Dokter Imbau Jangan Nyalakan Kipas Angin Saat Ada Abu Vulkanik

7 hours ago 22

Menyalakan kipas angin (ilustrasi). Dokter menyarankan untuk menghindari menyalakan kipas angin saat ada abu vulkanik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan abu vulkanik akibat erupsi gunung Anak Krakatau. Paparan abu dapat memicu berbagai gangguan pernapasan akut, terutama pada anak yang memiliki riwayat asma, alergi, maupun penyakit paru kronis.

"Pada anak dengan riwayat alergi, asma, atau penyakit paru kronis paparan abu vulkanik bisa memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya. Adapun gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas," kata Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Wahyuni Indawati, dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (8/9/2026).

Tidak hanya itu, anak dengan kondisi tertentu seperti bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal atau anak dengan penyakit jantung bawaan juga masuk dalam kelompok berisiko tinggi. Karenanya orang tua diimbau tidak menganggap remeh gejala yang muncul.

"Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata dr Wahyuni.

Ia menjelaskan abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material ini terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif. Ketika terhirup, partikel-partikel ini dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan.

"Abu vulkanik juga mengandung gas-gas iritan seperti sulfur dioksida dan karbon monoksida yang dapat memperparah iritasi dan memicu peradangan pada sistem pernapasan anak," kata dia.

Mengingat tingginya risiko tersebut, IDAI melalui UKK Respirologi mengeluarkan serangkaian rekomendasi penting bagi orang tua untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik. Langkah paling ideal adalah mengungsikan anak menjauh dari lokasi terdampak. Jika tidak memungkinkan, upaya terbaik adalah menjaga anak tetap berada di dalam rumah dengan kondisi rumah tertutup rapat untuk mencegah abu masuk. 

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |