Suara dari Muara, Ketika Lensa Kamera Tunjukkan Sisi Rare Perempuan Muara Angke

5 hours ago 11

CANTIKA.COM, Jakarta - Di utara Jakarta, tepatnya Museum Bahari, potret kehidupan para perempuan Muara Angke diperlihatkan secara rare. Suara dari Muara, pameran photovoice ini mempersembahkan hasil foto 20 ibu-ibu yang tinggal di Muara Angke RW 22.

Pameran ini adalah sebuah upaya untuk mendengar, berkolaborasi, dan merayakan kemenangan-kemenangan kecil dalam merawat ekosistem pesisir lewat jepretan perempuan.

Ketika Kamera Disposable Menunjukkan Sisi Rare Perempuan Muara Angke

Bicara soal kehidupan masyarakat pesisir, narasi yang sering kali muncul ke permukaan hampir selalu didominasi oleh figur nelayan laki-laki. Padahal, para perempuan di balik layar memiliki peran yang tidak kalah krusial dalam menjaga denyut kehidupan keluarga maupun komunitas pesisir.

Untuk pertama kalinya, para perempuan Muara Angke mendapatkan panggung penuh untuk menceritakan realitas hidup, tantangan harian, hingga titik kebahagiaan mereka dengan cara sendiri. Elle Wibisono, project leader sekaligus peneliti perikanan berkelanjutan, mengungkapkan bahwa pameran ini diawali dengan proses pendampingan yang cukup intensif.

Selama hampir dua bulan, tim mengadakan workshop mingguan demi menggali perspektif dan narasi jujur dari para ibu. Pendekatannya pun unik dan empowering. Setiap ibu dibagikan kamera disposable (sekali pakai) dengan syarat hanya para ibu yang boleh memotret.

Aturan ini dibuat bukan tanpa alasan, melainkan ingin memastikan bahwa setiap foto benar-benar murni merekam apa yang dianggap menarik, berharga, dan bermakna bagi para ibu dalam keseharian mereka, tanpa campur tangan atau filter dari sudut pandang orang lain.

Elle Wibisono, project leader Pameran Suara dari Muara di Museum Bahari 4-31 Juli 2026. Foto: CANTIKA/Lanny Kusumastuti

"Kenapa perempuan yang dipilih? Karena di komunitas pesisir sering kali nelayan diidentikkan dengan laki-laki. Bahkan dulu kartu nelayan saja biasanya hanya diberikan ke laki-laki karena mereka yang menangkap ikan. Padahal perempuan merupakan bagian yang sangat penting di dalam kehidupan pesisir," ucap Elle kepada Cantika, 21 Juli 2026

Hasil foto para ibu tersebut kemudian dicetak di atas kain. Tak hanya foto, catatan jujur berisi pengalaman, motivasi, hingga tantangan hidup yang awalnya ditulis para ibu di atas post-it note kemudian dicetak ulang sebagai bagian dari instalasi seni yang menyentuh hati.

Kisah di Balik Foto Yanti Murni dan Hasana

Di balik deretan foto yang dipajang, tersimpan cerita emosional dari para ibu Muara Angke yang terlibat langsung sebagai pengisi pameran.

1. Yanti Murni: Ketangguhan Pengupas Kerang Hijau

Bagi Yanti, mengupas kerang adalah bagian dari perjuangan harian demi masa depan anak-anaknya. Meski harus menahan pegal di punggung dan kepulan asap serta panas setiap hari, rasa lelah itu dikalahkan oleh keinginan agar kebutuhan sandang, pangan, dan pendidikan anaknya tetap terpenuhi.

Ia sudah terbiasa mengupas kerang hijau sedari kecil lantaran orang tuanya juga melakukan hal yang sama untuk menghidupi keluarga. 

"Foto ini mewakili perjuangan kehidupan saya dan teman-teman pengupas kerang hijau lainnya," ucapnya.

Yanti Murni, pengupas kerang hijau di Muara Angke. Ia salah satu yang membagikan secuplik kehidupannya lewat foto di pameran Suara dari Muara yang diselenggarakan Museum Bahari 4-31 Juli 2026. Foto: CANTIKA/Lanny Kusumastuti

Di kesempatan yang sama, ibu empat anak itu juga menyoroti tantangan yang terus menghantui pemukiman mereka, yaitu banjir air rob. Rob yang belum menemukan solusi tuntas tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga berdampak pada kesehatan keluarga terutama anak-anak.

Ia berharap keikutsertaannya dalam pameran Suara Muara ini bisa menunjukkan lebih dekat kehidupan nyata perempuan di Muara Angke.

2. Hasana: Awal Mimpi Kehidupan melalui Gerbang Muara

Saat melihat foto Gerbang Muara Angke yang dipotret sendiri olehnya, Hasana tak sanggup menahan rasa haru. Bagi ia dan warga sekitar, mulai dari nelayan, pengepul ikan, pengupas kerang hijau hingga pengrajin kerang, gerbang tersebut adalah titik mula tempat mereka menggantungkan harapan.

"Kita besarnya di sini. Jadi, Gerbang Muara Angke banyak menyimpan kisah kehidupan. Sebelum kita masuk ke rumah apung melalui gerbang ini. Dari gerbang inilah kita membuat harapan," ujar Ana lirih.

Hasana, pengupas kerang hijau di Muara Angke. Ia salah satu yang membagikan secuplik kehidupannya lewat foto di pameran Suara dari Muara yang diselenggarakan Museum Bahari 4-31 Juli 2026. Foto: CANTIKA/Virly

"Kalau aku ke gerbang ini, hati aku menangis mengingat semua perjalanan kehidupan yang telah dilalui. Apalagi saya single mom, alhamdulillah bisa menyekolahkan empat anak, bahkan ada yang sudah lulus kuliah," ucap Ana penuh rasa bangga.

Ana juga mengungkapkan lewat pameran photovoice ini, ia ingin menunjukkan Muara Angke yang kerap dilabeli tempat kumuh menyimpan banyak cerita kehidupan

Kolaborasi Lintas Sektor di Suara dari Muara

Pameran Suara dari Muara semakin kaya lewat kolaborasi bersama para akademisi dan dosen dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dalam loka karya yang digelar di Muara Angke, sisa-sisa kulit kerang hijau yang biasanya menjadi sampah diolah menjadi aksesori, kalung, busana, hingga hiasan tekstil dan tenunan estetik. 

Selain Museum Bahari dan tim Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Pameran Suara Muara juga didukung Georgetown Ambassadors for Women, Peace, & Security, Climate Reality Project Indonesia, Yayasan Mata Waktu, dan mitra lainnya.

Pilihan Editor: Museum Nasional Indonesia Gelar Pameran Tekstil dan Fashion, Catat Tanggalnya

SILVY RIANA PUTRI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |