Peneliti mengambil sampel air Sungai Brantas dengan latar tumpukan sampah plastik saat penelitian mikroplastik di Dinoyo, Malang, Jawa Timur, Sabtu (24/1/2026). Penelitian yang dilakukan tim Universitas Brawijaya di puluhan titik Sungai Brantas dari hulu hingga hilir tersebut menemukan kandungan mikroplastik dengan konsentrasi berkisar antara 2 hingga 40 partikel per liter air, sehingga peneliti merekomendasikan pemerintah dan para pemangku kebijakan untuk menetapkan standar baku mutu pencemaran mikroplastik guna melindungi kualitas air karena dikhawatirkan akan berdampak pada kesehatan masyarakat.
REPUBLIKA.CO.ID. JAKARTA -- Sebuah penelitian menemukan bahwa mikroplastik ditemukan pada paru-paru manusia dan jumlahnya cenderung lebih tinggi pada pasien kanker paru-paru. Temuan tersebut diungkap dalam sebuah penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan European Respiratory Society di Barcelona, Spanyol.
Peneliti menemukan sekitar 66 persen pasien kanker paru-paru memiliki mikroplastik yang dapat dideteksi dalam sampel cairan yang diambil dari paru-paru mereka. Sementara itu, mikroplastik terdeteksi pada 46 persen orang yang tidak menderita kanker paru-paru.
"Hasil kami menunjukkan bahwa mikroplastik yang terhirup dapat ditemukan di paru-paru manusia lebih sering daripada yang mungkin disadari banyak orang," kata peneliti sekaligus dokter spesialis paru dari University College Dublin School of Medicine, Dr Ilias Dimeas, dilansir laman US News, Kamis (10/9/2026).
Menurut Dimeas, temuan tersebut menambah bukti bahwa mengurangi pencemaran plastik di lingkungan dapat memberikan manfaat yang tidak hanya bagi ekosistem, tetapi juga bagi kesehatan manusia. Mikroplastik sendiri dapat terhirup melalui udara dan kemudian bersarang jauh di dalam paru-paru.
Namun, para peneliti menegaskan masih banyak hal yang belum diketahui mengenai apa yang terjadi setelah partikel tersebut masuk ke dalam tubuh manusia. "Kita belum mengetahui berapa kadar aman mikroplastik di dalam paru-paru, seberapa besar variasinya antarindividu, atau apakah zat ini berkontribusi terhadap penyakit," kata dia.
Jenis plastik yang paling umum ditemukan dalam paru-paru dalam penelitian tersebut adalah polipropilena dan polietilena. Keduanya banyak digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, seperti kemasan, tekstil, bahan rumah tangga, dan barang-barang konsumen.
Dalam penelitian tersebut, tim Dimeas merekrut 100 pasien yang menjalani bronkoskopi untuk menyelidiki gejala paru-paru di University Hospital of Larissa, Yunani. Bronkoskopi merupakan prosedur yang menggunakan selang tipis dan fleksibel yang dimasukkan ke dalam paru-paru. Dengan prosedur tersebut, dokter dapat memeriksa bagian dalam paru-paru sekaligus mengambil sampel.
Para pasien juga menjalani prosedur pencucian paru-paru. Dalam proses tersebut, larutan garam digunakan untuk membilas bagian tertentu dari paru-paru. Dari 100 pasien yang diteliti, 50 orang kemudian didiagnosis menderita kanker paru-paru.

3 hours ago
9















































