Tak Lagi Cemas, Tora Sudiro Ungkap Cara Membangun Kemandirian Anak

3 hours ago 5

CANTIKA.COM, Jakarta - Memasuki usia remaja, anak mulai menunjukkan keinginan untuk lebih mandiri, termasuk bepergian sendiri ke sekolah, tempat les, hingga bertemu teman. Di satu sisi, fase ini menjadi bagian penting dari proses pendewasaan. Namun di sisi lain, tak sedikit orang tua yang justru dihantui rasa khawatir akan keselamatan anak.

Perasaan inilah yang juga pernah dialami aktor Tora Sudiro. Sebagai ayah, ia mengaku sempat kesulitan melepaskan putri bungsunya, Jenaka, untuk beraktivitas sendiri di luar rumah. Kekhawatiran itu muncul karena ia ingin memastikan sang anak selalu berada dalam kondisi aman.

Cerita tersebut dibagikan Tora dalam acara Media Talkshow "Panduan Tenang Keluarga bersama GrabKeluarga" di Bale Nusa, Jakarta. Bersama psikolog Pritta Tyas, M.Psi., Psi., diskusi ini membahas bagaimana orang tua dapat membangun kemandirian remaja tanpa harus mengorbankan rasa aman.

Kecemasan Orang Tua Saat Anak Mulai Mandiri Ternyata Wajar

Tora mengaku dirinya sempat merasa gelisah setiap kali Jenaka harus bepergian sendiri. Sebagai orang tua, ia ingin mengetahui apakah putrinya telah sampai di tujuan dengan selamat dan berharap bisa terus memantau perjalanannya. "Sebagai orang tua pasti kepikiran, anak sudah sampai belum? Aman nggak ya?" kurang lebih menjadi kegelisahan yang ia rasakan.

Menurut Psikolog Pritta Tyas, kecemasan tersebut merupakan respons yang normal. Naluri untuk melindungi anak memang tidak serta-merta hilang ketika mereka memasuki usia remaja. "Orang tua masih memiliki kebutuhan untuk menjaga dan merawat anaknya. Itu sesuatu yang sangat wajar," jelas Pritta.

Namun, ia mengingatkan bahwa memasuki masa remaja, anak memang sedang berada dalam fase membangun identitas diri. Mereka mulai belajar mengambil keputusan sendiri, memiliki privasi, hingga ingin dipercaya mengatur kehidupannya secara bertahap.

Jika orang tua tidak memahami proses perkembangan tersebut, perilaku remaja yang sebenarnya normal bisa saja dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

"Masa remaja adalah masa pembentukan identitas diri. Mereka mulai menjelajahi batasan diri, membangun privasi, dan lebih berani menyampaikan pendapat. Kalau orang tua tidak memahami proses ini, anak sering kali dianggap memberontak, padahal sebenarnya tidak," ujar Pritta.

Asep Haekal, Pritta Tyas, M.Psi., Psi, Titi Eko Rahayu, dan Tora Sudiro sedang mengenal fitur GrabKeluarga di salah satu booth interaktif pada Media Talkshow: Panduan Tenang Keluarga bersama GrabKeluarga, di Bale Nusa, Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026. Foto: CANTIKA/Salsabilla Farka Kirani.

Hindari Pola Asuh yang Terlalu Mengontrol atau Terlalu Membebaskan

Dalam proses melatih kemandirian anak, Pritta menilai masih banyak orang tua yang terjebak pada dua pola ekstrem. Sebagian orang tua menerapkan aturan yang terlalu ketat sehingga anak merasa tidak dipercaya. Sebaliknya, ada pula yang memberikan kebebasan tanpa batas sehingga anak kehilangan arahan.

Selain itu, aturan yang berubah-ubah atau tidak konsisten juga membuat anak kesulitan memahami nilai disiplin dan tanggung jawab. Menurut Pritta, yang paling dibutuhkan remaja bukanlah pengawasan berlebihan, melainkan rasa dipercaya.

"Yang mereka butuhkan adalah orang tua yang percaya bahwa pikiran dan perasaan mereka valid. Mereka juga perlu diberikan ruang untuk mencoba melakukan sesuatu sendiri tanpa terus-menerus diintervensi," katanya.

Ketika orang tua mampu memberikan kepercayaan disertai batasan yang jelas, anak akan lebih percaya diri menghadapi tantangan serta belajar menyelesaikan masalah secara mandiri.

Kemandirian Anak Tetap Bisa Dibangun Tanpa Membuat Orang Tua Khawatir

Meski mendukung anak menjadi mandiri, bukan berarti orang tua harus benar-benar melepas pengawasan. Tora mengaku kini merasa jauh lebih tenang setelah memanfaatkan fitur GrabKeluarga ketika Jenaka bepergian sendiri menggunakan layanan transportasi.

Ia bahkan mengenang bahwa sebelumnya dirinya sampai meminta orang lain diam-diam mengikuti putrinya agar memastikan perjalanan berjalan aman.

"Sebelumnya saya selalu mengirim mata-mata, ada mbak yang ngikutin Jenaka. Sekarang rasanya jauh lebih enteng. Saya sudah tahu banyak fitur yang bisa dipakai dari aplikasi itu. Jadi saya nggak perlu terus-terusan telepon anak karena bisa memantau perjalanannya," ujar Tora sambil bercanda.

Melalui fitur GrabKeluarga, orang tua dapat memantau lokasi perjalanan secara real time, berkomunikasi dengan pengemudi bila diperlukan, serta memastikan keamanan perjalanan melalui sistem verifikasi PIN antara penumpang dan pengemudi sebelum perjalanan dimulai.

Dengan dukungan teknologi tersebut, anak tetap memiliki ruang untuk belajar mandiri, sementara orang tua memperoleh rasa tenang karena tetap bisa memantau perjalanan mereka.

Kunci Membangun Kemandirian Remaja Adalah Kepercayaan

Pritta menegaskan bahwa tujuan utama orang tua bukanlah mengawasi setiap langkah anak, melainkan mempersiapkan mereka menjadi individu yang mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Kepercayaan, komunikasi yang terbuka, aturan yang konsisten, serta dukungan yang tepat menjadi fondasi penting agar remaja tumbuh percaya diri sekaligus tetap merasa aman.

Masa remaja memang sering menjadi tantangan bagi orang tua. Namun ketika proses kemandirian dibangun secara bertahap, disertai komunikasi yang sehat dan dukungan teknologi yang tepat, orang tua tak lagi harus memilih antara memberikan kebebasan atau menjaga keamanan anak. Keduanya dapat berjalan beriringan.

SALSABILLA FARKA KIRANI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |