GOOTO- Dua puluh menit setelah rombongan touring berangkat, saya tersesat. Dari 20 biker media yang mengendarai Honda New PCX ABS-Roadsync, hanya saya yang keliru jalan. Padahal masih ada 90 kilometer lagi jarak yang mesti ditempuh. Kok bisa?
Iklan
Sesat jalan itu berawal di lampu merah pertigaan Jalan Cargo Permai dan Jalan Gatot Subroto Barat. Saat itu hujan begitu lebatnya. Air langit kencang menghembalang kawasan sunset road, Kuta, Bali, pada Sabtu siang 22 Februari 2025. Seharusnya saya ikut rombongan peserta belok kanan menyusuri Jalan Gatot Subroto Barat, tapi malah dengan percaya diri lurus melaju ke Jalan Mahendradatta. Hujan yang kian lebat mengaburkan konsentrasi saya untuk tetap dalam barisan.
Sekitar tiga kilometer kemudian, ketika melirik spion kanan, saya baru sadar tak lagi tampak lampu-lampu puluhan Honda New PCX 160. Waduh beneran salah jalan, batin saya. Agak panik saya pelan-pelan menepi, dan masuk ke bangunan ruko kosong. Hujan kian deras, langit memutih, pertanda hujan bakal lama dan merata ke penjuru Pulau Dewata.
Saya pun ingat ucapan Vickie Aryadiasa, safety riding Astra Honda Motor (AHM), saat pertemuan teknis sebelum keberangkatan. Dia menyarankan agar peserta membiasakan diri terlebih dahulu dalam mengoperasikan Roadsync. “Terutama tombol multi-function switch yang berada di setang kiri,” katanya.
Setelah tenang saya mulai mengutak-atik sistem navigasi Roadsync dan tombol pengoperasian multi-function switch di setang kiri, persis di atas saklar klakson. Sistem navigasi Roadsync ini akan tampil di layar panel speedometer thin-film transistor (TFT) berukuran 5 inci, di pojok kanan bawah. Tampilan navigasinya berukuran sekitar 4 x 2,5 cm.
Di dalam kotak warna hijau itu akan ditampilkan beragam fungsi yang tidak hanya penunjuk arah perjalanan, tetapi juga pesan dan panggilan masuk, rute favorit, serta musik. Sejumlah fitur itu memang terkoneksi dengan ponsel pintar melalui bluetooth.
Panel thin-film transistor (TFT) yang menampilkan ikon navigasi Roadsync di Honda New PCX 160. Gooto/Nugroho Adhi
True wireless stereo (TWS) Jabra Elite 2 saya pasang di kedua telinga. Baterai ponsel Android masih 87 persen. Cukup untuk menyuplai tenaga ponsel dari kawasan Jalan Mahendradatta, Denpasar Utara hingga ke Tabanan yang berjarak tempuh 37 kilometer itu.
Saya cek kembali tujuan etape pertama yang pemberhentian awal ada di daerah Mekarsari, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali. Indikator navigasi berupa dengan ikon anak panah putih pun muncul. Putar balik di Jalan Mahendradatta dan mengikuti navigasi Roadsync yang secara visual tampil di layar speedometer Honda PCX 160 dan suaranya terdengar di TWS.
Pelan-pelan saya membiasakan diri dengan ‘environment’ baru navigasi ini. Beberapa kilometer kemudian saya merasa ragu dengan sistem navigasi ini. Karena diarahkan melalui jalan-jalan kecil selebar mobil. Berhenti lagi di sebuah ruko di Jalan Angsoka Cargo Permai untuk memastikan jalur sudah tepat.
Kebetulan ada seorang pengemudi ojek online yang berteduh di ruko itu. Kepadanya saya memastikan apakah jalur yang saya lalui sudah benar. Dia mengonfirmasi bahwa saya sudah sesuai dengan tujuan. Syukurlah.
Dengan penuh percaya diri saya kembali mengendarai New PCX 160 ABS-Roadsync warna merah berplat dasar putih menuju perhentian awal etape pertama di kawasan Tabanan. Saking semangatnya, sempat kebablasan di Jalan Cokroaminoto. Putar balik lagi dan menyusuri Jalan Cokroaminoto yang penuh dengan limpahan air hujan di sisi kiri dan kanan jalan. Airnya lumayan kencang menerjang. Tidak saya pedulikan lagi sepatu yang basah kuyup dan roda motor yang terendam seperempatnya.
Mengitari patung Mayor I Gusti Bagus Sugianyar di putaran Jalan Gatot Subroto Timur, belok kiri bablas menelusuri Jalan Ahmad Yani Utara, Jalan Raya Mambal Abian Semai, Jalan Perean Tengah, Jalan Mekarsari-Baturiti-Bedugul, akhirnya sampai di perhentian etape pertama di Secret Garden, Jalan Raya Denpasar-Bedugul Km 36. Butuh waktu satu jam 14 menit dari mulai saya tersesat hingga menemukan perhentian pertama itu.
Perjalanan hari pertama memang cukup melelahkan. Di Bali hari itu bertepatan dengan bulan Saniscara, wuku landep, hari Sabtu kliwon, yang di waktu-waktu tersebut rutin menggelar upacara Tumpek Landep, persembahyangan untuk membersihkan barang dan benda yang terbuat dari besi.
Pura-pura besar yang dilewati ramai menggelar persembahyangan, sehingga lalu lintas beberapa kali tersendat. Sebagian besar motor dan mobil serta kendaraan lain yang terbuat dari besi, dihias sesajian yang terbungkus janur kuning yang dilekatkan di kendaraan, seperti di spion, gril, dudukan plat nomor dan sebagainya.
Hal lain yang cukup menguras tenaga, karena harus beradaptasi suara navigasi di TWS yang tertutup helm, sesekali melirik tampilan petunjuk arah Roadsync di panel speedometer, dan mengemudikan motor, di tengah hujan lebat pula. Namun semua itu terbayar dengan kenikmatan segelas Arabika Bali Kintamani di lokasi berketinggian 600 meter dari permukaan laut (mdpl).
Perjalanan selanjutnya dari Bedugul ke Pantai Lovina, Buleleng, kawasan Bali Utara yang berjarak 47 kilometer lancar ditempuh rombongan touring dalam waktu dua jam. Kali ini, saya nonatifkan Roadsync dan melepas TWS dari telinga. Hal itu karena kedua telinga saya sudah merasa tak nyaman ditempel TWS berjam-jam. Selain tentu saja, sudah bersama rombongan peserta touring.
Touring Honda New PCX 160 Roadsync di Bali. Mencoba fitur navigasi Roadsync yang terdapat di motor Honda New PCX 160. Dok. AHM
Hari kedua perjalanan yang menempuh jarak lebih dari 78 kilometer dimulai dari Pantai Lovina menuju kawasan Ubud. Bisa dibilang touring dua hari dua malam ini ‘membelah’ Pulau Bali menjadi dua. Dari Selatan ke Utara di hari pertama. Dan Utara ke Selatan pada hari ke dua.
Bagaimana dengan cuaca? Mirip dengan perjalanan hari pertama, touring terakhir ini diwarnai hujan yang tak kunjung henti sejak keberangkatan dari Pantai Lovina hingga perhentian pertama di Bali Handara Gate di Pancasari, Sukasada, Buleleng, yang berjarak tempuh sekitar 27 kilometer. Satu jam perjalanan diwarnai dengan jalan mulus berkelok dan hujan sepanjang etape.
Usai rehat di Handara Gate, perjalanan dilanjutkan menuju Lotunduh, Ubud, Gianyar Bali. Butuh waktu lebih dari dua jam untuk sampai ke lokasi. Etape kedua perjalanan terakhir ini, saya hanya menyalakan Roadsync tanpa menyambungkan TWS di kedua telinga. Hanya mengandalkan visual navigasi yang muncul di layar pojok kanan bawah speedometer. Lebih santai dan menikmati perjalanan touring.
Bisa dibilang touring Honda New PCX Roadsync selama dua hari dua malam itu ‘membelah’ Pulau Bali dari Selatan ke Utara dan sebaliknya. Motor metik berkapasitas 160 cc itu melaju dari jalanan dataran rendah di kawasan pantai yang berkisar di 0-30 mdpl (sunset road Kuta dan Pantai Lovina Buleleng), hingga kelokan jalanan dataran tinggi yang berada di 1300 mdpl di kawasan Puncak Indah Bedugul.
Di hari terakhir perjalanan, kejadian tersesat di awal touring saya ceritakan ke General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM) Ahmad Muhibbuddin. “Beneran sampeyan tersesat mas bro, faktor usia itu,” ucap dia sambil tertawa. Asem!
Oiya, fitur Honda Roadsync ini, di Tanah Air baru disematkan di model PCX 160 varian tertinggi. Dan tersedia dalam dua varian warna, hitam dan merah. Walaupun secara internasional Roadsync ini melekat di banyak model sepeda motor Honda, antara lain; CB1000R, CB300F, CB350RS, CB650R, CBR650R, CMX1100 Rebel, NX500, dan XL750 Transalp. (*)