15 Grup Tari Berkompetisi Di Ksatria Fest 3.0

2 hours ago 5

Sebanyak 15 kelompok atau grup tari dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia siap beradu kreativitas koreografi dalam kompetisi tari bertajuk Ksatria Fest 3.0. Final kompetisi ini akan digelar pada 1-4 Juli 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Ke-15 kelompok ini terseleksi dari 38 kelompok pendaftar.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Para peserta yang terseleksi antara lain kelompok tari Akusara Art (Surakarta), Soca Niskala Sunda (Bandung), Bejani Art and Dance Studio (Ponorogo), Sanggar Tari Sirih Besa (Batam), Centaurus (Sidoarjo), Arunika Dance Crew (Pontianak), Antari’kham (Lampung), Sanggar Seni Dharma Budaya (Pasuruan), Pancakusuma (Rumah Budaya Langen Kusuma) (Blitar), Ayu Langgeng Management (Lumajang), Efek Samping Jaipongan (Sukabumi), Sanggar Patih Gumantar (Mempawah), Sanggar Hulondhalangi Entertainment (Gorontalo),Terrafic (Yogyakarta), dan Pelita Budaya (Belitung)

Sebelumnya panitia membuka ajang kompetisi dan melakukan serangkaian seleksi di babak penyisihan secara daring sejak 4 April- 30 Mei lalu. Dalam kompetisi kali ini panitia mengusung tema koreografi tradipop, yakni koreografi yang mengedepankan nilai tradisi dan pendekatan populer. Kompetisi Ksatria Fest 3.0 ini sudah berlangsung untuk yang ketiga kalinya.  Kompetisi ini akan memilih pemenang  dalam beberapa kategori yakni kategori solo, duet dan kelompok. 

Sutradara kreatif  sekaligus inisiator Ksatria Fest, Bathara Saverigadi Dewandoro, peraih medali emas  PON pada cabang Traditional Dance Sport, menyampaikan bahwa Ksatria Fest tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi juga membangun identitas dan tanggung jawab bagi para pemenangnya.

 “Para pemenang Ksatria Fest akan mendapatkan gelar kehormatan, yaitu Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Garda Ksatria Tari Indonesia untuk duet, dan Wira Ksatria Tari Indonesia untuk solo,” ujar Bathara saat konferensi pers di Galeri Indonesia Kaya, 17 Juni 2026.

Libatkan Lima Juri

Lima juri akan memilih peserta terbaik dari kategori yang dikompetisikan. Mereka antara lain Hartati-seorang penari senior; Siko Setyanto pendiri kelompok tari Resiko Berkelompok dan Dansity Dance Company; Ronald Soe- seorang sutradara kreatif dan produser; Echa Laksmi-penari dan digital creator, Bagaskoro P.D- seorang komponis di Swargaloka. Panitia juga akan melibatkan masyarakat yang terdiri dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar, pecinta tari,
hingga masyarakat umum untuk ikut menilai.

Para peserta atau yang disebut Laskar Ksatria Tari ini nantinya akan dinilai kreativitasnya dari aspek teknis, koreografi, komposisi musik dan penampilan kostum dan desain di panggung. Tiap peserta dibatasi waktu penampilannya yakni sekitar empat menitan. Siko sebagai perwakilan juri menyatakan memastikan memilih peserta yang akan dipilih adalah mereka yang menampilkan aspek terbaik. “Dengan pengalaman kami, saya tahu mana yang menampilkan dengan kesungguhan,”ujar Siko.

Bathara mengatakan gelar ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam perkembangan industri tari serta menginspirasi generasi berikutnya. Mereka berharap para pemenang dapat menjadi figur idola baru generasi muda dengan kualitas teknik dan kreativitas yang menjadi daya tarik yang relevan dengan zamannya.

Tari Tradisi, Pop dan Industri Tari

Kompetisi tari mengambil konsep tradisi pop atau tradipop karena kebutuhan. Menurut Bathara, konsep tradipop lahir dari kebutuhan industri kreatif saat ini yang menuntut karya tari yang ringkas, kuat secara visual, dan mudah diakses tanpa kehilangan esensi budaya.

“Dalam banyak kebutuhan industri, seperti televisi atau media digital, tari tradisi sering kali dipotong secara tidak utuh karena keterbatasan durasi. Tradipop hadir sebagai jawaban—sebuah format tari yang sejak awal dirancang singkat, eye-catching, dan memiliki kekuatan visual,” ujarnya. Karena itu para peserta dituntut bisa menampilkan kreasinya dalam waktu yang telah ditetapkan.

Namun tradipop ini kata Bathara, posisinya bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan sebagai pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya yang lebih dalam. Kompetisi ini dihelat oleh Swargaloka, sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan, pelestarian, dan inovasi seni pertunjukan di Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade, organisasi yang didirikan  oleh didirikan oleh Suryandoro ini aktif mendorong pertumbuhan ekosistem seni.

Ksatria Fest juga dipandang sebagai langkah strategis dalam menciptakan idola tari Indonesia
yang mampu menjadi wajah baru promosi budaya. Dengan pendekatan kreatif yang mengakar
pada tradisi namun dikemas dalam estetika yang segar dan dekat dengan generasi muda,
festival ini membuka ruang bagi lahirnya ide-ide baru yang inovatif dan kompetitif di tingkat
nasional maupun internasional.

Pilihan editor:

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |