Cina Balas Trump: Tetapkan Tarif Impor untuk Produk AS hingga 34 Persen

9 hours ago 9

TEMPO.CO, Jakarta - Cina telah mengambil langkah balasan terhadap kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump dengan mengumumkan tarif tambahan sebesar 34 persen terhadap seluruh barang asal AS. Dikutip dari Al Jazeera, Cina juga memperketat ekspor sejumlah logam dan mempertegas eskalasi dalam perang dagang antara kedua negara. 

Kebijakan ini merupakan respons langsung terhadap langkah Trump yang pada Rabu, 2 April 2025 telah menaikkan tarif impor terhadap produk-produk asal Cina. Trump awalnya memberlakukan tarif sebesar 20 persen, kemudian menambahkannya hingga total menjadi 54 persen.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sebagai bentuk pembalasan, Cina tidak hanya mengenakan tarif baru, tetapi juga memperketat kontrol ekspor terhadap sejumlah mineral penting, termasuk logam tanah jarang yang berperan strategis dalam berbagai industri teknologi. Langkah tegas dari Cina ini menandai semakin panasnya tensi dalam hubungan dagang kedua negara. 

Kementerian Keuangan Cina mengonfirmasi bahwa tarif balasan ini akan mulai berlaku pada 10 April 2025. Sebelumnya, pemerintah Cina telah lebih dulu menerapkan tarif sebesar 15 persen terhadap impor batu bara dan gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat sebagai respons atas tarif 10 persen yang lebih dulu diberlakukan Washington terhadap produk-produk asal Cina.

Selain tarif, Cina juga mengumumkan kebijakan kontrol ekspor yang lebih ketat terhadap mineral penting dan beberapa sektor bisnis strategis sehingga membatasi perdagangan dengan AS di bidang tersebut. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Perdagangan Cina menjelaskan bahwa kebijakan ini diberlakukan demi melindungi keamanan dan kepentingan nasional, serta memenuhi kewajiban internasional seperti pencegahan penyebaran senjata berbahaya.

“Tujuan dari penerapan kontrol ekspor oleh pemerintah Cina terhadap barang-barang terkait sesuai hukum adalah untuk lebih melindungi keamanan dan kepentingan nasional, serta memenuhi kewajiban internasional seperti non-proliferasi,” kata Kementerian Perdagangan Cina dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Jazeera.

Menanggapi tindakan tegas dari Cina tersebut, Presiden Trump menyampaikan reaksinya melalui media sosial pada Jumat pagi, 4 April 2025 dengan unggahan bernada keras yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menuliskan, "Cina TELAH MEMBUAT KESALAHAN BESAR, MEREKA PANIK–DAN ITU ADALAH SATU HAL YANG TIDAK BISA MEREKA LAKUKAN.” 

Langkah Balasan Cina dalam Bentuk Sanksi Perdagangan dan Kontrol Ekspor

Menurut informasi dari Newsweek, Pemerintah Cina melalui otoritas bea cukainya mengumumkan penghentian impor daging ayam dari dua perusahaan asal Amerika Serikat, yaitu Mountaire Farms of Delaware dan Coastal Processing. Keputusan ini diambil setelah ditemukan berulang kali kandungan furazolidone—obat yang dilarang di Cina—dalam produk kiriman dari kedua perusahaan tersebut.

Cina menambahkan 27 perusahaan ke dalam daftar entitas yang dikenai sanksi perdagangan dan pembatasan ekspor. Dari jumlah tersebut, 16 perusahaan dilarang mengekspor barang-barang yang tergolong "dual-use", yakni barang yang bisa digunakan untuk keperluan sipil maupun militer. Beberapa perusahaan dalam daftar tersebut termasuk High Point Aerotechnologies yang bergerak di bidang teknologi pertahanan, serta Universal Logistics Holding, yakni perusahaan logistik dan transportasi yang terdaftar di bursa saham.

Sebagai tambahan, pemerintah Cina juga mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) sebagai respons atas persoalan tarif yang dikenakan Amerika Serikat.

"Cina telah mengajukan keluhan kepada WTO sehubungan dengan langkah-langkah Amerika Serikat," kata Misi Permanen Cina untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WHO) dalam sebuah pernyataan. 

Langkah-langkah tegas yang diambil Cina mulai dari penangguhan impor, sanksi terhadap perusahaan, hingga gugatan ke WTO mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat dalam hubungan dagang kedua negara dengan tarif impor AS menjadi pemicu utama eskalasi konflik perdagangan ini.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |