GRUP band punk asal Bogor, The Jansen, merilis album penuh kelimanya bertajuk Romantisasi Impulsif pada Rabu, 22 Juli 2026. Karya baru ini diawali dengan perilisan single "bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)” dan “andai kita tumbuh besar nanti”.
Konsep album ini meneruskan bagian dari dua album terakhirnya yakni Durja Bersahaja (2024) dan Banal Semakin Binal (2022). Romantisasi Impulsif berangkat dari tiga kata yakni jika, bila, dan andai, sebagai awalan kata judul-judul lagunya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di album ini, The Jansen seakan mengajak pendengar merenungi dan tetap pada kesimpulan hidup ini memang penuh sansai. Hidup di era melarat, era ketikapastian adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Bagi sebagian besar lain, hidup dijalani dengan penuh tanda tanya dan harapan yang digantungkan pada kata "jika" dan "andai".
The Jansen dalam album ini bertindak seperti pembawa berita. Bukan berita dari stasiun televisi atau koran, tapi berita dari pinggir rel, pasar yang becek, rumah petakan kaum miskin kota, sekolah kecil di daerah terpencil dan yang terpenting dari hati Johan dan Marni, sebagai karakter fiksi yang diciptakan mengiringi album ini.
Pemain bas dan penulis lirik, Adji Pamungkas, mengatakan The Jansen ingin penawaran lain atas pembacaan album. “Pendekatan aku menulis Romantisasi Impulsif itu seperti film dan novel. Jadi kalau di buku-buku kan ada istilah trilogi, tetralogi, kenapa enggak kami coba di album. Jadi album ini ibaratkan sebuah ide cerita,” tuturnya di Jakarta Selatan, Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut Adji, 12 lagu di Romantisasi Impulsif sudah punya alur, karakter, konflik, dan resolusi yang siap dijadikan sebuah film. Ia juga menuturkan judul Romantisasi Impulsif dianggap merepresentasi tema yang dibawa di tiap lagu. “Romantisasi itu jadi toxic positivity, bagaimana kita meromantisasi apapun. Ditambah Impulsif, jadi kayak toxic-nya itu berlapis-lapis. Kehidupan yang toxic banget,” kata dia.
Tampilan visual sampul album kelima The Jansen bertajuk Romantisasi Impulsif , 22 Juli 2026. Dok. The Jansen
Namun, obsesi The Jansen terhadap film bukanlah kebetulan, sebab latar belakang keluarganya memang aktif di dunia film. "Kami sejak kecil dekat dengan dunia film. Orang tua kami orang film. Mungkin itu secara tidak langsung mempengaruhi cara kami berkarya,” kata gitaris dan vokalis, Cinta Rama Bina Satria alias Tata.
Sebab itu, cara mereka menyusun dinamika lagu, dari sunyi ke ramai, dari jernih ke fuzz, seringkali terasa seperti pergantian adegan. Bukan sekadar teknik bermusik, tapi soal ritme emosional yang biasa ditemukan dalam narasi visual.
Selain itu, warna suara yang dihadirkan dalam album ini pun berbeda dari karya The Jansen sebelumnya mengingat ada pendekatan post-punk ala 1980-an awal. Ada tangga nada dan ornamentasi khas musik Arab yang meliuk-liuk. Ada sentuhan gitar Spanyol yang flamenco dan dramatis. Ada pula nuansa scale gitar Cina yang pentatonik dan menusuk perlahan.
Semuanya dikawinkan dengan ciri musik The Jansen yang sudah dikenal: fuzz, reverb basah, vokal Tata yang terasa dari balik tirai, danpetikan-petikan penuh chorus. Hasilnya adalah sebuah album yang terdengar asing tapi akrab. “Kami selalu senang membuat sesuatu dengan pendekatan yang baru. Kami suka bereksplorasi, mengerjakan sesuatu yang dimulai dari keisengan,” ujar Tata.
Proses perekaman album ini dimulai pada 2025 dan dilakukan di Jansen HQ, rumah kontrakan yang mereka sewa dan jadikan markas sekaligus studio. Di rumah kontrakan itulah hampir seluruh elemen dasar album ini direkam, dengan proses pengerjaan yang terbilang jauh lebih lama dibandingkan album-album sebelumnya.
Meski Tata dan Adji masih menjadi motor utama di balik pengerjaan Romantisasi Impulsif, namun album ini juga melibatkan sejumlah musisi lain yang turut memperkaya warnanya. Di belakang drum, ada Daryl Gema yang mengisi rekaman drum. Gitar kedua dimainkan oleh S Yonatan, sementara gitar akustik diisi oleh Andreas Yendra. Sentuhan tambahan hadir dari Ayu Muthia Zahra yang tidak hanya memainkan tambourine tetapi juga mengisi backing vocal.
Di sisi produksi, Nabil Hatomi bertindak sebagai vocal director sekaligus recording engineer bersama Muhamad Nurdin. Proses mixing dilakukan oleh Muhamad Nurdin di Dune Audio, sementara mastering dipercayakan kepada Daniel Husayn di North London Bomb Factory Mastering. The Jansen sendiri bertindak sebagai produser eksekutif untuk album mereka.

















































