Profil Tarekat Naqsabandiyah yang Kerap Beda Memulai Puasa Ramadan

5 hours ago 7

TEMPO.CO, Jakarta - Jemaah Tarekat Naqsabandiyah kembali menarik perhatian lantaran telah lebih dahulu memulai pelaksanaan ibadah puasa Ramadan 1446 Hijriah pada Kamis, 27 Februari 2025. Pelaksanaan puasa tersebut lebih awal dari jadwal yang ditetapkan pemerintah, yakni pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Berdasarkan pantauan Tempo di Kota Padang, Sumatera Barat—salah satu pusat Tarekat Naqsabandiyah di Tanah Air, jemaah Tarekat Naqsabandiyah telah melakukan salat tarawih berjamaah pertama mereka di Surau Baru pada Rabu malam, 26 Februari 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pada puasa 2024 lalu, Ramadan 1445 Hijriyah, jemaah Tarekat Naqsabandiyah Al-Khalidiyah Jalaliyah di Sumatra Utara juga menjalankan ibadah puasa lebih dulu dari yang dijadwalkan pemerintah. Kala itu pemerintah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 12 Maret 2024, namun tarekat tersebut telah memulainya pada 10 Maret.

Adapun menurut pengurus sekaligus Imam Surau Baru, Zahar, pelaksanaan ibadah puasa lebih cepat tahun ini didasarkan pada musyawarah para tokoh ulama Naqsabandiyah. Keputusan ini, kata dia, telah ditetapkan sejak dua bulan sebelumnya. Adapun penentuan 1 Ramadan 1446 Hijriah melalui metode hisab, rukyah, dalil, ijma, dan qiyas.

“Kami mulai puasa pada Kamis ini. Sementara pada Rabu malam, kami melaksanakan salat tarawih perdana di Surau Baru,” kata Zahar kepada media, Kamis.

Profil Tarekat Naqsabandiyah

Dilansir dari Muhammadiyah.or.id, Tarekat Naqsabandiyah merupakan tarekat yang mengajarkan pemahaman tentang hakikat dan tasawuf. Di Indonesia, tarekat ini menjadi cukup dikenal karena seringnya berbeda tentang penetapan awal Ramadan dan Syawal dengan beberapa pihak.

Dilansir dari publikasi Tarekat Naqsabandiyah di Kepulauan Melayu oleh Muhammad Faisal, Tarekat naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahaudin Naqsabandi pada abad ke-14 Masehi. Tarekat ini kemudian berkembang di belahan dunia seperti Yugoslavia, Mesir bagian barat, Cina bagian timur, hingga Nusantara

Muhammad bin Muhammad Bahauddin al Bukhari atau lebih dikenal sebagai Khwajah Naqsabandi lahir di desa Qasr-I Hinduwn pada 1318, tidak jauh dari Bukhara di wilayah Uzbekistan Modern, Asia Tengah. Ia belajar tasawuf kepada Baba Al-Samasi ketika berusia 18 tahun. Dia juga belajar ilmu tarekat kepada seorang quthb di Nasaf, yaitu Sayyid Amir Kulal Al Bukhari.

Dikutip dari Islam.nu.or.id, pokok ajaran Syekh Bahauddin an-Naqsabandi adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berzikir. Ia mengajarkan pengikutnya untuk menjauh dari keramaian manusia guna mendekat kepada Allah, dan menjadikan batin hanya murni kepada Allah, sekalipun raga bersama manusia.

Secara garis besar, Tarekat Naqsabandiyah mengajarkan bagaimana menjadikan zikir dengan hati atau secara diam, dengan cara tidak bergerak dan berbunyi sebagai salah satu zikir pokok dalam tarekatnya. Tarekat ini juga meletakkan kemurnian zikir dan ibadah hanya karena Tuhan semata.

Secara rinci, total ada enam ajaran pokok Tarekat Naqsabandiyah.

1. Tobat

Tobat adalah salah satu ajaran utama dalam Tarekat Naqsabandiyah. Ajaran ini mencakup pengakuan dosa, penyesalan yang tulus, dan niat untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Tuhan.

2. Uzlah

Tarekat Naqsabandiyah mengajarkan tentang uzlah atau pengasingan diri dari keramaian manusia. Kegiatan ini membantu individu untuk fokus pada ibadah dan perjalanan spiritual dengan lebih mendalam.

3. Zuhud

Para pengikut Tarekat Naqsyabandiyah diajarkan untuk hidup sederhana dan tidak terlalu mengikuti nafsu duniawi.

4. Takwa:

Pematuhan terhadap ajaran-ajaran Islam dan menjalani kehidupan yang penuh kesadaran tentang Allah menjadi salah satu ajaran pokok Tarekat Naqsyabandiyah.

5. Qana’ah

Qana’ah berarti menerima keputusan Tuhan dengan hati yang lapang.

6. Taslim

Taslim atau berserah diri adalah prinsip untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |