REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — MilkLife Soccer Challenge (MLSC) 2026-2027 resmi bergulir dengan pelaksanaan Seri 1 di Tangerang dan Semarang pada 1-6 September 2026. SDN Pinang 3 dan SDN Kunciran 8 menjadi juara di Tangerang, sedangkan SDN Kembangarum 2 Semarang dan MI Pagersari-Patean meraih podium tertinggi di Semarang.
Di Tangerang, kompetisi diikuti 1.037 atlet dari 57 sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI). Sebanyak 24 tim bertanding di Kelompok Usia (KU) 10 dan 73 tim di KU 12 yang berlangsung di Stadion Kera Sakti dan Stadion Mini Cisauk, Tangerang, Banten.
Sementara di Semarang, 1.091 atlet dari 63 SD dan MI ambil bagian. Sebanyak 35 tim berlaga di KU 10 dan 67 tim di KU 12 dengan pertandingan digelar di Stadion Universitas Diponegoro dan Lapangan Arhanud Jatingaleh.
Penyelenggara menyebut keberlanjutan MLSC menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan sepak bola putri Indonesia dari level akar rumput. Pada musim 2026-2027, kompetisi juga memperluas jangkauan dengan menambah tiga kota, yakni Jakarta Jaya (Jakarta Utara), Garut, dan Jayapura.
Penambahan kota tersebut dinilai menjadi langkah untuk menjangkau lebih banyak talenta sekaligus menumbuhkan minat anak perempuan terhadap sepak bola sejak usia dini. Target jangka panjang yang diusung tetap mengantarkan tim nasional putri Indonesia ke Piala Dunia Wanita 2035.
Target besar penyelenggara masih sama, yaitu mengantarkan timnas putri Indonesia ke pentas Piala Dunia Wanita 2035.
Pada Seri 1 musim ini, Semarang mendapat tambahan sembilan sekolah peserta, sedangkan Tangerang bertambah empat sekolah. Peningkatan jumlah peserta tersebut turut membuat persaingan antartim semakin kompetitif.
Penyelenggara juga melihat perkembangan teknik dan mental bertanding para pemain muda. Karakter pemain yang muncul dinilai semakin beragam dibandingkan seri-seri sebelumnya, yang menunjukkan pasokan pemain dari level grassroot terus bertumbuh.
“Ketika semakin banyak anak perempuan mendapatkan kesempatan bermain dan berkompetisi secara rutin, tentu akan semakin besar pula peluang kita menemukan talenta-talenta baru untuk masa depan sepak bola putri Indonesia,” ujarnya.
Pelatih kepala MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, menilai kesinambungan kompetisi penting dalam proses pembinaan pemain usia dini. Menurut dia, perkembangan pesepakbola muda tidak cukup dinilai dari penampilan dalam satu pertandingan, tetapi juga dari kemampuan mereka belajar dan menerapkan pengalaman tersebut pada laga berikutnya.
“Ketika mendapatkan kesempatan bermain secara berkelanjutan dengan tantangan yang berbeda, kami bisa melihat perkembangan mereka lebih jelas, mulai dari cara mengambil keputusan, membaca permainan, hingga menghadapi tekanan,” kata Timo.
Menurut Timo, ekosistem kompetisi lanjutan seperti HYDROPLUS Soccer League, Caffino Srikandi Merdeka Cup, dan turnamen internasional JSSL 7’s Singapore turut memberikan pengalaman bertanding pada jenjang berbeda.
Ia menilai kompetisi berjenjang membuat pengalaman yang diperoleh pemain di MLSC dapat menjadi bekal sebelum mereka tampil di level nasional maupun internasional.
“Pemain tidak harus langsung menjadi sempurna, tetapi perlu ruang untuk terus belajar dan menghadapi tantangan baru,” ujarnya.
SDN Pinang 3 menjuarai KU 10 setelah mengalahkan SDN Cipulir 03 melalui adu penalti dengan skor 2-1. Kedua tim bermain imbang tanpa gol pada waktu normal.
Di KU 12, SDN Kunciran 8 menjadi juara setelah mengalahkan SDN Kunciran 4 B dengan skor 3-1. Revalia Safitri tampil sebagai bintang kemenangan dengan mencetak dua gol melalui tendangan jarak jauh.
Official SDN Kunciran 8, Irus, mengatakan kemenangan tersebut tidak terlepas dari persiapan dan mental bertanding para pemain. Tim melakukan sejumlah latih tanding sebelum mengikuti turnamen.
Dalam pertandingan final, tim juga diminta bermain disiplin, tidak bergantung kepada rekan setim, dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing lini. Instruksi khusus diberikan kepada Revalia untuk memanfaatkan peluang melalui tembakan jarak jauh.
Format Kompetisi
MilkLife Soccer Challenge 2026-2027 masih menggunakan format tujuh lawan tujuh tanpa aturan offside. Pertandingan babak penyisihan hingga perempat final berlangsung 2 x 10 menit, sedangkan semifinal dan final dimainkan selama 2 x 15 menit.
Pada musim ini terdapat perubahan ukuran lapangan untuk KU 10. Jika sebelumnya menggunakan lapangan berukuran 40 x 24 meter, kini ukuran lapangannya disamakan dengan KU 12, yakni 42 x 26 meter.
Kategori KU 10 diperuntukkan bagi pemain kelahiran 1 Juli 2016 hingga 30 Juni 2018. Sementara KU 12 dapat diikuti pemain kelahiran 1 Juli 2014 hingga 30 Juni 2016.
Selain pertandingan tujuh lawan tujuh, MLSC juga kembali menggelar Festival SenengSoccer untuk KU 8. Di Tangerang, kegiatan tersebut diikuti 75 siswi dari 22 SD dan MI, sedangkan di Semarang terdapat 83 peserta dari 18 SD dan MI.
Setelah Tangerang dan Semarang, Seri 1 MilkLife Soccer Challenge 2026-2027 berlanjut di Jakarta Raya (Jakarta Timur) dan Yogyakarta pada 15-20 September 2026.

9 hours ago
14
















































