REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG SELATAN – Sebanyak 17 pelajar dari lima sekolah di Jakarta mengolah kain perca menjadi peta Indonesia berukuran 2,5 meter x 1,5 meter dalam proyek Weaving Nusantara. Karya tersebut ditampilkan dalam kegiatan amal untuk mendukung penyandang disabilitas di ICE BSD, Tangerang Selatan.
Para pelajar berasal dari ACS Jakarta, Jakarta Intercultural School (JIS), British School Jakarta (BSJ), Santa Ursula BSD, dan Sekolah Murid Merdeka. Mereka mengerjakan proyek secara mandiri selama berbulan-bulan, mulai dari mengumpulkan dan menyusun kain hingga menyiapkan kegiatan.
Tim Weaving Nusantara terdiri atas Howard Alvias, Annabelle Christian, dan Edgar Panjaitan yang menangani Project Management; Kenzo Sugiarso dan Jacob Roddick Basuki di bidang Finance; Emelyn Nicole, Dominique Patte, dan Ghissa Mallarangeng di bidang Creative; Kenneth Sandjaja, Anthony Boenjamin, dan Fidel Tani pada Creative Mapping; Kiara Handoko, Krishay Amarnani, dan Kiara Jiaw di bidang Communications; serta James Sumali, Jacob Dinata, dan Aiden Seng yang menangani Operational.
Proyek tersebut menjadi bagian dari Style Avenue, bazaar mode dan gaya hidup yang diselenggarakan KKB BNI dalam rangkaian BNI wondrX 2026. Kegiatan itu juga menjadi momentum penggalangan dana bagi Yayasan Wisma Cheshire Indonesia, lembaga yang mendampingi penyandang disabilitas.
Bagi para pelajar, kain perca digunakan sebagai medium untuk menyampaikan pesan tentang keberlanjutan, keberagaman, dan inklusi.
“Potongan-potongan ini awalnya hanyalah serpihan cerita yang dibuang. Sendirian, mereka kehilangan maknanya. Namun saat diletakkan berdampingan, mereka menemukan rumah baru,” ujar Project Director Weaving Nusantara Howard Alvias, Selasa (8/9/2026).
Menurut Howard, pemanfaatan kain sisa menunjukkan bahwa material yang dianggap tidak berguna masih dapat memiliki fungsi dan nilai baru.
“Ini bukan hanya tentang membuat sebuah karya seni. Ini tentang bagaimana kita melihat kembali sesuatu yang dianggap tidak berguna dan memberinya kehidupan kedua,” katanya.
Peta Indonesia tersebut dibuat dari kain perca hasil sumbangan yang dikumpulkan para anggota Weaving Nusantara. Proses pengerjaan dilakukan selama beberapa bulan sebelum karya ditampilkan dalam kegiatan amal.
Konsep tersebut juga diterapkan melalui kolaborasi antara pelajar, ibu-ibu KKB BNI, relawan, dan pengrajin penyandang disabilitas. Setiap pihak terlibat sesuai dengan kemampuan dan perannya masing-masing.
Peta kain perca tersebut kemudian menjadi latar peragaan busana bertajuk “Benang Kedua”. Peragaan tersebut menampilkan 10 gaun yang dibuat oleh tujuh desainer muda dengan gagasan memberikan kehidupan kedua kepada material sisa.
Weaving Nusantara juga menggelar tiga kegiatan kreatif, yakni lomba menghias tote bag untuk siswa tuli dan dengar-kurang, lomba mozaik kain untuk siswa sekolah dasar berusia 7–12 tahun, serta Make-A-Vest untuk pelajar berusia 13–18 tahun.
Dalam Make-A-Vest, 17 peserta menerima blind box berisi bahan yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Mereka kemudian ditantang membuat rompi layak pakai dengan tema Indonesia.
Yayasan Wisma Cheshire Indonesia turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Para perajin dari Cheshire memasok tote bag untuk perlombaan, menjadi juri, dan memperagakan keterampilan menjahit kepada peserta.
Di luar pembuatan karya, para pelajar juga menangani konsep acara, komunikasi dengan berbagai pihak, promosi, perekrutan peserta, operasional, dan pendanaan. Proses tersebut menjadi pengalaman bagi mereka untuk belajar mengenai kepemimpinan, kolaborasi, manajemen proyek, keberlanjutan, kewirausahaan sosial, dan inklusi disabilitas.
Weaving Nusantara dijalankan oleh 17 pelajar tingkat SMP dan SMA dari ACS Jakarta, JIS, BSJ, Santa Ursula BSD, dan Sekolah Murid Merdeka. Proyek tersebut menggabungkan pemanfaatan material sisa dengan kegiatan kreatif dan penggalangan dana bagi penyandang disabilitas.

3 hours ago
13
















































