Ketika Prabowo Banggakan MBG di Depan Putin, Media Rusia Malah Soroti Ribuan Korban Keracunan MBG

5 hours ago 21
MBGIlustrasi menu MBG. Program ini menjadi polemik karena dugaan kasus korupsi di dalamnya | Istimewa

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Ada ironi yang mengiringi langkah Presiden Prabowo Subianto membawa cerita tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) ke panggung internasional.

Ketika Prabowo berbicara di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang pentingnya memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi, media berbahasa Rusia justru menyoroti sederet kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program tersebut.

Kontras itu terjadi hanya berselang sehari. Pada Kamis (3/9/2026), Prabowo tampil sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia. Dalam forum yang juga dihadiri Putin tersebut, Prabowo menjadikan kepentingan rakyat sebagai salah satu pesan utama pidatonya.

MBG bahkan disebut secara khusus ketika Prabowo menjelaskan alasan pemerintah menetapkan sejumlah agenda prioritas nasional.

Prabowo mengawali paparannya dengan mengaitkan tema EEF 2026, yakni The Far East: Development for the Benefit of People atau pembangunan untuk kepentingan rakyat, dengan mandat yang diterimanya dari masyarakat Indonesia.

“Saya harus menyampaikan kepada Anda bahwa ini bukan hanya tema bagi Timur Jauh Rusia; ini juga merupakan mandat yang diberikan kepada saya oleh rakyat Indonesia,” kata Prabowo.

Presiden kemudian menjelaskan pandangannya mengenai pembangunan. Menurut dia, ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari seberapa jauh manfaatnya dirasakan masyarakat.

Ia menyinggung sejumlah kebutuhan paling mendasar yang semestinya bisa dirasakan rakyat, mulai dari makanan bergizi bagi anak-anak, pupuk bagi petani, rumah layak bagi keluarga, pekerjaan produktif bagi generasi muda hingga akses listrik.

“Apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi, apakah petani dapat memperoleh pupuk dan menjual hasil panennya dengan harga yang wajar, apakah keluarga dapat tinggal di rumah yang layak, apakah generasi muda dapat memperoleh pekerjaan yang produktif, dan apakah listrik dapat menjangkau setiap rumah di setiap desa,” ucap Prabowo.

Dari sana, Prabowo menjelaskan alasan pemerintah menjalankan berbagai program prioritas, termasuk MBG dan agenda swasembada pangan.

“Inilah alasan Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi seluruh anak-anak kita dan para ibu mereka yang sedang hamil. Inilah alasan kami mengejar swasembada pangan dan ketahanan energi,” katanya.

Prabowo juga menyebut pemerintah tengah mempercepat hilirisasi industri agar sumber daya alam Indonesia menghasilkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja.

Tujuan akhirnya, kata dia, adalah menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.

“Inilah alasan kami menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat—bukan pertumbuhan hanya demi pertumbuhan itu sendiri, melainkan pertumbuhan yang dapat mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan menuju kehidupan yang bermartabat,” pungkas Mantan Menteri Pertahanan RI (Menhan) itu.

Namun, ketika pesan tersebut disampaikan di panggung internasional, persoalan lain justru muncul dalam pemberitaan media Rusia.

Hampir 800 Orang Disorot Media Rusia

Salah satu media berbahasa Rusia, MK.ru, mengangkat kasus dugaan keracunan yang berkaitan dengan program makan siang gratis di sekolah Indonesia.

Judul pemberitaannya, jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bermakna “Hampir 800 orang keracunan akibat makan siang gratis di sekolah.”

Sedangkan subjudulnya menyebut ratusan siswa dan guru mengalami keracunan makanan dari program makanan gratis di Indonesia.

Dalam pemberitaannya, media tersebut menguraikan sejumlah keluhan yang dialami para korban, termasuk mual, muntah, diare, sakit perut dan gejala lain yang mengarah pada dugaan keracunan makanan.

Yang menjadi perhatian, pemberitaan tersebut tidak menggambarkan kasus itu sebagai kejadian tunggal.

MK.ru juga menyinggung adanya sejumlah kasus serupa yang terjadi dalam waktu berdekatan di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, hampir 1.000 orang disebut terdampak kasus dugaan keracunan MBG dalam rentetan kejadian yang berlangsung pada pekan ini.

Sorotan media Rusia tersebut kemudian berlanjut. Pada Jumat (4/9/2026) pagi waktu setempat, outlet media berbahasa Rusia lainnya, News AM, ikut memberitakan persoalan yang sama.

Media tersebut menyoroti rangkaian kasus dugaan keracunan MBG yang dalam kurun tiga hari terakhir disebut berdampak kepada sekitar 2.000 siswa dan guru.

Sejumlah kejadian menjadi bagian dari pemberitaan tersebut. Di Lasem misalnya, sebanyak 752 siswa dan 25 guru di sebuah SMA dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan MBG pada Rabu (2/9/2026) sore.

Gejala yang dilaporkan antara lain diare dan sakit perut. Kasus lainnya terjadi di sebuah pesantren di Jawa Timur. Sekitar 730 orang disebut mengalami gejala dan harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.

Sementara dari Sulawesi Selatan, pemberitaan tersebut menyoroti laporan mengenai makanan MBG yang dinilai bermasalah. Orangtua dan guru disebut mengeluhkan ayam yang berlendir, makanan yang kurang matang serta aroma amis yang menyengat.

Bagi media Rusia, rangkaian persoalan tersebut menjadi sisi lain dari program yang tengah dipromosikan pemerintah Indonesia sebagai salah satu program unggulan Presiden Prabowo.

Dalam pemberitaannya, News AM menyebut MBG sebagai salah satu program utama Prabowo yang mendapatkan pendanaan miliaran dolar dan ditujukan untuk meningkatkan gizi anak sekolah di berbagai wilayah Indonesia.

Namun, program tersebut juga disebut menghadapi kritik, antara lain berkaitan dengan besarnya biaya serta tuduhan korupsi.

Dengan demikian, dalam rentang waktu hanya sehari, MBG muncul dalam dua konteks yang sangat berbeda.

Di Vladivostok, Prabowo memperkenalkan program tersebut sebagai bagian dari filosofi pembangunan yang berpihak kepada rakyat dan memastikan anak-anak memperoleh makanan bergizi.

Sementara di ruang pemberitaan media Rusia, MBG justru muncul melalui laporan mengenai rentetan kasus dugaan keracunan yang menimpa siswa, guru, hingga warga di sejumlah daerah Indonesia.

Kontras tersebut menjadi perhatian tersendiri karena MBG kini bukan hanya menjadi program domestik yang diperdebatkan di dalam negeri, tetapi mulai ikut mendapat sorotan ketika dibawa ke panggung internasional. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |