Sastrawan Bali Oka Rusmini kembali menerbitkan karya terbarunya, sebuah buku Kumpulan puisi berjudul Kembang, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka. Karyanya kali ini membongkar, dan menggali ingatan sejarah perempuan yang terkubur kuasa politik, agama dan tradisi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Buku ini menandai fase pendewasaan estetik sekaligus politis bagi penulis yang selama empat dekade konsisten membongkar konstruksi adat dan patriarki. Oka tidak lagi melontarkan kritik secara lantang, melainkan ‘berbisik’ di dapur dan lorong sejarah.
Mirna Yulistianti, editor senior Gramedia Pustaka Utama, menilai karya Oka kai ini sebagai sebuah pencapaian yang sangat arsitektural. Menurutnya, Oka memperlakukan teks layaknya bangunan presisi yang dirancang dengan tata ruang bahasa efisien, fondasi mitologi budaya yang kukuh, serta struktur elemen yang saling menginci.
“Alih-alih mengandalkan luapan emosi yang cair, Oka menyusun puisi melalui konstruksi rigid dan terukur. Setiap kata berfungsi sebagai pilar ataau sekat untuk menciptakan ruang politis yang tajam,”ujar Mirna dalam siaran pers yang diterima Tempo, 22 Juli 2026.
Mirna menuturkan, dengan presisi matematis, Oka tidak sekadar merangkai baris, tetapi mendesain bangunan, makna yang stabil, berkarakter, dan memiliki beban naratif yang mendalam bagi pengungkapan pengalaman perempuan penyintas peristiwa 1965.
Pilihan Editor:
Humor Pahit dalam Katri dan Waktu Itu Hujan Rintik
Dari Gugatan Sosial ke Pengarsipan Ingatan
Buku-buku Oka sebelumnya lahir dan bertumpu pada konflik terbuka dan pemberontakan terhadap adat serta norma sosial. Hal ini bisa dilihat dari buku Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), Koplak (2019), dan Jerum (2020). Buku Kembang, mengambil jalan yang lebih sunyi.
Oka menyatakan karyanya kali ini adalah proses ‘ekshumasi’ atau penggalian kembali trauma sejarah, khususnya tragedi 1965, yang diendapkan dalam tubuh perempuan.”Menurutku, sejarah Indonesia sebagai ruang patriarkis tempat pengalaman perempuan seringkali dihilangkan dari catatan,” ujar Oka.
Melalui pendekatan mikrosejarah yang intim, Oka menjahit fragmen keseharian para penyintas: Karminah dan Kusdalini, yang menjadi narasi puitis dan mendalam.
Oka menceritakan proses kreatif Kembang ini dipicu film documenter yang disutradarai Fanny Chotimah, You and I (2020). Sebuah film yang merekam keseharian dua penyintas peritiwa 1965, Kusdalini dan Karminah (keduanya sudah meninggal, pada 2017 dan 2018) yang menua bersama dalam kesahajaan di Solo.
Kisah dua perempuan penyintas ini ditambah lagi dorongan sebuah documenter lain berjudul A Secret Love karya Chris Bolan, buku foto Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik HS, serta berbagai literatur akademik, mendorong Oka membedah sisi retak sejarah tersebut.
“Penulisan buku puisi ini sebagai ziarah intelektual yang menguras batin,” ujarnya.
Ia mengatakan menulis kisah tentang penyintas perempuan ini berbeda dengan penyintas laki-laki. Pada penyintas laki-laki umumnya mengalami represi politik dan fisik, tetapi pada penyintas perempuan mereka menghadapi trauma berlapis yakni penyiksaan fisik sekaligus kekerasan seksual. Membincangkan peristiwa 1965 berarti membangkitkan kembali ingatan tentang penghacuran martabat.
Beban moralitas yang dikonstruksikan masyarakat memaksa mereka bergeser ke ranah domestik. Untuk memastikan anak-anak dan keluarga mendapatkan pendidikan serta identitas yang aman dari stigma, adalah bentuk politik bertahan hidup yang paling nyata. Diam menjadi perisai agar publik tidak kembali menguliti kehidupan yang susah payah mereka bangun.
"Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah," tutur Oka.
Estetika "Mistisisme-Domestik" dan Strategi Bentuk
Secara estetik, Kembang menawarkan langgam baru yang dinamai Oka sebagai "Mistisisme-Domestik". Gaya ini mengawinkan diksi arkaik yang magis, peribahasa usang, dan rima berakhiran digraf /ng/ dengan realitas ruang domestik yang amis sekaligus brutal.
Oka secara sadar membenturkan keindahan bunga (kenanga, melati, mawar) dengan anyir darah, bau ompol, kesepian, aroma soto panas, kerupuk, param, dan tubuh yang mulai sakit-sakitan. Peleburan ini sengaja dirancang untuk memicu guncangan batin antara wangi keindahan dan maut.
Hal ini sengaja dibuat sebagai stategi dekonstruktif untuk menghancurkan logosentrisme dan hierarki bahasa. Ia menggunakan tipografi huruf nonkapital secara menyeluruh. “Keputusan ini bukan sekadar gaya visual, melainkan taktik untuk memberikan ruang bagi aliran kesadaran yang jujur, telanjang dan demokratis,”ujarnya.
Kembang dan Monumen bagi Kemanusiaan
Judul Kembang bagi Oka adalah sebuah ironi yang tajam.Kembang atau bunga yang biasanya identik dengan kelembutan, tapi di tangan Oka bertransformasi menjadi simbol ketangguhan. Kembang adalah metafora bagi perempuan yang tetap tumbuh dan mereka di atas retakan sejarah yang kelam, meski dipaksa hidup dalam sunyi, stigma dan penghapusan identitas.
Melalui Kembang, Oka ingin merebut kembali kedaulatan memori yang disenyapkan, membuktikan bahwa sastra adalah instrumen keadilan. Di saat pengadilan hukum formal kerap menemui jalan buntu, buku ini menawarkan rekonsiliasi kultural- ritual penyucian sejarah yang mengembalikan martabat penyintas 1965 di masa senja mereka.
Pilihan Editor:
















































