Bakal Temui Xinyi Group, Iftitah Sulaiman: Bukan untuk Ngotot Investasi di Rempang

1 day ago 16

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyebut rencana pertemuan dengan Xinyi Group dilakukan untuk memastikan kelanjutatan investasinya di Pulau Rempang. Adapun rencananya, investor asal Cina itu akan membangun pabrik pengolahan pasir silika di Rempang Eco City.

“Untuk memastikan benar tidak akan ada investasi, bukan dalam rangka ngotot investasinya,” kata Iftitah kepada Tempo usai kunjungan ke Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Senin, 31 Maret 2025.  

Menurut Iftitah, kelanjutan investasi perlu dipastikan agar pemerintah tidak salah mengambil kebijakan. Misalnya, terkait dengan penanganan warga terdampak proyek. “Kalau tidak ada investasi, ngapain relokasi (warga)” ucap Iftitah.

Akan tetapi, ia belum memastikan kapan akan melawat ke Cina untuk menemui Xinyi Group. Ia akan meminta restu Presiden Prabowo Subianto terlebih dahulu. Terlebih, kata dia, pemerintah saat ini juga menghemat anggaran dengan mengurangi perjalanan dinas ke luar negeri. 

“Tapi kembali lagi, fokus saya adalahh memastikan bahwa investasi ada. Kedua, investasi itu tidak meniadakan hak masyarakat,” kata  Iftitah.

Adapun terhadap warga yang tergusur pengembangan Rempang Eco City, Iftitah berencana mengakomodasinya lewat program transmigrasi lokal. Ia mengklaim program ini bukan program paksaan. Karena itu, ia melakukan dialog dengan warga hingga merayakan Lebaran di Pulau Rempang sejak 29 hingga 31 Maret 2025 untuk menyerap aspirasi warga. Selanjutnya, ia akan menetapkan Rempang sebagai Kawasan Transmigrasi.

Saat bersilaturahmi Lebaran dengan warga yang menyetujui direlokasi di Tanjung Banon pada Senin, 31 Maret 2025, Iftitah menyampaikan bahwa transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan orang. Dia mengklaim transmigrasi sebagai transformasi menuju kehidupan yang lebih baik. Melalui transmigrasi, ia menyatakan keinginannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya dari sisi pendapatan tapi dari sisi keamanan, kenyamanan, ketentraman, dan kebahagian.

"Tapi maaf, kami tidak punya resep ajaib yang bisa menyulap dalam waktu singkat membuat masyarakat sejahtera," ucap Politikus Partai Demokrat itu. "Kami  butuh bantuan dan dukungan."

Sementara itu, Subhandi—seorang warga Kampung Pasir Panjang, Kelurahan Sembulang yang masih menolak relokasi—menyampaikan warga tidak mau dipindahkan dari tempat tinggalnya karena mata pencaharian. "Kami sudah terbiasa menjadi nelayan," ucap Subandi dalam dialog bersama Iftitah pada Minggu, 30 Maret 2025.

Namun, ia berharap kecipratan program peningkatan kesejahteraan dari pemerintah, yakni dengan diberdayakan melalui program transmigrasi. Subhandi mengatakan warga meminta diakomodasi agar bisa mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada.

Seorang warga Kampung Pasir Panjang lainnya, Sana Rio, mengatakan hal yang diinginkan warga bukan transmigrasi melainkan legalisasi hak atas tanah mereka. Pasalnya, warga sudah menduduki Pulau Rempang secara turun temurun sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Salah satu buktinya, ia memiliki nenek berusia 105 tahun.

"Kami ingin legalitas," kata Sana Rio. "Rempang ini kosong. Kalau ada warga masuk, silakan. Tapi bukan kami yang harus digeser."

Merespons hal tersebut, Iftitah Sulaiman mencatat dan berjanji akan mencari jalan keluar. Ia juga meminta warga bersabar. "Pesannya sangat jelas, saya terima, yaitu sejahtera tanpa harus pindah. Ini akan coba kami pikirkan," ujarnya.

Pilihan Editor: Solidaritas Nasional untuk Rempang Nantikan Surat Balasan dari Cina

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |