Kenapa Efek Gempa Myanmar M7,7 Bisa Begitu Dahsyat dan Luas?

18 hours ago 12

TEMPO.CO, Jakarta - Gempa M7,7 mengguncang Mandalay, Myanmar bagian tengah, yang juga kota terbesar kedua setelah Yangon, pada Jumat 28 Maret 2025. Guncangan gempa itu dirasakan kuat hingga ke wilayah di negara tetangga, yakni Cina dan Thailand.

Gempa darat itu tercetus pada pukul 12.50 waktu setempat dari kedalaman sekitar 10 kilometer. Berselang 12 menit kemudian, gempa M6,7 muncul dari kedalaman sama di sisi selatan episentrum gempa yang pertama. Dan menyusul sepanjang hari itu sebanyak sembilan gempa susulan dengan magnitudo yang lebih kecil, bervariasi dari M4,4 sampai 4,9.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sedikitnya, menurut klaim junta militer Myanmar pada hari pertama gempa itu terjadi, sebanyak 144 orang tewas, dan 732 lainnya terluka. Sebuah kuil dan banyak bangunan lain ambruk karena rangkaian gempa itu. Hampir seminggu berselang, laporan junta militer mengungkap jumlah korban jiwa yang ditemukan sudah lebih dari 3.000 orang. Korban luka-luka lebh dari 4.700 orang dan yang masih hilang 341 orang.

Tim penyelamat melakukan pencarian korban gempa bumi di lokasi bangunan yang runtuh di Mandalay, Myanmar, 30 Maret 2025. Reuters/Stringer

Jumlah itu belum termasuk korban yang berada di Bangkok, Thailand. Di kota ini, dilaporkan setidaknya 10 orang tewas karena bangunan yang sedang dalam proses konstruksi ambruk kembali. Pemerintah Thailand juga mengatakan 16 orang terluka dan 101 hilang. Itu adalah data hari pertama kejadian gempa.

Sesar Geser Sagaing dan Akumulasi Energinya

Gregory Beroza, Profesor Geofisika di Stanford University, Amerika Serikat, mengatakan bahwa gempa yang terjadi sangat kuat. Kepada Livescience, dia menyatakan tak terkejut kalau Bangkok yang lokasinya sangat jauh dari patahan gempa di Myanmar juga bisa merasakannya.

Beroza menerangkan, gempa kembar M7,7 dan M6,7 di Myanmar diketahui berasal dari Patahan atau Sesar Gempa Sagaing yang melurus utara-selatan sepanjang hampir 1600 kilometer membelah Myanmar menuju Laut Andaman. Gempa yang berasal dari aktvitas sesar ini dikenal sebagai gempa strike-slip (geser), di mana satu bidang lempeng tergelincir secara horizontal melewati satu bidang lempeng di sisi lain patahan. 

Mengutip data Badan Survei Geologis Amerika Serikat (USGS), Beroza mengatakan, "Tipikalnya itu mirip Patahan Gempa San Andreas di California."

Profesor Emeritus Bidang Geologi di University of Michigan Ben van der Pluijm menjelaskan, Myanmar yang terletak sebelah selatan Pegunungan Himalaya adalah wilayah yang memang aktif secara seismik dan dikenal dengan kejadian gempa besar. Menurutnya, hal itu karena pergerakan Lempeng India. 

Lempeng India telah selama 100 juta tahun ini bergerak ke arah utara. Sekitar 40 juta tahun lalu, lempeng India bertumbuk ke Lempeng Eurasia dan tetap bergerak mendorong Eurasia ke utara. "Selama jutaan tahun, proses tumbukan itu yang telah menciptakan Pegunungan Himalaya," katanya.

Bahkan hingga kini, van der Pluijm menambahkan, Lempeng India masih terus mendorong Eurasia ke arah utara. "Proses inilah yang telah mengakumulasi energi yang kemudian lepas dalam peristiwa gempa bumi seperti di Myanmar."

Gempa M7,7 yang terjadi disebutnya sangat kuat sehingga tidak heran jika tanah bergeser beberapa meter. "Ini adalah gempa yang sangat kuat," katanya, "Kita tidak banyak memiliki peristiwa gempa seperti ini."

Karena pusat gempa itu dangkal, Profesor Ilmu Bumi di Yale University Jeffrey Park menilai, dampak gempa Myanmar ini bisa dibandingkan dengan gempa M7,8 dan 7,5 yang mengguncang Turki pada 2023 lalu. "Laporan dampaknya sangat mungkin sama, juga dengan jumlah korban jiwanya, karena ini gempa dangkal di wilayah padat penduduk Myanmar," kata Park.

Sejak 1900, berdasarkan data USGS, wilayah yang sama telah memiliki enam gempa strike-slip M7,0 atau lebih dalam radius 250 kilometer dari pusat gempa terkini. Yang paling dekat adalah M7,0 pada Januari 1990 lalu yang menyebabkan 32 bangunan runtuh. Gempa yang lebih kuat daripada itu, M7,9, terjadi di sebelah selatan episentrum gempa terkini pada Februari 1912.

Kenapa Kerusakan Bisa Sampai Bangkok?

Secara spesifik, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menunjuk Sesar Sagaing merupakan bagian dari sistem tektonik yang membatasi Lempeng India dan Eurasia, sehingga memiliki aktivitas seismik yang sangat signifikan. Laju pergeseran dari tumbukan kedua lempeng itu sendiri disebutnya cukup signifikan, yakni 18-22 mm per tahun. "Mekanismenya geser menganan," kata dia.

Menurut Daryono, ada dua kemungkinan efek merusak gempa Myanmar bisa menjangkau jauh hingga ke Bangkok yang berjarak lebih dari 965 kilometer dari pusat gempa tersebut. Pertama, efek Vibrasi Periode Panjang (Long Vibration Period) di mana gelombang gempa yg sumbernya jauh direspons tanah lunak dan tebal di Bangkok.

Pencarian korban akibat bangunan yang runtuh setelah gempa bumi dahsyat melanda Myanmar yang terasa sampai di Bangkok, Thailand, 28 Maret 2025. Reuters/Athit Perawongmetha

Kedua, efek direktivitas atau efek yang terjadi ketika energi gempa terfokus dalam satu arah. "Semakin tinggi direktivitas, semakin terkonsentrasi energi dalam satu arah," kata Daryono dalam keterangan yang dibagikannya pascagempa Myanmar itu.

Kemungkinan berbeda diungkap Frederik Tilman, seismolog di Pusat Ilmu Bumi Helmholtz GFZ, Jerman, berbeda. Dia menduga gempa yang terjadi di Myanmar pekan lalu adalah gempa langka yang dikenal sebagai supershear di mana energi patahan akibat tumbukan lempeng bergerak sangat cepat di permukaan, melipatgandakan efek merusaknya. Hal itu hanya bisa terjadi jika panjang bidang patahan yang bergeser itu lebih dari 400 kilometer.

"Dalam beberapa hari ke depan para peneliti bisa memastikannya dengan cara melihat citra satelit wilayah sebelum dan sesudah gempa terjadi," katanya dikutip dari Nature.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |