INFO TEMPO – Taiwan membawa 20 perusahaan teknologi dalam Taiwan Pavilion di ajang Indonesia Technology & Innovation 2026 (INTI 2026) di Jakarta. Paviliun ini menjadi wadah bagi perusahaan Taiwan untuk menawarkan berbagai solusi teknologi, mulai dari kecerdasan buatan (AI), smart city, smart manufacturing, hingga perangkat keras pendukung transformasi digital.
Senior Project Manager Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) Jennifer Juang mengatakan kehadiran Taiwan Pavilion membuka peluang kerja sama bisnis antara perusahaan Taiwan dan Indonesia. Kerja sama tersebut tidak hanya berupa penjualan produk, tetapi juga pengembangan teknologi sesuai kebutuhan mitra di Indonesia. “Kami menawarkan solusi AI, smart city, smart manufacturing, hingga infrastruktur teknologi kepada mitra bisnis di Indonesia,” kata Jennifer di Taiwan Pavilion INTI 2026, JIExpo Jakarta, 11 Agustus 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Jennifer, salah satu kekuatan Taiwan terletak pada infrastruktur perangkat keras yang menopang perkembangan teknologi AI. Perusahaan Taiwan dapat bekerja sama dengan mitra di Indonesia untuk mengembangkan aplikasi dan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing industri.
“Jika perusahaan di Indonesia ingin membuat aplikasi, terutama untuk tujuan tertentu, perusahaan kami dapat bekerja sama dengan pelanggan untuk mengembangkan aplikasi yang dikustomisasi,” ujarnya.
Penerapan teknologi tersebut, kata Jennifer, dapat menjangkau berbagai sektor, termasuk perhotelan, transportasi, dan smart city. Salah satu perusahaan yang hadir di Taiwan Pavilion, misalnya, bergerak di bidang transportasi pintar.
Jennifer mengatakan Indonesia menjadi pasar yang menarik karena pemerintah mendorong transformasi industri melalui kebijakan Making Indonesia 4.0. Kondisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan Taiwan untuk bekerja sama dengan pelaku industri di Indonesia.
“Kami melihat tren ini berkembang di Indonesia. Karena itu, perusahaan di Taiwan Pavilion ingin bergabung dengan tren tersebut dan bekerja sama dengan pelanggan Indonesia untuk berkembang bersama di masa mendatang,” katanya.
Dari berbagai sektor yang ditawarkan, smart manufacturing menjadi salah satu bidang yang menjadi perhatian Taiwan. Menurut Jennifer, sektor tersebut sejalan dengan kekuatan Taiwan dalam manufaktur dan teknologi perangkat keras.
P2 Plus Bidik Ritel, F&B, dan Hospitality
Salah satu perusahaan perangkat keras yang hadir di Taiwan Pavilion adalah P2 Plus. Perusahaan teknologi asal Taiwan ini membidik sektor ritel, makanan dan minuman, serta hospitality di Indonesia melalui perangkat point-of-sale (POS).
Sales P2 Plus Denny SK mengatakan perangkat tersebut dirancang untuk mendukung transaksi sekaligus operasional bisnis. “Produk kami lebih ke hardware. Kami menyediakan perangkat POS yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan bisnis,” kata Denny.
Produk P2 Plus mencakup terminal POS dan sistem POS modular yang dapat digunakan di sektor food and beverage, ritel, kios, hingga layanan mandiri (self-service). Perangkat tersebut tidak hanya digunakan untuk transaksi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan operasional bisnis.
Menurut Sales P2 Plus Martin Dominic, perangkat P2 Plus yang berukuran relatif ringkas telah digunakan di sejumlah bank di Taiwan. Teknologi tersebut juga telah digunakan di beberapa negara, termasuk Eropa, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, dan Filipina.
“Kami melihat Indonesia mengalami banyak perkembangan, terutama di sektor industri, ritel, dan F&B. Harapan kami, kami bisa menemukan mitra yang memiliki visi yang sama untuk menyediakan produk berkualitas dan pelayanan yang dapat dipercaya,” kata Martin.
Menurut Martin, sebagai produsen, P2 Plus tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pasar Indonesia sendiri. Karena itu, keberadaan mitra lokal menjadi penting untuk memperluas penggunaan teknologi mereka di Indonesia.
Transcend Pasok Storage untuk LRT dan Industri
Perusahaan Taiwan lainnya yang hadir adalah Transcend. Produk perusahaan ini umumnya dikenal sebagai perangkat penyimpanan data atau storage. Namun, penggunaannya tidak terbatas pada komputer dan kebutuhan perkantoran.
Key Account Manager Eforel, distributor produk embedded Transcend di Indonesia, M. Nurrahman H, mengatakan perangkat Transcend digunakan untuk sistem signaling Light Rail Transit (LRT). “LRT pemakaiannya outdoor. Untuk sistem signaling, salah satunya menggunakan produk kami, termasuk untuk storage-nya,” kata Nurrahman.
Menurut dia, sistem signaling membutuhkan perangkat dengan tingkat keandalan tinggi karena kegagalan sistem dapat berdampak pada keselamatan perjalanan kereta. Perangkat yang digunakan juga harus mampu bekerja dalam kondisi lingkungan yang berat. “Transcend memiliki ketahanan yang lebih tangguh. Signaling itu sangat kritikal. Kalau ada data lost dan sebagainya, bisa berbahaya,” ujarnya.
Selain transportasi, perangkat Transcend digunakan di sektor pertambangan. Menurut Nurrahman, perangkat tersebut telah digunakan dalam proyek pertambangan yang menghadapi kondisi temperatur lebih dari 40 derajat Celsius.
Jika menggunakan storage dengan ketahanan untuk penggunaan komersial biasa, perangkat berpotensi mengalami hang ketika berada dalam lingkungan yang terlalu panas. “Kalau di area mining biasanya derajatnya lebih dari 40 derajat. Kalau memakai storage yang ketahanan komersial, ketika digunakan biasanya akan hang dan sistem tidak berjalan,” katanya.
Teknologi serupa juga digunakan pada mesin industri dan robotik. Perangkat storage dan RAM menjadi bagian dari komputer atau gateway yang mengendalikan mesin. “Kalau ada masalah di storage, otomatis sistem yang menjalankan robot-robotnya akan mengalami failure. Jadi tidak bisa bergerak, bahkan bisa menyebabkan insiden karena malfungsi,” ujar Nurrahman.
Transcend juga memperkenalkan bodycam untuk kebutuhan keamanan. Perangkat tersebut dapat merekam hingga 12 jam dan dilengkapi fitur face detection pada rekaman. “Ketika sudah di-download, data recording-nya sudah ada face detection. Jadi ketika direkam, wajah siapa saja yang masuk dalam rekaman bisa teridentifikasi,” kata Nurrahman.
Menurut dia, perangkat tersebut dapat digunakan oleh kepolisian dan TNI. Teknologi serupa juga telah digunakan di Malaysia dan Thailand.
Aira Tawarkan Facial Recognition Tanpa Ganti CCTV
Peserta lainnya adalah Aira Corporation, perusahaan teknologi yang mengembangkan perangkat lunak facial recognition berbasis AI.
Marketing Specialist Aira Corporation Phoebe Ophelia mengatakan sistem Aira dapat terhubung dengan CCTV yang sudah dimiliki pengguna. Dengan demikian, pengguna tidak harus mengganti seluruh kamera untuk menerapkan teknologi pengenalan wajah. “Tidak perlu mengganti semua kamera mereka dengan kamera kami. Kita tinggal masuk ke kamera mereka, kita hubungkan, lalu mereka bisa menggunakan kamera yang sudah ada dengan sistem kita,” kata Phoebe.
Sistem di Aira bisa melacak seseorang melalui rekaman dari sejumlah kamera. Pengguna dapat mencari wajah tertentu dan mengetahui kamera mana saja yang mendeteksi orang tersebut. “Secara kasarnya, ini pelacakan manusia. Kalau di film-film detektif, kita bisa klik wajah seseorang lalu mengetahui orang itu ke mana saja. Kita bisa melakukan itu,” ujar Phoebe.
Sistem tersebut juga dapat menampilkan orang-orang yang berada di sekitar seseorang yang teridentifikasi. Fitur ini dapat digunakan untuk membantu proses investigasi.
Aira juga mengembangkan teknologi untuk pencarian orang hilang. Di Taiwan, teknologi tersebut antara lain digunakan di area publik dengan jumlah pengunjung besar. Phoebe mencontohkan penggunaan teknologi tersebut untuk membantu mencari anak atau lansia yang terpisah dari keluarganya.
Saat ini, Aira juga tengah menjajaki penerapan sistemnya di jaringan rumah sakit swasta di Indonesia. Sistem tersebut akan diintegrasikan dengan CCTV untuk mendukung keamanan rumah sakit.
Menurut Phoebe, teknologi Aira juga dapat disesuaikan untuk kebutuhan lain, seperti menghitung jumlah orang dalam suatu area. Namun, fitur tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna.
Salah satu kemampuan yang dikembangkan Aira adalah mengenali wajah meski sebagian wajah tertutup. Phoebe mengatakan pengalaman selama pandemi Covid-19 turut mendorong pengembangan teknologi tersebut. “Karena kita mulai sekitar 2020, saat banyak orang masih memakai masker dan topi. Tapi kita masih bisa mendeteksi mereka,” ujar Phoebe.
Teknologi tersebut juga dapat mengenali wajah dari sudut pengambilan gambar tertentu, termasuk ketika wajah hanya terlihat sebagian atau kamera berada pada posisi tinggi.
Selain sektor kesehatan dan keamanan, Aira mulai mengembangkan teknologi untuk kebutuhan law enforcement. Perusahaan tersebut sedang mengembangkan smart glasses dan body camera yang dilengkapi sistem pengenalan wajah. Perangkat tersebut memungkinkan petugas menerima peringatan ketika kamera mendeteksi wajah yang sesuai dengan target pencarian.
“Sekarang kita sudah mulai global. Salah satunya kita ingin mulai masuk ke law enforcement, karena kita juga bisa membantu mereka,” kata Phoebe.
INTI 2026 berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo). Pameran teknologi B2B tersebut mempertemukan perusahaan teknologi, pelaku industri, startup, investor, dan pemangku kepentingan untuk mendorong transformasi digital di berbagai sektor.















































