REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) malam turut memunculkan hujan abu vulkanik di sejumlah wilayah. Namun, kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan bagi warga Kota Bandar Lampung dan Serang, Banten.
Don Peci (65), warga Kota Bandar Lampung, mengatakan aktivitas masyarakat masih berjalan normal. Ia mengaku tidak mendengar suara dentuman maupun merasakan getaran akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau tidak terlalu berdampak. Tidak terdengar suara dentuman maupun getaran," kata Don saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (6/9/2026).
Menurut dia, hujan abu vulkanik memang sempat terjadi, tetapi intensitasnya masih tipis. Kondisi tersebut berbeda dengan situasi di Jakarta yang menurutnya terlihat lebih tebal berdasarkan sejumlah video yang beredar di media sosial.
Don menduga perbedaan ketebalan abu vulkanik tersebut dipengaruhi arah angin. Meski terdapat hujan abu, jarak pandang di Bandar Lampung masih bagus dan masyarakat tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.
"Kondisi masih normal, jarak pandang masih bagus. Aktivitas masih seperti biasa, cuma disarankan memakai masker," ujarnya.
Ia mengatakan, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah juga mulai menggunakan masker sebagai bentuk kewaspadaan terhadap abu vulkanik yang terbawa angin.
Don bahkan mengaku baru menyadari adanya hujan abu vulkanik setelah mendapat telepon dari anaknya yang sedang berada di Semarang. Anak Don menanyakan kondisi di Bandar Lampung setelah mengetahui adanya erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Saya malah tahu ada hujan abu vulkanik dari anak saya yang kuliah di Semarang. Semalam telepon saya, tanya kondisi. Nah, saya baru sadar setelah melihat mobil saya yang sedikit berdebu," kata dia.
Sebelumnya, pada Sabtu (5/9/2026) malam, Don sempat mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm dan kacamata. Saat itu, matanya terasa seperti kemasukan sesuatu atau kelilipan.
"Semalam saya naik motor, lepas helm dan tidak pakai kacamata. Mata seperti kelilipan terus. Setelah anak saya telepon, baru saya sadar itu mungkin dari abu vulkanik," ujarnya.
Sementara itu, kondisi serupa juga dirasakan warga Serang, Banten. Tisna (72), warga Serang, mengatakan hujan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak terlalu parah meski wilayahnya relatif lebih dekat dengan gunung tersebut dibandingkan Jakarta.
"Walau jaraknya lebih dekat dibanding Jakarta, hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di sini tidak parah, masih normal," kata Tisna.
Ia mengungkapkan, abu vulkanik memang sempat turun tipis-tipis. Kondisi tersebut membuat sejumlah permukaan, termasuk lantai, terasa berdebu.
"Ada hujan abu, cuma tipis-tipis. Lantai terasa berdebu," ujarnya.
Tisna juga mengaku tidak mendengar suara dentuman dari Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan informasi yang diterimanya, suara dentuman disebut terdengar di wilayah Taman Kopassus yang berada di perbatasan Serang.
"Suara dentuman juga tidak terdengar. Katanya yang terdengar daerah Taman Kopassus, perbatasan Serang," kata Tisna.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di sejumlah wilayah Banten dan Lampung sejauh ini masih relatif ringan. Meski demikian, warga tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

3 hours ago
7













































