Bappenas: Indonesia Perlu Integrasikan Ekosistem Karbon Biru dalam Perencanaan Pembangunan

2 hours ago 19

Indonesia secara resmi mentransformasikan strategi iklimnya dari pendekatan berbasis daratan menjadi strategi terpadu darat dan laut. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan Indonesia perlu mengintegrasikan ekosistem karbon biru ke dalam perencanaan pembangunan nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan daya dukung ekosistem.

"Indonesia secara resmi mentransformasikan strategi iklimnya dari pendekatan berbasis daratan menjadi strategi terpadu darat dan laut," kata Rachmat dalam peluncuran Peta Jalan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru Indonesia 2026-2045 di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, pengarusutamaan karbon biru bukan hanya berkaitan dengan kepentingan Indonesia, tetapi juga persoalan global. Pangan, energi dan air, kata dia, merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi seiring pertumbuhan penduduk dunia.

Rachmat mencontohkan pertumbuhan penduduk Indonesia yang meningkat dari sekitar 135 juta jiwa pada masa lalu menjadi lebih dari 280 juta jiwa saat ini. Kondisi tersebut berarti kebutuhan terhadap pangan, energi, air dan ruang juga semakin besar.

Penduduk dunia, lanjut dia, kini telah mencapai lebih dari delapan miliar jiwa. Karena itu, Indonesia perlu memperhitungkan daya dukung bumi dalam merancang pembangunan.

"Kita tidak bisa mengabaikan apa yang dilakukan oleh generasi kita, masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang," ujarnya.

Rachmat mengatakan Indonesia memiliki wilayah yang luas, tetapi sekitar dua pertiga wilayahnya merupakan laut. Dengan keterbatasan lahan dan pertumbuhan penduduk, pembangunan nasional ke depan perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap potensi kelautan.

Dia menyebut luas daratan Indonesia relatif tidak banyak berubah sejak kemerdekaan, yakni sekitar 191 juta hektare, sementara jumlah penduduk meningkat signifikan. Kondisi tersebut membuat rasio ketersediaan lahan per penduduk semakin kecil.

"Dalam kondisi seperti ini kita tidak lain harus pergi ke laut," kata Rachmat.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |