Bagaimana Beras Rendah Emisi di Jawa Tengah Diproduksi

4 days ago 20

PERUSAHAAN teknologi pertanian asal Singapura, Rize, dan Temasek Life Sciences Laboratory (TLL), lembaga riset yang juga berbasis di Singapura, sepakat untuk memperluas proyek beras rendah emisi di Indonesia. Rize dan TTL mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kolaborasi tersebut dalam acara Philanthropy Asia Summit di Singapura pada Selasa, 19 Mei 2026.

“Proyek bersama TLL menunjukkan bahwa praktik pertanian cerdas iklim dapat melampaui tahap percontohan dan memberikan dampak nyata dalam skala besar. Itu merupakan capaian penting,” kata Sheetal Sharma, Head of Innovation and Carbon Rize, seusai mengumumkan MoU.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kedua organisasi meluncurkan uji coba produksi beras rendah emisi di Jawa Tengah, salah satunya di Grobogan, pada Juli 2025. Proyek uji coba lapangan berskala besar ini merupakan upaya berbasis sains untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari budi daya padi tanpa mengorbankan hasil panen maupun kesejahteraan petani.

Uji coba lapangan di Jawa Tengah ini didukung oleh Philanthropy Asia Alliance, aliansi organisasi filantropi yang bergerak di Asia, dan dijalankan bersama Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP). Selama dua musim tanam, uji coba mengetes kombinasi pengelolaan air dan nutrisi, dengan pengukuran emisi pada tingkat petak sawah menggunakan standar laboratorium. Dampaknya terhadap kesehatan tanah, hasil panen, dan pendapatan petani juga dipantau secara bersamaan.

Setelah hampir setahun berjalan, dari produksi di atas lahan seluas 93 hektare, terdapat kenaikan hasil panen 5 persen berkat pupuk dosis optimal dari TLL. Walaupun hasil panen naik, emisi metana turun 30-35 persen dibandingkan dengan praktik konvensional. Rize juga menyebutkan bahwa keuntungan bersih panen naik 5-6 persen selama uji coba. Program pun menjangkau 173 petani kecil.

Karena itulah, Chief Executive Officer Rize, Dhruv Sawhney, menambahkan, organisasinya dan TTL melanjutkan kemitraan strategis selama lima tahun ke depan untuk membawa produksi beras rendah emisi dari tahap validasi skala besar menuju skala komersial. MoU yang baru diperbarui menjembatani inovasi ilmiah mutakhir dengan penerapan di lapangan guna mendukung budi daya padi berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi dampak terhadap iklim.

"Kemitraan ini menunjukkan bahwa memperbaiki cara budidaya padi tidak mengharuskan petani mengorbankan apa pun. Ini adalah temuan penting," kata Dhruv Sawhney.

Kerja sama selama lima tahun ke depan menargetkan produksi 50.000 ton beras berkelanjutan rendah emisi. Selain di Indonesia, proyek pun dilaksanakan di Vietnam.

TLL berkontribusi dengan mencurahkan keahlian di bidang agrobiologi, termasuk pengembangan varietas padi tahan iklim, ilmu mikrobioma tanah, dan protokol agronomi yang ketat untuk memastikan pengurangan emisi dapat diukur dan diverifikasi secara kredibel. Adapun, Rize menerjemahkan pendekatan ilmiah tersebut menjadi dampak nyata melalui keterlibatan intensif dengan petani, pelaksanaan program lapangan berskala besar, yang menghasilkan data berkualitas dan dipercaya pasar, pemerintah, serta standar karbon internasional.

Kedua organisasi akan memperdalam kerja sama di bidang riset, implementasi, dan pengembangan pasar, dengan fokus khusus pada pembangunan rantai pasok beras berkelanjutan yang dapat ditelusuri dan diverifikasi untuk memenuhi kebutuhan pembeli komersial maupun mendukung ketahanan pangan Singapura.

Melalui kemitraan ini, kedua pihak berupaya mewujudkan sesuatu yang telah lama dibicarakan industri namun jarang berhasil diwujudkan, yakni pasokan beras rendah emisi yang terverifikasi dan dapat ditelusuri, yang menghubungkan inovasi di lahan dengan kebutuhan komersial dan ketahanan pangan. “Beras adalah tanaman pangan paling penting di dunia bagi pangan, air, dan iklim. Karena itu, cara kita mengelolanya sangat menentukan," kata Dhruv Sawhney.

Rize adalah perusahaan teknologi pertanian yang berfokus pada dekarbonisasi budi daya padi. Rize memiliki misi memberdayakan petani, mentransformasi budi daya padi, dan memulihkan bumi, dengan target mengurangi 500 juta ton emisi COe pada 2040. Adapun TLL, yang didirikan pada 2002, adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada riset biologi molekuler dan genetika yang berdampak pada sektor pertanian, pangan, bioteknologi industri, dan kesehatan manusia.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |