CANTIKA.COM, Jakarta - Vokalis sekaligus gitaris grup musik Efek Rumah Kaca (ERK), Cholil Mahmud, ikut aksi unjuk rasa bertajuk 'Rakyat Memanggil' di Simpang Gejayan, Yogyakarta, pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Aksi yang dipadati oleh kalangan mahasiswa, akademisi, aktivis, hingga elemen buruh ini digelar untuk menyoroti sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai kian menyengsarakan dan tidak berpihak pada rakyat.
Bentuk Solidaritas dan Dukungan Moral
Cholil Mahmud mengungkapkan bahwa kehadirannya di tengah massa aksi bertujuan untuk memberikan dukungan moral. Ia ingin bersolidaritas terhadap gerakan Gejayan yang menurutnya telah lama menjadi inspirasi dan konsisten merawat sikap kritis terhadap penguasa.
"Gerakan ini punya dampak yang signifikan buat teman-teman di berbagai daerah, sejak era Gejayan Memanggil," ujar Cholil di lokasi aksi.
Musisi yang dikenal lewat deretan lagu kritik sosial ini mengaku sengaja menyempatkan diri untuk bergabung di Yogyakarta. Sebab, dirinya sempat berhalangan hadir saat agenda unjuk rasa serupa digelar di Jakarta pada Jumat lalu.
"Kemarin di Jakarta tidak bisa ikut. Kebetulan hari ini pas lagi di Yogya ada aksi ini, jadi ingin hadir dan memberikan solidaritas untuk kawan-kawan yang sedang berjuang," ungkapnya.
Akumulasi Kemarahan Kolektif Publik
Melihat eskalasi gerakan massa yang kembali menggeliat di Yogyakarta, Cholil memandangnya sebagai bentuk akumulasi dari kemarahan kolektif publik yang mendalam. Masyarakat menilai rupa-rupa persoalan nasional tak kunjung diselesaikan secara tuntas oleh Pemerintah.
Oleh karena itu, Cholil menekankan pentingnya merawat konsistensi dan mengasah napas pergerakan masyarakat sipil agar momentum perjuangan ini tidak menguap begitu saja di tengah jalan.
Ia menilai situasi politik hari ini bisa menjadi langkah permulaan bagi terbentuknya gerakan publik yang jauh lebih terorganisasi, terkoordinasi dengan rapi, dan meluas dibanding era sebelumnya.
"Gerakan seperti ini harus dirawat, diasah, agar tidak mengempos di tengah jalan," tegas Cholil.
Soroti Isu Korupsi, Tambang, hingga Kenaikan BBM
Garis besar tuntutan aksi di Gejayan dinilai memiliki kemiripan mendasar dengan aspirasi mahasiswa di berbagai daerah lain. Semuanya bersumber dari kekecewaan masyarakat atas situasi sosial, politik, dan ekonomi bangsa.
Di mata Cholil, ragam permasalahan fundamental saat ini sudah menumpuk di berbagai sektor, di antaranya:
- Merajalelanya kasus korupsi di berbagai lini.
- Sikap abai penguasa terhadap kritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Merah Putih.
- Sengkarut agraria dan persoalan krisis lingkungan berskala besar.
- Secara spesifik, Cholil menyoroti pemberian izin tambang eksploitatif yang berdampak buruk pada ekologi, seperti bencana alam di Aceh akibat pembalakan liar yang tidak ditindaklanjuti secara hukum.
- Isu perampasan ruang hidup ini juga terjadi merata hingga ke bagian timur Indonesia, di mana masyarakat adat Papua masih harus berhadapan dengan perebutan hak atas tanah leluhur mereka.
"Jadi semuanya menjadi satu kemarahan masyarakat. Kalau saya bandingkan dengan 1998, gerakan seperti ini mesti dirawat," kata Cholil menambahkan.
Waspada Polarisasi akibat Buzzer di Jagat Digital
Selain kondisi sosial-politik, Cholil menilai keterpurukan ekonomi nasional turut memperbesar gelombang ketidakpuasan masyarakat sipil.
Fenomena meroketnya nilai tukar dolar terhadap rupiah merefleksikan keterbatasan sisa kapasitas keuangan negara dalam menopang beban subsidi dasar. Kondisi ini memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik yang seketika memukul hajat hidup orang banyak.
Di tengah himpitan ekonomi tersebut, Cholil menaruh kekhawatiran besar akan potensi timbulnya konflik horizontal di lapisan bawah masyarakat akibat ulah buzzer.
"Semoga konflik horizontal antar-masyarakat tetap bisa dihindari. Karena dengan adanya buzzer itu jadi lebih memungkinkan terjadinya konflik antara masyarakat dengan masyarakat, itu yang disayangkan," tuturnya.
Terakhir, ia mengingatkan agar elemen masyarakat sipil tidak goyah menghadapi pola pembungkaman atau upaya sistematis yang memecah belah integritas gerakan mahasiswa.
"Upaya memecah belah gerakan seperti itu pasti akan dilakukan terus-menerus. Bukan hanya saat ini, sebelum-sebelumnya juga sama, misalnya lewat ketua-ketua BEM ada yang berangkat aksi ada yang tidak karena dukung pemerintah," tandasnya.
Pilihan Editor: Deretan Artis yang Bersuara Dukung Mahasiswa, Prilly Latuconsina hingga Zaskia Adya Mecca
PRIBADI WICAKSONO
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

















































