REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Indonesia yang terdiri atas Perum Bulog dan Kementerian Pertanian (Kementan) segera bertolak ke Sarawak, Malaysia, usai Idul Adha 2026 untuk melanjutkan negosiasi ekspor beras ke negeri jiran. Langkah itu dilakukan seiring melimpahnya cadangan beras pemerintah yang kini mencapai 5,39 juta ton.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, pertemuan tersebut ditujukan untuk memastikan volume pengiriman dan kepastian harga beras yang akan diekspor. Menurut dia, pembahasan teknis masih terus dimatangkan bersama pemerintah Malaysia.
“Iya, rencana habis Idul Adha ini dalam waktu dekat kami akan ke Sarawak, insya Allah, dengan tim dari Kementerian Pertanian untuk sekaligus memastikan berapa jumlahnya dan berapa mix price-nya, harga kepastiannya berapa,” kata Rizal di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Ia mengatakan, Bulog masih membahas skema pengiriman beras bersama pihak Malaysia. Perusahaan membuka opsi penjualan langsung di pelabuhan maupun pengiriman antarpelabuhan.
Pembahasan juga mencakup formula harga jual agar ekspor tetap memberikan keuntungan bagi petani nasional sekaligus negara. Bulog masih menunggu arahan lanjutan dari Kementan dan tim pemasaran sebelum keputusan final diambil.
“Nanti kita setelah diskusi di sana. Apakah kita port to port atau mereka langsung beli di kita di Pelabuhan Priok, demikian,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rizal mengungkapkan serapan gabah Bulog hingga kini telah mencapai sekitar 74 persen dari target pengadaan setara 4 juta ton beras. Realisasi penyerapan tersebut kini mendekati 3 juta ton.
Bulog juga menyiapkan kapasitas gudang hingga 7 juta ton untuk mengantisipasi produksi petani yang terus meningkat. Pengalaman pada 2025 menjadi acuan setelah realisasi penyerapan melampaui target awal 3 juta ton hingga mencapai hampir 3,2 juta ton.
“Nah, kami akan diskusi dulu dengan direktur pemasaran termasuk juga dengan Pak Menteri Pertanian dalam hal ini untuk minta petunjuk yang terbaik seperti apa karena sesuai arahan Bapak Presiden kemarin, harga yang kita ekspor harus menguntungkan untuk petani, untuk bangsa, dan negara kita,” tuturnya.
Saat ditanya mengenai harga per kilogram, Rizal menyebut pihaknya masih mencari angka terbaik yang menguntungkan negara dan petani. Dalam komunikasi awal dengan pihak Malaysia, sempat muncul kisaran harga sekitar Rp 16 ribu per kilogram.
Bulog juga mulai mempersiapkan percepatan penyaluran beras SPHP mulai Juni 2026 melalui Gerakan Pangan Murah di berbagai instansi pemerintah, TNI, Polri, dan pemangku kepentingan lainnya. Langkah itu dilakukan setelah beberapa bulan terakhir Bulog lebih fokus menyerap gabah petani saat panen raya.
Bulog memastikan cadangan beras pemerintah dalam kondisi aman dan mencukupi untuk kebutuhan nasional. Perseroan menilai stok beras nasional saat ini masih sangat melimpah.

8 hours ago
14















































