TIM dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat tas ransel khusus untuk penyemaian bibit rotan. Perancangan tas yang dinamakan ITB Smart-Nursery Backpack itu bertujuan membantu petani rotan di Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
“Agar mereka dengan medan hutan yang berat bisa membawa bibit rotan untuk dibesarkan di alat ini untuk menaikkan tingkat kelangsungan hidupnya,” kata ketua tim Acep Purqon kepada Tempo, Senin, 27 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB itu mengatakan 80 persen produk rotan dunia berasal dari Indonesia, di mana bahan baku rotan terbanyak atau hampir 56 persen berasal dari Donggala, Sulawesi Tengah.
Masalahnya, regenerasi rotan di alam menghadapi tantangan serius, terutama pada fase perkecambahan atau germinasi dan pertumbuhan awal. “Banyak biji gagal berkecambah, sementara bibit muda yang tumbuh tanpa perlindungan rentan terhadap serangan hama dan tekanan lingkungan,” ujar Acep.
Kondisi tersebut menyebabkan tingkat keberhasilan hidup (survival rate) bibit rotan di habitat alami umumnya tidak melebihi 5 persen sehingga mengancam keberlanjutan rotan sebagai sumber daya yang bernilai ekologis sekaligus ekonomis.
Karena itu Acep bersama kolega dosen, yakni Deny Willy Junaidy dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, dan Ramadhani Eka Putra dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, serta sejumlah mahasiswa ITB merancang tas ransel untuk membawa bibit rotan sekaligus sebagai tempat penyemaian benihnya selama tiga bulan di rumah petani. ”Lalu dibawa lagi ke hutan untuk tumbuh,” ujar Acep.
Petani rotan di Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, memakai ITB Smart-Nursery Backpack untuk mengambil bibit rotan di hutan untuk disemaikan, 24 Juli 2026. (Dok.Tim ITB)
Menurutnya, tim kini telah membuat tiga unit tas purwarupa seharga Rp 7 juta yang telah dihibahkan dan digunakan oleh petani rotan. Dari permintaan petani, tas ransel itu dimungkinkan untuk dikembangkan, misalnya dengan penambahan baki agar lebih banyak bibit yang bisa diangkut.
“Pengembangan berikutnya adalah untuk lebih ramah dipakai perempuan sehingga memiliki aspek kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI), juga untuk kebutuhan riset dan inovasinya,” kata Acep.
Tas ransel itu dibuat dengan mesin cetak tiga dimensi menggunakan bahan filamen PLA (Polylactic Acid). Beratnya dalam kondisi kosong sekitar 5-7 kilogram dengan ukuran lebar 48,6 sentimeter, tinggi 67 sentimeter, dan tebalnya 24,5 – 28,7 sentimeter.
Menurut anggota tim, Deny Willy Junaidy, tas ransel itu dirancang agar petani bisa membawa bibit rotan dari hutan ke rumah. “Lalu dirawat dalam ransel selama proses germinasi atau dari biji menjadi kecambah hingga tumbuh tunas selama tiga bulan kemudian dikembalikan ke hutan,” katanya.
ITB Smart-Nursery Backpack bisa menampung 50 hingga 100 bibit rotan. Tim melengkapi bagian dalam tas dengan perangkat sistem penyiraman otomatis, lampu ultraviolet, sensor kelembapan, dan pelindung dari hama.
Teknologi tersebut memungkinkan bibit rotan dirawat secara optimal di lingkungan rumah pada fase awal pertumbuhan, sebelum dipindahkan kembali ke kawasan hutan sehingga peluang hidupnya meningkat secara signifikan.
Sistem penyemaian bibit dalam tas itu pun dirancang agar bisa dipantau dan dikendalikan melalui aplikasi di telepon pintar. Dengan cara itu masyarakat dan petani rotan dapat berperan langsung membantu proses perkecambahan dan perawatan bibit rotan pada fase kritis selama tiga bulan pertama dari rumah.















































