Trump: AS Akhiri Gencatan Senjata Jika Ada Tentara Tewas

10 hours ago 25

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan hanya akan mempertimbangkan untuk mengakhiri perjanjian gencatan senjata dengan Iran apabila ada tentara AS yang tewas. Hal ini dilaporkan harian The Wall Street Journal dengan mengutip sejumlah pejabat seperti dilansir Yeni Safak.

Pernyataan Trump terjadi saat AS-Iran saling melancarkan serangan paling intens sejak gencatan senjata dimulai pada awal April. Trump telah berulang kali menekankan upaya kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri perang yang akan membuka kembali Selat Hormuz dan membongkar program nuklir Iran.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Trump mengatakan dalam wawancara dengan podcast Pod Force One pada Rabu 3 Juni 2026 seperti dilansir Antara, dirinya lebih memilih solusi diplomatik untuk situasi dengan Iran atas alasan kemanusiaan. Namun, dimulainya kembali serangan AS dapat memberikan keyakinan bahwa konflik tidak akan kembali pecah.

Trump disebut siap menghadapi insiden-insiden kecil yang dapat terjadi dalam beberapa pekan atau bahkan beberapa bulan ke depan, demikian laporan tersebut pada Rabu.

Saling Serang

Washington dan Teheran kembali terlibat dalam permusuhan paling intens sejak gencatan senjata berlaku pada awal April. Iran meluncurkan rudal dan drone yang menargetkan instalasi militer AS di seluruh wilayah serta Bandara Internasional Kuwait, setelah AS melancarkan serangan ke wilayah Iran.

Serangan tersebut mengakibatkan satu korban jiwa yang terkonfirmasi dan menandai peningkatan signifikan dalam perselisihan yang sedang berlangsung mengenai kendali atas Selat Hormuz yang strategis — titik penting bagi pengiriman energi global.

Teheran telah membatasi transit komersial melalui jalur air tersebut sementara Washington telah memberlakukan blokade ketat terhadap pelabuhan Iran. Hal ini yang sangat mengganggu pasar energi global dan jalur pelayaran internasional. Insiden saling serang itu telah meningkatkan tekanan pada pemerintahan Trump dan menimbulkan keraguan tentang keberlanjutan jangka panjang gencatan senjata.

Alasan Washington

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menggambarkan serangan baru-baru ini sebagai tindakan defensif daripada kembalinya konflik skala penuh selama sidang DPR pada Rabu.

"Serangan tersebut terjadi sebagai tanggapan terhadap tindakan Iran," klaim Rubio, menambahkan bahwa Washington tidak akan terlibat jika Teheran menghentikan serangannya terhadap pelayaran.

"Jika mereka tidak menembak kapal-kapal itu, kami tidak akan menembak, tetapi kita harus merespons," kata Rubio kepada para anggota parlemen, menurut Journal. Komentarnya menggarisbawahi upaya pemerintah untuk membingkai tindakan militernya sebagai tindakan reaktif sambil tetap menekan Teheran untuk mengurangi ketegangan.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa pemerintahan AS berupaya menghindari pecahnya perang berskala penuh di Timur Tengah.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang mengakibatkan kerusakan serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah, sebagai bentuk pertahanan diri.

Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata. Namun, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa menghasilkan terobosan.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |