Buku Baru Pustaka Obor Dari Buku Sejarah Hingga Novel Betawi

3 hours ago 7

Pustaka Obor Indonesia menerbitkan  buku dengan beragam genre beberapa waktu ini. Buku yang diterbitkan antara lain buku sejarah, lingkungan dan pembangunan, politik, dan buku fiksi novel Betawi. Peluncuran buku dan penjelasan singkat dari para penulis masing-masing dilakukan Yayasan Pustaka Obor pada 8 April 2026. Beberapa buku baru yang diterbitkan antara lain buku Bonge Perlawanan Kampung Mlinjo (karya Yan Lubis), Agora Demokrasi  Revolusi Iran Dari Tumbangnya Shah Iran Hingga Perang Melawan AS (karya Nasir Tamara), Ngawi Ngawiyat Menelusuri Jejak Sejarah Benteng Van Den Bosch (Nunus Supriyadi), dan Membangun Tanpa Menggusur: Perjuangan Kampung Susun dari Reruntuhan hingga World Habitat Award (ditulis Untung Widyanto dan M. Azka Gulyan).

“Harapannya bisa memberikan pengetahuan dan bacaan menarik kepada para pembaca,” ujar Kartini Nurdin, Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia baru-baru ini di kantornya saat acara Halal Bihalal dan Peluncuran Buku Pustaka Obor.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dalam acara itu hadir para penulis dan pembaca setia buku-buku terbitan Pustaka Obor Indonesia. Mereka menerangkan  rangkuman dari karya-karya mereka.  Seperti Nunus Supriyadi yang menjelaskan sejarah Benteng Van Den Bosch di Ngawi dalam buku Ngawi Ngawiyat Menelusuri Jejak Sejarah Benteng Van Den Bosch. Buku ini mengulas secara mendalam benteng Van Den Bosch atau yang sering di  sebut Benteng Pendem di Ngawi. Dalam menuliskan buku ini, ia menelusuri sejumlah arsip, dkumen dan referensi yang berasal dari dalam dan luar negeri. Ia menjelaskan sejarah benteng di lokasi yang tak jauh dari Bengawan Solo dan Bengawan Madiun;   fungsinya dari masa penjajahan kolonial Belanda hingga ke masa kemerdekaan RI. Benteng ini juga ternyata pernah dipakai untuk menahan orang-orang Jerman.

Yang menarik ketika  Nunus menjabarkan sejumlah nama tokoh ternyata pernah tinggal dan dipenjara di benteng tersebut. “Ada beberapa tokoh penting pernah tinggal, ditahan juga di benteng ini, seperti Douwes Dekker yang nama lengkapnya  Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Ia pernah mendekam di kamp interniran di benteng ini sebelum dipindah ke Belanda,” ujar Nunus. Selain Douwes Dekker, ada pula pelukis  kelahiran Rusia, Walter Spies merasakan dinginnya tembok benteng ini. Kisah-kisah para tokoh ini ditulis cukup lengkap oleh Nunus.

Sementara untuk buku Bonge, Yan menuturkan tentang tradisi dan  masyarakat Betawi yang perlahan-lahan mulai tergusur. Novel ini  memadukan cerita realita sosial, satir, heroisme dan sentuhan magis. Yan memotret perjuangan warga kecil yang mempertahankan tanah dan identitasnya dari dunia kecil di Kampung Mlinjo yang akan digusur untuk proyek raksasa. Yan mengedepankan tradisi Betawi ini dengan memasukkan Bahasa Betawi yang sudah jarang dipakai. “Bahasa Betawi itu di beberapa wilayah berbeda dan masuk dalam dialog dari para tokohnya,” ujar Yan. Ia juga menjelaskan novelnya ini dengan gaya humor dan satir dan sengaja memberi sentuhan magis dengan hadirnya tokoh Jin Nongnong.

Buku Membangun Tanpa Menggusur: Perjuangan Kampung Susun dari Reruntuhan hingga World Habitat Award (ditulis Untung Widyanto dan M. Azka Gulyan) berisi kisah perjuangan warga Kampung Susun di salah satu sudut Kota Jakarta dan bagaimana kampung ini dibangun dengan inovasi-inovasi yang didampingi advokasinya  oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Keberhasilan pembangunan perumahan rakyat kecil ini diganjar dengan penghargaan World Heritage World. Untung dan Azka menuliskan mulai dari sejarah, lini masa  pembangunan kampung susun di beberapa lokasi yang cukup panjang di Jakarta . Mereka juga menjelaskan bagaimana pembangunan untuk hunian tempat tinggal masyarakat kecil, alternatif  model pembangunan perumahan rakyat  tanpa harus disertai dengan penggusuran.  

baca juga:

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |