Gunungkidul Ajukan 5.000 Tangki Air, Anggaran Diprediksi Habis Awal September

5 hours ago 18
ilustrasi krisis air bersih saat musi kemaruIlustrasi kemarau | Pixabay

GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Persoalan kekeringan di Gunungkidul belum menunjukkan tanda akan segera berakhir. Ketika musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November, anggaran penyaluran bantuan air bersih milik pemerintah daerah justru disebut bakal habis pada awal September.

Situasi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan yang sebelumnya berakhir pada 31 Agustus 2026.

Perpanjangan status saat ini masih dalam proses di lingkungan Pemkab Gunungkidul dan direncanakan berlaku hingga akhir November 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Purwono mengatakan keputusan memperpanjang status tersebut berkaitan dengan prediksi musim kemarau yang masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

“Siaga darurat bencana hidrometeorologi diperpanjang hingga akhir November,” kata Purwono, Rabu (2/9/2026).

Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi salah satu pertimbangan pemerintah daerah. Kondisi tersebut sekaligus menjadi dasar untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kebutuhan air bersih di berbagai wilayah Gunungkidul.

Hingga saat ini, BPBD telah menyalurkan bantuan air bersih ke 34 kalurahan yang terdampak kekeringan.

Namun, cakupan wilayah yang membutuhkan bantuan diperkirakan masih akan bertambah seiring berlanjutnya musim kemarau.

Pengalaman pada 2023 menjadi salah satu gambaran. Saat itu, sekitar 70 kalurahan tercatat mengajukan permintaan bantuan air bersih.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan tambahan anggaran menjadi mendesak. BPBD Gunungkidul menyebut alokasi anggaran yang tersedia diperkirakan hanya mampu bertahan hingga awal September.

“Anggaran kami akan habis awal September, dan sudah ajukan tambahan anggaran 5.000 tangki air lewat BTT. Tapi, sekarang masih dalam proses,” kata dia.

Pengajuan tambahan tersebut diharapkan dapat menopang distribusi air bersih apabila permintaan masyarakat terus meningkat hingga akhir musim kemarau.

Pemkab juga berharap perpanjangan status siaga darurat dapat memperkuat dasar pengalokasian tambahan anggaran melalui skema Belanja Tak Terduga (BTT).

Dengan demikian, pemerintah daerah memiliki ruang fiskal untuk melanjutkan dropping air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

Di tengah kondisi tersebut, BPBD mengingatkan masyarakat untuk menggunakan air secara hemat. Warga diminta memanfaatkan persediaan yang ada sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pemborosan.

DPRD Dorong Sumber Air Dioptimalkan

Sementara itu, Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini meminta pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan pola distribusi air menggunakan tangki ketika kekeringan terjadi.

Menurutnya, potensi sumber-sumber air yang ada di Gunungkidul perlu dikelola secara optimal agar dapat menjadi solusi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.

“Potensi sumber dapat terkelola dengan baik, maka kebutuhan di masyarakat akan terpenuhi,” kata dia.

Dorongan tersebut menjadi penting mengingat persoalan kekeringan di Gunungkidul berulang setiap musim kemarau. Distribusi air bersih melalui tangki menjadi solusi cepat, tetapi kebutuhan masyarakat akan terus muncul selama sumber air belum mampu menjamin ketersediaan pasokan.

Dengan prediksi kemarau yang masih berlangsung hingga November, pemerintah daerah kini menghadapi tantangan ganda: memastikan bantuan air bersih tetap tersedia sekaligus mencari solusi agar ketergantungan terhadap dropping air tidak terus berulang setiap musim kemarau. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |