Cerita Warga Diam Dikepung Asap Kebakaran TPA Jatiwaringin

8 hours ago 18

KAMPUNG Pulo Babulak yang berlokasi di Desa Rajeg Mulya, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, masih berselimut asap pada Selasa, 7 Juli 2026. Kampung ini memang hanya berjarak satu kilometer saja di sisi selatan Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA Jatiwaringin. Pada hari itu, genap sepekan sudah kebakaran melanda sebagian dari TPA yang memiliki luas total sekitar 33 hektare tersebut.

Meski kampung masih dikepung asap kebakaran TPA Jatiwaringin, aktivitas warganya tampak normal. Mereka yang berjualan, misalnya, tetap mudah ditemukan di tepi-tepi jalan. Begitu pula tak sulit mendapati warganya yang beraktivitas lain di luar rumah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Salah satu warga kampung itu, Endi, 50 tahun, mengatakan baru hari pertama itu kembali berjualan sejak hari pertama TPA Jatiwaringin kebakaran pada 30 Juni lalu. Selama beberapa hari dia dan warga lainnya di Kampung Pulo Babulak diam di dalam rumah demi menghindar dari pencemaran kabut asap pekat dari kebakaran TPA Jatiwaringin. 

"Kami ngumpet aja di rumah masing-masing. Tidak ada yang mengungsi, karena tidak ada arahan lurah," kata Endi. Dia membandingkan dengan warga kampung tetangga, Pulo Jungkel. "Mereka pada mengungsi ke balai desa."

Menurut Endi, petugas hadir di kampungnya hanya pada hari pertama kebakaran untuk membagikan masker. Padahal, dia menambahkan, banyak warga di kampungnya yang tergolong lanjut usia dan balita. Mereka, kata Endi, paling rentan jatuh sakit karena asap kebakaran sampah.

"Saya punya orang tua, ya, saya suruh sembunyi saja di dalam rumah sama cucunya. Tidak boleh keluar rumah," katanya kecewa. 

Endi baru membuka kembali lapak jualan es kelapa muda di teras rumahnya yang sederhana setelah beberapa hari kemudian, meski asap belum benar-benar hilang. Dia hanya menelan ludah saat melihat jalan depan rumahnya hilir-mudik petugas, lalu-lalang kendaraan menuju Balai Desa Tanjakan Mekar dimana ratusan warga diantaranya dari Kampung Pulo Jungkel mengungsi selama sepekan terakhir.

TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, 7 Juli 2026. Tempo/Ayu Cipta.

Dari Kampung Pulo Babulak, Tempo menyusuri jalan desa menuju tempat pengungsian di Balai Desa Tanjakan Mekar. Di sepanjang kanan-kiri jalan banyak perumahan komersial bersubsidi maupun perumahan klaster kecil. Mereka juga menjadi warga terdampak asap kebakaran TPA Jatiwaringin.  

Cerita dari Lokasi Pengungsian 

Meski tidur berdesakan dalam satu aula di Balai Desa Tanjakan Mekar, salah satu pengungsi bernama Encam (54) mengaku lega terhindar dari kepungan asap kebakaran TPA Jatiwaringin. Mereka mendapat pembagian makanan, vitamin, dan pemeriksaan kesehatan. "Alhamdulillah sudah seminggu di sini saya dan cucu sehat," kata Encam.

Encam  mengisahkan sedang memasak di dapur saat kebakaran terjadi di hari pertamanya, 30 Juni 2026. "Saya keluar rumah karena terdengar suara beledug-beledug, dari luar rumah kelihatan tuh api gede banget," katanya sambil menambahkan, "Jarak rumah kami dengan TPA kan deket, nempel."

Encam ingat waktu itu jam menunjukkan sekitar pukul 10.30. Dia dan para tetangganya menyaksikan bersama-sama bagaimana api berkobar-kobar hingga tubuhnya gemetar. "Rasanya macam-macam, ya takut, ya was-was, semua saya rasakan," kata Encam.

Saking bingung  dan panik dia  hanya mondar-mandir keluar masuk rumah, dan baru pergi mengungsi 3,5 jam setelah kebakaran terjadi.

Arahan lalu datang dari perangkat desa setempat agar warga Kampung PuloJungkel dan warga di perumahan terdekat TPA Jatiwaringin diungsikan ke Balai Desa Tanjakan Mekar. Itu terjadi sekitar 3,5 jam setelah kebakaran besar disadari para warga. 

Karena mencemaskan rumah yang ditinggalkannya, Encam mengaku sempat datang lagi ke kampungnya pada tengah malam. Dia bersama suaminya mendapati asap hingga di dalam rumah. "Baunya menusuk hidung, bikin nafas sesak, dan mata perih," katanya. 

Keterangan itu dibenarkan oleh sejumlah warga lainnya asal kampung yang sama.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mencatat seluruhnya terdapat 334 warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan sejak ada pengungsian. Dari jumlah itu 95 orang mengalami ISPA. "Penderita ISPA  masih ada, yang lain sudah sembuh," kata Hendra melalui pesan WhatsApp  kepada Tempo.

Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid  mengimbau agar warga tetap dalam pengungsian, sampai kebakaran benar-benar padam dan  TPA  Jatiwaringin  aman. "Saya minta sebelum kondisi TPA benar-benar teratasi dan masih ada asap, warga tetap berada di balai desa. Makan, minum, vitamin dan pelayanan kesehatan semuanya kami siapkan," kata Maesyal. 

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |