tahun setelah peristiwa Mei 1998. "Film ini bukan bertujuan untuk membuka luka atau mengorek luka, tidak. Tapi film ini mengajarkan kita untuk jangan pernah melupakan sejarah, jangan pernah ada pemutihan sejarah," tutur Indra. Dia juga menyampaikan pesan terbuka agar tidak ada lagi diskriminasi, kekerasan, maupun pengambinghitaman terhadap suku, agama, dan ras tertentu di masa depan.
Bayu Skak menegaskan bahwa tim produksi melakukan riset mendalam melalui artikel dan jurnal agar isu ini tidak disajikan secara menohok. Film ini justru membawa pesan persatuan yang kuat.
"Kita harus belajar bahwa pilu dibalas dengan pilu akan melahirkan pilu lagi. Kita harus bersatu padu. Berbagai macam etnis ada di Indonesia ini. Entah itu keturunan India, Arab, Tionghoa, saya orang Jawa, orang Batak. Kita bersatu, kita adalah Republik Indonesia," kata Bayu. Menghubungkannya dengan Hari Kebangkitan Nasional, dia berharap film ini bisa menggelorakan semangat refleksi sekaligus menjadi hiburan di tengah kondisi bangsa saat ini.
Menjaga Otentisitas Dialek Lewat Komedi Universal
Di tengah muatan pesan kebangsaan, Sekawan Limo 2 dipastikan tetap menjaga otensitasnya sebagai film komedi. Dialek khas Jawa Timur tetap dipertahankan secara natural demi menjaga keaslian lokal, bukan sekadar untuk mengglobalisasi bahasa daerah.
"Kami ingin memberikan karya yang otentik. Kami ingin menyuguhkan tontonan yang memang real kayak gitu. Enggak yang tiba-tiba ngomong bahasa Jawanya cuma dikit, tiba-tiba shifting ke bahasa Indonesia," kata Bayu menjelaskan latar syutingnya yang fokus di Malang.
Aktor Benny, yang kembali memerankan Juna, turut menyampaikan rasa terima kasihnya karena film ini digarap secara kolektif bersama jajaran pemain yang solid. Sementara itu, agar humor di dalamnya tetap bisa dinikmati dan dimengerti secara universal oleh penonton dari luar Jawa, Joshua Suherman kembali dilibatkan penuh sebagai pemain dan comedy consultant. "Joshua yang juga ngobrol juga, menampung bareng-bareng dari kita. Dan dia yang memutuskan jokes mana yang akan dipakai," kata Benny.
Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih tayang di bioskop mulai Rabu, 27 Mei 2026.
IMANDA ZAHWA
















































