Kiprah 5 Pejuang Perempuan Indonesia, dari Pendidikan hingga Lindungi Korban Human Trafficking

12 hours ago 15

CANTIKA.COMJakarta - Tahun ini tepat peringatan terlaksananya proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Bulan ini menjadi waktu yang tepat merefleksikan diri atas perjalanan panjang bangsa dan para leluhur yang berjuang demi hidup generasi selanjutnya yang lebih baik. Di antaranya banyak tokoh perempuan yang berkontribusi dalam hal ini. 

Mulai dari menghasilkan karya tulis, membangun dunia pendidikan, hingga menjadi turun langsung ke medan perang. Inilah wujud nyata kecerdasan dan kontribusi para pejuang perempuan Indonesia demi bangsa yang menginspirasi banyak orang. 

1. Rahmah El Yunusiyah

Reformator pendidikan Islam yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, perempuan kelahiran tanah Minangkabau ini mendirikan pesantren Diniyyah Putri perempuan pertama di Asia yang masih berjalan hingga kini. Tak main-main, cetakan sekolah ini menghasilkan tokoh Rangkayo Rasuna Said dan Nurhayati Subakat, pendiri PT. Paragon Technology and Innovation yang berdampak besar pada industri kecantikan Indonesia.

Sekolah ini menjadikannya perempuan pertama yang dianugerahi gelar Syekhak dari Universitas Al Azhar di Kairo. Saat ditawari bantuan pemerintah Hinda Belanda, Rahmah menolak dengan mengatakan pesantrennya akan hidup dengan sendirinya tanpa bantuan pemerintah. Selain jadi guru, ia termasuk perintis pembentukan unit bekal dan persenjataan Tentara Keamanan Rakyat di Padang Panjang. 

2. Rangkayo Rasuna Said

Bukan tanpa alasan perempuan kelahiran Maninjau, Agam ini dijuluki “Singa Betina”. Kecerdasannya sudah terlihat semenjak menjadi siswa di Diniyyah Putri. Pikirannya yang kritis membawanya ke penyelenggaraan Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) yang mengkritik kolonialisme Belanda. Setelah keluar penjara karena mengkritik Belanda, ia membuka semakin banyak sekolah untuk anak perempuan di Sumatera Barat. Tulisannya yang menanamkan nasionalisme dan anti-kolonialisme membawa Indonesia memperoleh kemerdekaannya. 

3. Maria Yosephine Walanda Maramis 

Maria Walanda Maramis. Kemendikbud

Di masa perempuan tidak diizinkan bersekolah, perempuan kelahiran Minahasa pada tahun 1872 ini justru sudah memupuk keinginan berbeda. Ia ingin memperluas pengetahuan dan peduli untuk memajukan kaum wanita Minahasa. Kontribusinya menghasilkan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) yang menjadi awal berdirinya sekolah rumah tangga untuk mendidik anak-anak perempuan.

4. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu. Wikipedia

Perempuan asal Maluku ini wujud nyata keberanian. Saat berusia 18 tahun, ia bersama sang ayah ikut mengangkat senjata untuk membela tanah airnya. Perjuangan melawan Belanda ini menyebabkan ia meninggal di atas kapal saat dibawa ke pengasingan. Pengorbanan Martha dikenang sebagai simbol keberanian wanita Maluku.

5. Auw Tjoei Lan

Sejak usia belia, ia selalu melihat kegiatan amal yang dilakukan sang ayah, Auw Seng Ho. Hal inilah yang mungkin memupuk rasa kepeduliannya yang besar. Perempuan kelahiran Majalengka ini keluar di malam hari untuk melindungi perempuan-perempuan asal Tiongkok yang menjadi korban perdagangan manusia ke Batavia. Ia terlibat dalam lembaga Ati Soetji yang melatih keterampilan para perempuan tersebut. Ia juga mendirikan panti asuhan yang berkembang menjadi Yayasan Hati Suci. Meskipun kerap mendapatkan ancaman nyawa, tidak memudarkan keberanian dan kepeduliannya.

Masih banyak kisah perjuangan dan keberhasilan para pejuang Indonesia yang tidak bisa ditampung dalam artikel singkat ini. Semoga dengan ini, Sahabat Cantika bisa menjadi semakin tahu dan semakin semangat mengikuti jejak para pendahulu. Berkontribusi untuk bangsa, dengan caranya masing-masing. 

TEMPO | KAPAL PEREMPUAN | SALSABILLA FARKA KIRANI | ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |