TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah wisatawan asing di Jepang pada Januari 2025 melonjak 40,6 persen di angka 3,78 juta, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 2,68 juta kedatangan. Pelancong asal Cina meningkat lebih dari dua kali lipat, sebagian karena memanfaatkan liburan Tahun Baru Imlek untuk bepergian. Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), kenaikan selama enam bulan juga didorong oleh peningkatan pengunjung dari Hong Kong, Taiwan, Australia, dan Amerika Serikat untuk olahraga salju.
Pada 2024, Jepang menyambut 36,87 juta wisatawan mancanegara, jauh lebih tinggi dibanding tahun 2023 sebanyak 25,07 juta orang. Angka tersebut melampaui rekor tertinggi pada 2019 dengan hampir 32 juta turis. Jumlah wisatawan tertinggi berasal dari Korea Selatan sebesar 8,82 juta kunjungan, disusul China 6,98 juta yang naik tiga kali lipat dibanding tahun lalu, serta Taiwan sejumlah 6,04 juta kunjungan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut survei oleh IntaSect Communications Inc, di antara prefektur, Hokkaido adalah wilayah terpopuler mengungguli Tokyo dan Osaka, berkat sumber air panas serta resor skinya.
Wisatawan berbondong-bondong mengunjungi negara itu untuk melihat bunga sakura bermekaran, menyaksikan dedaunan musim gugur, dan merasakan suasana liburan musim panas. Angka kedatangan pelancong akan kembali meningkat sebab Jepang menjadi tuan rumah World Expo pada 2025. Besarnya turis yang datang ke negara di Asia Timur ini tidak hanya untuk liburan, tapi juga melakukan perjalanan bisnis.
Nilai Yen Merosot, Harga Barang Lebih Murah
Melonjaknya pengunjung asing di Jepang didorong oleh lemahnya nilai yen dan penerbangan ke Negeri Matahari Terbit mulai dibuka kembali setelah pencabutan pembatasan covid-19. Pengeluaran turis juga meningkat menjadi 8,14 triliun yen atau setara Rp 894 triliunr, naik 53 persen dari tahun sebelumnya.
Nilai tukar yen yang merosot dalam 40 tahun terakhir menjadi penyebab utama wisatawan mengunjungi Jepang. Nilai tuker yen terhadap dolar Amerika turun sampai 35 persen dibandingkan dengan lima tahun lalu. Pada 2019, harga tukar yen berada di kisaran ¥110 terhadap satu dolar AS, tetapi nilai mata uang negara itu terus melemah dari ¥140 menjadi ¥160 pada 2024. Hal tersebut menjadikan makanan, layanan, serta atraksi terkenal negara tersebut relatif murah.
Dikutip dari The Japan Times, semangkuk mie ramen dijual sekitar ¥1.000, yang ketika 2019 seharga $8,90 (Rp 146.000) dan sekarang $6,30 (Rp 103.000). Jam tangan atau tas mewah berlabel ¥700.000 di Tokyo, tahun 2024 setara dengan $4,430 (sekiltar Rp 72,7 juta), sedikit berbeda dari lima tahun lalu seharga $6,250 (sekitar Rp 102,6 juta). Selain itu, banyak toko membebaskan pelancong dari pajak penjualan sebesar 10 persen apabila menunjukan paspor pribadi.
Upaya Mengurangi Overtourism di Lokasi Populer
Meski mengalami ledakan pariwisata, Jepang masih berambisi menarik 60 juta pengunjung internasional pada 2030. Namun, negara ini menghadapi tantangan seperti kepadatan pelancong di tempat-tempat wisata terkenal dan kurangnya tenaga kerja sektor perhotelan. Menumpuknya wisatawan di satu objek wisata menjadi masalah bagi masyarakat setempat serta memicu overtourism.
Berbagai upaya dilakukan untuk menarik lebih banyak wisatawan serta mengurangi dampak dari besarnya kedatangan turis, salah satunya dengan mempromosikan tempat berlibur lain di luar Tokyo, Osaka, Kyoto, dan Gunung Fuji. Tidak hanya itu, pihak pemerintah Kota Kyoto, salah satu wisata populer menaikkan pajak penginapan hotel hingga ¥10.000 (Rp1,1 juta) per malam. Selain Kyoto, pihak berwenang untuk wisata Gunung Fuji memberlakukan biaya masuk dan membatasi jumlah pendaki per harinya.
Besarnya jumlah pelancong di beberapa lokasi di Jepang menjadi masalah yang harus dihadapi masyarakat dan pemerintah setempat. Tapi, di satu sisi, sektor pariwisata ini mendorong perekonomian negara tersebut.
NIA NUR FADILLAH | KYODO NEWS | JAPAN TIMES | NIPPON.COM | AL JAZEERA