Diskusi dengan Peserta Parlemen Remaja, Puan Ungkap DPR Sering Kena Hoaks

1 hour ago 15

INFO TEMPO - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI Puan Maharani menerima audiensi peserta Parlemen Remaja (Parja) Terbaik untuk tahun 2024 dan 2025. Dalam diskusi hangat dengan Parja Terbaik itu, Puan menyinggung soal DPR yang kerap dihantam hoaks.

Audiensi Puan dengan peserta Parja Terbaik 2024 dan 2025 digelar di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 12 Agustus 2026. Dalam kegiatan ini, Puan didampingi oleh Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, Anggota Komisi XI DPR Diah Pikatan Orissa Putri Haprani atau Pinka Hapsari, dan Anggota Komisi V DPR RI Mochamad Herviano Widyatama.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Parja DPR RI merupakan program edukasi politik dan demokrasi tahunan DPR bagi pelajar Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau Madrasah Aliyah sederajat. Program ini memberi kesempatan bagi siswa terpilih untuk merasakan langsung pengalaman menjadi Anggota dewan dan melakukan simulasi sidang di Gedung DPR RI.

Terdapat total 12 peserta Parja Terbaik 2024 dan 2025 yang diagendakan mengikuti audiensi dengan Puan. Satu siswa berhalangan hadir, namun akan menyusul Parja Terbaik lainnya menghadiri Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus nanti.

“Saya terinsipirasi dengan prestasi dan teladan kalian para peserta Parlemen Remaja di daerah masing-masing,” kata Puan saat audiensi.

Adapun untuk mengikuti Parja DPR RI, peserta harus melalui tahap seleksi. Mayoritas peserta merupakan siswa teladan yang memiliki prestasi di bidangnya masing-masing, seperti menjadi Duta di daerahnya, pemenang lomba atau kejuaraan, dan lain-lain.

Puan kemudian mengajak peserta yang hadir berdiskusi tentang pengalaman mereka saat mengikuti Parja DPR. Termasuk apa yang mereka dapat setelah mengikuti program.

Salah satu perwakilan Parja Terbaik 2025, Muhammad Fattan Faydzulhaq bercerita dia pernah mendapat tudingan sebagai buzzer pemerintah usai mengikuti program Parja Parlemen tahun lalu.

Berkaitan hal tersebut, Puan mengatakan tidak mudah menjadi anggota DPR karena sering mendapat tudingan-tudingan yang kurang baik. Menurutnya, DPR juga sering menjadi sasaran hoaks dan mendapat serangan di media sosial, termasuk dirinya.

“Contohnya seperti RUU Perampasan Aset, kan hoaksnya disebutkan DPR tidak mau mengesahkan. Di konten-konten hoaks itu, foto Ketua DPR juga terus disebar,” ujar Puan.

“Padahal yang sebenarnya adalah RUU Perampasan Aset sedang dibahas dan tahapannya saat ini DPR sedang meminta masukan masyarakat. Begitu banyak masukan sedang didengar dari berbagai elemen masyarakat. Dan DPR juga sedang terus mengkaji agar RUU Perampasan Aset tidak tumpang tindih dengan UU lain yang sudah ada,” lanjutnya.

Dalam tanya jawab dengan Puan, Fattan Faydzulhaq juga menginggung mengenai rumitnya proses pembahasan undang-undang di DPR. Hal itu ia ketahui setelah mensimulasikan proses legislasi saat program Parja 2025.

“Ternyata penyusunan UU tidak semudah membalik telapak tangan, karena saya merasakan sendiri saat simulasi di Parja. Saya menjelaskan mengenai hal ini ke teman-teman saya,” ujar Fattan yang kini menjadi Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Universitas Airlangga tersebut.

Puan menerangkan alur penyusunan dan pembahasan RUU di DPR. Ia menjelaskan mengapa ada UU yang cepat pembahasannya, dan ada juga yang pembahasannya lambat.

“RUU yang cepat pembahasannya biasanya yang perubahannya tidak terlalu banyak seperti satu ayat atau satu pasal. Kalau yang mulai dari nol itu yang bisanya lama. Proses pembahasan antara DPR dan Pemerintah memerlukan waktu,” papar Puan.

Parja Terbaik 2025 dan 2026 juga berdiskusi dengan anggota DPR lain yang hadir dalam audiensi ini. Mereka banyak mendapat pemahaman isu mengenai keparlemenan. Misalnya, isu keterwakilan perempuan di DPR yang disampaikan Wakil Ketua BKSAP Irine Yusiana Roba.

“Saat ini DPR punya sejarah karena Ibu Puan adalah perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR di Indonesia. Dan dari kepemimpinan Ibu Ketua, lahir sejumlah UU yang ramah gender, keterwakilan perempuan di DPR juga naik. Ketika perempuan berdaya maka negara akan kuat,” ucap Irine.

Anggota Komisi XI DPR RI, Pinka Hapsari menegaskan DPR selalu terbuka dengan aspirasi masyarakat. Ia juga bercerita mengenai pengalamannya sebagai salah satu anggota DPR dari kalangan muda.

Decision making memang tidak mudah, tetapi di DPR tetap bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi rakyat. DPR juga selalu terbuka, karena sidang-sidang komisi bisa dilihat secara live oleh masyarakat,” ucap Pinka.

Anggota Komisi V DPR, Herviano menyatakan siap memperjuangkan aspirasi dari Parja DPR. Seperti aspirasi mengenai peningkatan infrastruktur di daerah-daerah.

“Aspirasi tentang infrastruktur akan terus diperjuangkan di komisi, terutama di Komisi V DPR yang memang membidangi soal urusan infrastruktur,” sebut Herviano.

Di akhir pertemuan, para Parja DPR Terbaik 2024-2025 menyampaikan harapannya untuk DPR, termasuk agar dewan tetap menjadi wadah positif dan transparan, serta selalu berdiri untuk rakyat Indonesia.

“Semoga DPR terus menjadi wadah bagi suara rakyat, serta menjalankan check and balances,” ucap perwakilan Teladan Parja 2024, Jovanka Anabelle Garcia Silaban.

Dalam kesempatan itu, Puan menitipkan pesan kepada para peserta Parja DPR Terbaik 2024-2026, 

“Program Parlemen Remaja dimaksudkan untuk peserta memahami cara kerja parlemen. Peserta Parja bisa menjelaskan apa pengalaman dan pengetahuan yang didapat saat menjadi Parja, termasuk melalui medsos. Jangan sampai termakan hoaks,” ungkap Puan.

“Kami berharap program Parja DPR dapat bermanfaat buat peserta. Semoga peserta Parja dapat melihat bahwa di DPR masih banyak yang bekerja, hanya saja tidak terliput di media,” katanya. (*)

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |