Petani Berdaya Jadi Pondasi Ketahanan Pangan, Bayer dan Kemenko PM Perkuat Kolaborasi

12 hours ago 24

REPUBLIKA.CO.ID, MOJOKERTO – Peningkatan produksi dan penguatan ekonomi petani kecil merupakan dua pilar penyokong ketahanan pangan nasional. Berangkat dari pemahaman tersebut, Bayer Indonesia menerima kunjungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) untuk menjajaki potensi kolaborasi strategis program Better Life Farming (BLF) dan Perintis Berdaya demi mendukung pemberdayaan ekonomi petani. Upaya ini dimulai dengan melakukan kunjungan dan dialog multipihak di Better Life Farming Center (BLFC) Mojokerto, Jawa Timur.

Penjajakan potensi kemitraan berskala nasional ini bertujuan mempertemukan keahlian teknologi pertanian inovatif, akses permodalan formal, dan akses pasar dari ekosistem BLF dengan fungsi koordinasi makro serta inkubasi kewirausahaan sosial yang sejalan dengan apa yang dilakukan Kemenko PM dalam program Perintis Berdaya. Nantinya melalui program ini, infrastruktur BLFC yang bertindak sebagai kios cerdas pertanian di tingkat desa akan dioptimalkan bersama jaringan Perintis Berdaya untuk menciptakan tata kelola ekonomi pertanian yang menguntungkan.

Sejak diluncurkan oleh Bayer di Indonesia pada tahun 2020, BLF telah berhasil membentuk 590 BLFC yang tersebar di 13 provinsi - di mana 20 persen di antaranya dikelola oleh perempuan. Kehadiran BLF terbukti memberikan dampak positif yang signifikan: pendapatan kios pertanian BLFC meningkat sekitar 34 persen, sementara produktivitas petani BLFC meningkat antara 15 hingga 25 persen.

Bayer bersama para mitra membangun sistem pertanian closed-loop yang menghubungkan teknologi pertanian, pendampingan agronomi dan kewirausahaan, akses pembiayaan dan asuransi pertanian, hingga kepastian akses pasar, sehingga petani tidak terputus di salah satu mata rantai usaha tani. 

Sebagai inisiatif keberlanjutan jangka panjang Bayer, BLF diposisikan untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan secara sistemik, dengan memastikan bahwa peningkatan produktivitas berjalan selaras dengan stabilitas pendapatan dan keberlanjutan usaha tani. Pendekatan ini mendorong petani lahan kecil tidak hanya sebagai produsen, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang memiliki daya tawar dan ketahanan ekonomi dalam rantai nilai pertanian. 

Upaya ini selaras dengan Perintis Berdaya, program unggulan Kemenko PM berfokus pada orkestrasi kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam sektor pertanian, Perintis Berdaya membuka ruang sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, dan pelaku rantai pasok untuk memperkuat akses usaha, pembiayaan, dan pasar bagi petani kecil.

Setelah melakukan kunjungan dan dialog multipihak bersama BLFC di Mojokerto, Jawa Timur, Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison menekankan bahwa penguatan petani di lapangan dapat diperkuat dengan langkah-langkah kolaboratif dan ekosistem yang lengkap. “Dari kunjungan hari ini, saya melihat sendiri di Mojokerto, bagaimana petani kecil bisa berdaya kalau ekosistemnya lengkap, dari pendampingan, pembiayaan, sampai kepastian pasar. Ini yang sering terputus di lapangan. Kami berkunjung hari ini untuk melihat langsung. Sedari awal, program Perintis Berdaya hadir bukan untuk membuat program baru dari nol, tapi untuk menjahit inisiatif-inisiatif baik seperti Better Life Farming agar bisa diperluas dan direplikasi. Pendekatannya pemberdayaan, bukan bantuan, tujuannya petani mandiri, punya daya tawar, dan tidak bergantung,” ujar Leontinus.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci. “Kami di Kemenko PM tidak bisa jalan sendiri. Justru kami terbuka mengajak swasta, lembaga pembiayaan, dan pelaku rantai pasok untuk duduk bersama. Model seperti BLF ini sudah berjalan, tugas kami memastikan ekosistemnya bisa tumbuh lebih luas dan tidak 'silo'. Semoga ke depan bisa benar-benar dijajaki kolaborasi yang memberdayakan!”

Bayer Crop Science Agriculture Affairs & LTO Lead Indonesia, Aditia Rusmawan menjelaskan bahwa potensi kemitraan ini merupakan langkah besar untuk membawa dampak inklusif ke skala yang lebih luas. "Kami sangat terbuka untuk bekerja sama lintas sektor dan pemerintah. Insiatif kemitraan nasional BLF dan Perintis Berdaya diharapkan akan mempercepat transformasi pertanian di pedesaan di seluruh Indonesia. Melalui peninjauan BLFC di Mojokerto, kita melihat bagaimana implementasi model closed-loop, teknologi budidaya dan benih unggul mampu meningkatkan produktivitas petani. Dengan dukungan kebijakan makro pemerintah, kami optimistis model penguatan ekosistem berbasis desa ini dapat direplikasi secara masif di berbagai provinsi untuk terwujudnya kesejahteraan petani lahan kecil."

Dialog multipihak dalam kegiatan ini melibatkan pengelola BLFC, petani kecil, mitra offtaker, mitra pembiayaan, asuransi pertanian, pusat investasi pemerintah, serta perwakilan petani muda dan perempuan tani. Diskusi difokuskan pada penguatan pembiayaan pertanian yang berkelanjutan, penciptaan akses pasar yang lebih adil, serta peluang replikasi model Better Life Farming sesuai kebutuhan daerah. 

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto dan laporan sektoral Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Mojokerto memiliki posisi strategis dalam peta pertanian regional. Meskipun berada di koridor industri utama Jawa Timur, sektor pertanian tetap menjadi penopang ekonomi riil yang signifikan. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan produktivitas dan pendapatan petani terutama petani lahan kecil agar dapat memberikan manfaat ekonomi secara keseluruhan.

"Selama ini, tantangan terbesar kami adalah ketidakpastian, mulai dari modal di awal musim tanam, tata cara budidaya yang benar, hingga ke mana harus menjual hasil panen dengan harga yang baik. Melalui ekosistem BLF, kami mendapatkan pendampingan menyeluruh dari hulu ke hilir termasuk akses pembiayaan dan pasar. Dampaknya sangat nyata, omzet kios BLFC saya meningkat empat kali lipat," kata Imam Baihaqi, petani dan pemilik BLFC CV Kirana Juara Abadi dari desa Pesanggrahan, kecamatan Kutorejo kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ia berharap bahwa rencana kolaborasi antara BLF dan Perintis Berdaya dapat segera terwujud. “Dukungan dari pemerintah tentu akan memperluas jangkauan program ini, sehingga lebih banyak petani yang bisa merasakan manfaat nyata,” kata dia.

Ke depan, Bayer Indonesia dan Kemenko PM sepakat untuk menindaklanjuti kolaborasi secara lebih terarah, dengan menempatkan Better Life Farming sebagai model praktik kolaboratif yang mendukung ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi petani, melalui pendekatan ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |