Ilmuwan Cina Garap Rudal Siluman Baru, Terinspirasi dari Insiden Kapsul Boeing

3 hours ago 8

TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah ilmuwan asal Cina menemukan teknologi baru yang dapat membuat rudal semakin sulit dideteksi atau dicegat oleh sistem peringatan dini. Pengembangan teknologi rudal siluman ini digadang-gadang dapat mengubah dinamika peperangan modern.

Dikutip dari Live Science, terobosan ini menyangkut metode penyuntikan helium ke dalam mesin roket. Helium disuntikkan melalui pori-pori mikroskopis langsung ke dalam ruang pembakaran, sehingga bisa bercampur dengan bahan bakar. “Metode ini tetap menekan bahan bakar dan memungkinkan reaksi yang lebih efisien, sekaligus mengurangi kemungkinan kebocoran,” kata para peneliti dalam laporannya, dikutip pada Jumat, 28 Februari 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Penelitian ini membuktikan bahwa rasio helium yang tepat bisa membuat mesin roket menghasilkan daya dorong lebih dari tiga kali lipat daya lebih besar. Jumlah helium yang diinjeksikan ke mesin juga secara teoritis memungkinkan pengubahan kecepatan roket saat terbang. Manipulasi kecepatan ini membuat sebuah rudal sulit terlacak oleh radar.

Injeksi helium ini juga bisa mengurangi panas berlebih pada roket, sehingga sulit terdeteksi oleh sistem peringatan dini berbasis inframerah, seperti satelit Starshield milik SpaceX. “Jejak gas buangnya bisa hingga 2.880 derajat Fahrenheit (1.600 derajat Celsius) lebih dingin dibandingkan dengan roket setara,” tutur para peneliti, dikutip dari Live Science.

Penelitian ini pertama kali dipublikasikan dalam jurnal Physics of Fluids pada September 2024. Substansinya dikembangkan lebih lanjut dalam studi terbaru yang diterbitkan melalui jurnal Acta Aeronautica et Astronautica Sinica pada 10 Februari 2025. Jika terbukti efektif dalam uji coba nyata, teknologi ini bisa mengubah wajah peperangan modern dan eksplorasi luar angkasa.

Inspirasi pengembangan teknologi ini berasal dari insiden yang menimpa astronaut NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2024. Kapsul Boeing Starliner mengalami kebocoran helium di beberapa titik, menyebabkan astronot Butch Wilmore dan Suni Williams terdampar di ISS lebih lama dari yang direncanakan. Untuk mencegah risiko, NASA mengembalikan kapsul ke bumi tanpa awak.

Para ilmuwan Cina mempelajari insiden ini dan menemukan cara untuk mengatasi kebocoran helium. Teknik penyuntikan helium secara langsung ke dalam ruang bakar kini lebih aman dan efisien.

Selain dalam persenjataan, teknologi ini juga dapat digunakan dalam eksplorasi luar angkasa. Roket berbahan bakar padat lebih murah dibanding roket berbahan bakar cair. Artinya inovasi baru bisa menekan biaya peluncuran roket secara signifikan.

Teknologi pendorong roket sebenarnya pernah dikembangkan oleh negara lain, namun masih terbatas. Amerika Serikat dan Rusia mencoba mengembangkan sistem propulsi roket yang lebih efisien, mulai dari pemakaian bahan bakar hybrid hingga teknik reduksi tanda panas. Sayangnya, kebocoran bahan bakar dan efisiensi propulsi masih menjadi tantangan besar. Dengan inovasi baru yang lebih praktis dan murah, Cina bisa menjadi pemain utama dalam persaingan teknologi roket.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |