Kisah Kejatuhan Para Presiden Korea Selatan: Pemakzulan, Kudeta, hingga Pembunuhan

7 hours ago 12

MAHKAMAH Konstitusi telah memutuskan untuk memecat Yoon Suk Yeol sebagai presiden Korea Selatan, Jumat, 4 April 2025. Dalam keputusan 8-0, Mahkamah Konstitusi menyimpulkan bahwa Yoon Suk Yeol telah melakukan "pelanggaran berat" dengan memberlakukan darurat militer pada 3 Desember, sebuah standar yang telah menentukan nasib mantan presiden dalam kasus-kasus pemakzulan sebelumnya, seperti dilaporkan The Korea Herald.

Putusan tersebut menyatakan bahwa penyalahgunaan kekuasaan oleh Yoon dalam mengumumkan darurat militer dan tindakan lainnya "merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip pemerintahan yang demokratis dan supremasi hukum."

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Namun, Yoon bukan presiden Korea Selatan pertama yang melihat pemerintahannya jatuh ke dalam kemarahan dan skandal. Berikut ini adalah fakta-fakta tentang kejatuhan para pemimpin Korea Selatan sebelumnya:

Park Geun Hye: Dimakzulkan dan Dipenjara

Park Geun-Hye diberhentikan oleh pengadilan tertinggi negara tersebut pada Jumat, 10 Maret 2017 ketika pengadilan itu mengonfirmasi pemakzulan Hye oleh parlemen atas skandal korupsi. Keputusan tersebut menjadi puncak dari kekacauan politik Korea Selatan dan memicu pemilihan presiden baru, yang akan dilaksanakan dalam waktu 60 hari, Antara melaporkan.

Dengan begitu Park, presiden perempuan pertama negara tersebut, menjadi pemimpin pertama yang diberhentikan dengan cara dimakzulkan. Dia wajib meninggalkan Gedung Biru dan kehilangan impunitas dalam kasusnya. Park dijatuhi hukuman penjara 24 tahun karena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan pada April 2018.

Lee Myung-bak: Dipenjara

Lee Myung-bak, yang menjabat sebagai presiden antara tahun 2008 dan 2013, dihukum karena penyuapan dan penggelapan pada 2018. Sebelum menjabat sebagai presiden, Lee pernah menjadi kepala eksekutif Hyundai Engineering and Construction. Ia dituduh membuat kebijakan yang didukung oleh kesuksesan bisnisnya, termasuk bahwa ia telah menerima suap dari perusahaan besar termasuk Samsung dan menggelapkan dana di salah satu perusahaannya.

Al Jazeera melansir, Mahkamah Agung Korea Selatan menguatkan hukuman 17 tahun penjara untuk Lee pada bulan Oktober 2020, mengirimnya kembali ke penjara setelah pengadilan yang lebih rendah mengabulkan pembebasannya dengan jaminan.

Pada Desember 2022, Lee yang saat itu berusia 81 tahun diampuni oleh Presiden Yoon Suk Yeol yang tak tega melihat Lee dipenjara di usia yang sudah tua.

Roh Moo-hyun: Bunuh Diri

Pagi, 23 Mei 2009, publik Korea Selatan dikejutkan dengan berita kematian: Mantan Presiden Roh Moo-hyun meninggal dunia setelah menjatuhkan diri dari tebing di dekat rumah pensiunannya di Desa Bongha, Gimhae, Provinsi Gyeongsang Selatan, The Korea Herald melaporkan.

Roh, yang saat itu berusia 62 tahun, telah diselidiki atas tuduhan korupsi yang dilakukan oleh anggota keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada bukti konklusif yang menunjukkan bahwa Roh terlibat dalam pelanggaran apa pun. Namun, tuduhan itu telah merusak reputasi Roh, yang aset politik nomor satunya adalah citranya yang sederhana dan rendah hati.

Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo: Dipenjara

Dilansir The Korea Times, mantan Presiden Roh Tae-woo, Chun Doo-hwan, Park Geun-hye dan Lee Myung-bak dihukum dan dipenjara, semuanya ditangkap dan diselidiki setelah meninggalkan jabatannya.

Roh adalah presiden pertama, baik yang sedang menjabat maupun tidak, yang ditangkap dalam sejarah negara itu. Dia ditahan pada 16 November 1995, atas tuduhan menerima 283,8 miliar won ($19,45 juta) dalam bentuk suap dari para pemimpin bisnis selama masa kepresidenannya.

Roh dijatuhi hukuman 22,5 tahun penjara, dikurangi menjadi 17 tahun, sementara Chun dijatuhi hukuman mati, diubah menjadi penjara seumur hidup. Mereka kemudian mendapatkan amnesti pada tahun 1998 setelah menghabiskan hanya dua tahun di balik jeruji besi.

Setelah penangkapan Roh, Presiden Kim Young-sam saat itu memberlakukan undang-undang khusus untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab atas kudeta militer dan penindasan dengan kekerasan terhadap Gerakan Demokratisasi Gwangju pada tanggal 18 Mei.

Sebuah tim investigasi khusus dibentuk di Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Seoul. Pada 3 Desember di tahun yang sama, 17 hari setelah penangkapan Roh, Chun dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Anyang dengan tuduhan terkait pemberontakan militer 12 Desember dan penciptaan dana gelap.

Pada 17 April 1997, Chun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, dan Roh dijatuhi hukuman 17 tahun penjara. Roh dan Chun diampuni oleh Presiden Kim pada 22 Desember 1997 - pada tahun yang sama saat mereka dijatuhi hukuman. Roh menjalani hukuman penjara selama 767 hari, sementara Chun menghabiskan 750 hari di balik jeruji besi. Keduanya meninggal pada 2021.

Park Chung-hee: Dibunuh

Park Chung-hee, mantan jenderal Angkatan Darat yang merebut kekuasaan dalam kudeta militer pada 16 Mei 1961, adalah orang kuat militer yang memerintah negara itu selama 17 tahun. Dia adalah salah satu presiden paling populer dalam sejarah negara itu dan tokoh yang sangat memecah belah karena pemerintahannya yang bertangan besi di Korea, dilansir The Korea Herald.

Park Chung-hee dibunuh pada Oktober 1979 oleh kepala mata-matanya sendiri dalam sebuah acara makan malam pribadi. Peristiwa malam itu telah lama menjadi bahan perdebatan sengit di Korea Selatan, terutama mengenai apakah pembunuhan itu direncanakan.

Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo adalah jenderal angkatan darat pada saat itu dan mengambil keuntungan dari kekacauan politik untuk merencanakan kudeta pada bulan Desember 1979.

Yun Po-su: Dikudeta

Presiden Yun Po-sun digulingkan pada 1961 oleh kudeta yang dipimpin oleh perwira militer Park Chung-hee. Park mempertahankan Yun di jabatannya namun secara efektif mengambil alih kendali pemerintahan, dan kemudian menggantinya setelah memenangkan pemilihan umum pada 1963.

Syngman Rhee: Diasingkan

Pada 1948, Syngman Rhee menjadi presiden pertama Republik Korea, jabatan yang berlangsung hingga tahun 1960. Selama masa kepresidenannya, ia membersihkan anggota Majelis Nasional yang menentang kediktatorannya dan mengeksekusi pemimpin Cho Bong Am karena pengkhianatan.

Pada 27 April 1960, masa kepresidenannya berakhir dengan pengunduran diri. Setelah Pemberontakan 19 April, ia diasingkan ke Honolulu, Hawaii dan menghabiskan sisa hidupnya di sana sampai kematiannya pada tahun 1965.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |